Bahan Diskusi Luk. 9:23: Arti Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus

Versi Terjemahan Baru LAI:

Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Versi Terjemahan Bahasa Indonesia Masa Kini LAI:

Kemudian Yesus berkata kepada semua orang yang ada di situ, “Orang yang mau mengikuti Aku, harus melupakan kepentingannya sendiri, memikul salibnya tiap-tiap hari, dan terus mengikuti Aku.”

Tema utama: seorang yang mau menjadi pengikut Kristus harus berani berkata “TIDAK” pada diri dan ambisinya sendiri dan mengikut Kristus, bahkan sampai pada tahap “siap mati” setiap hari demi melakukannya.

Konteks:

Setelah mendapatkan pengakuan dari Petrus bahwa Dia adalah Mesias, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk. 9:22). Jika Tuhan Yesus mengalami penderitaan seperti itu, maka para orang-orang yang mengaku menjadi pengikut-Nya juga jangan kaget kalau mengalami penderitaan karena imannya. Inilah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus pada waktu Dia berkata, “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya” (Luk. 6:40).

Mengapa orang Kristen bisa menderita karena imannya? Jika orang Kristen sungguh-sungguh menjalankan apa yang menjadi agenda Allah, maka hal itu bertentangan dengan sistem dunia yang sudah jatih dalam dosa. Iblis akan menjadi lawannya. Semakin orang Kristen hidup benar berdasarkan tuntunan Alkitab, maka kemungkinan besar dia akan semakin mengalami tekanan dalam kehidupannya. Misalnya, orang Kristen yang tidak mau ikut korupsi di lingkungan yang menghalalkan segala cara, kemungkinan akan dimusuhi rekan-rekannya.

Pembahasan:

Menyangkal diri. Dasar dari penyangkalan diri adalah pemahaman bahwa keselamatan hanya berasal dari Tuhan, tidak bisa dilakukan dengan cara sendiri. Setelah diselamatkan, orang-orang Kristen memahami bahwa Tuhanlah yang menjadi penguasa (tuan) di dalam kehidupan mereka. Oleh sebab itu, mereka tidak melakukan apa yang menjadi keinginan dirinya sendiri, tetapi keinginan Tuhan. Versi BIMK menerjemahkan dengan frasa “melupakan kepentingannya sendiri.” Orang-orang Kristen harus mengesampingkan apa yang menjadi kepentingannya sendiri demi mengarahkan kehidupannya pada apa yang menjadi kepentingan Kerajaan Allah. 

Contoh: secara manusia, sangat mudah bagi seorang pelayan gereja untuk merasa tersinggung ketika mendapat kritikan dari rekan pelayan lain yang tidak memiliki kekayaan atau kedudukan setinggi dirinya. Namun demikian, jika dia orang Kristen yang sungguh-sungguh, maka dia akan melupakan statusnya itu, karena semua orang sama derajatnya di mata Allah, dan menerima kritikan tersebut dengan penuh kasih.

Salah satu adegan dalam film The Passion of the Christ (sumber: http://www.fministry.com/2012/03/taking-up-our-cross-daily.html)

Memikul salib. Pada zaman Romawi, seseorang yang dijauhi hukuman salib akan dipaksa untuk memikul sendiri salibnya dari tempat dia dijatuhi hukuman sampai ke tempat penyaliban. Dengan cara demikian dipertontonkan bahwa dia telah berrsalah pada negara dan tunduk pada negara, yang telah menjatuhkan hukuman mati pada mereka.

Gambaran ini digunakan oleh Lukas untuk menyatakan bahwa orang Kristen harus menjalani hidup seolah-olah telah dijatuhi “hukuman mati,” yaitu mati terhadap nilai-nilai dunia yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan tunduk pada nilai-nilai dalam Kerajaan Allah. Apa yang orang-orang Kristen lakukan harus selaras dengan apa yang dikehendaki Allah. Sebagaimana orang-orang yang dijatuhi hukuman mati pada masa itu, orang-orang Kristen juga harus rela kehilangan harta benda dan nama baiknya. Dan jika kita membaca ayat-ayat selanjutnya, mati di sini pun berarti siap mati secara fisik demi menjadi pengikut Tuhan.

Contoh: orang-orang Kristen tidak akan mempunyai ambisi lagi untuk mendapatkan kekayaan dan nama besar demi kepentingannya sendiri. Keduanya tetap bisa mereka raih, namun dengan cara yang memuliakan Tuhan dan juga digunakan untuk melayani Tuhan.

Lukas menuliskan bahwa menyangkal diri dan memikul salib ini harus siap kita lakukan setiap hari. Dengan cara itulah, berita tentang keselamatan di dalam Kristus akan menyebar ke dalam dunia.

Mengikut Aku. Jika ditinjau dari segi bahasa Yunani Koine, mengikut di sini menggunakan kala kini (present tense-form), berbeda dengan menyangkal diri dan memikul salib yang menggunakan kala aorist. Dengan ini, Lukas ingin menekankan bahwa mengikut Yesus merupakan proses yang terus menerus, seperti terjemahan BIMK, “terus mengikuti Aku.” Mengikut Tuhan bukan sekadar komitmen yang dilakukan sekali saja, namun dilakukan seumur hidup.

Menjadi murid Tuhan Yesus berarti harus melakukan ketiga hal ini. Menyangkal diri (mengesampingkan identitas duniawi dan fokus pada identitas sebagai pengikut Tuhan) dan memikul salib (mati terhadap ambisi duniawi dan mengarahkan pada keinginan Tuhan) setiap hari harus menjadi komitmen orang-orang yang mau mengikut Kristus. Walaupun secara duniawi mungkin akan mengalami kerugian, tetapi para pengikut Kristus percaya bahwa dengan itu justru mereka akan menikmati hal yang lebih besar lagi di surga. Bahkan jika dengan menjadi pengikut Kristus mereka harus sampai kehilangan nyawa pun, itu bukan merupakan kerugian karena “barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 9:24).

Pertanyaan-Pertanyaan Diskusi:

1.Apakah orang Kristen harus hidup menderita dan tidak boleh merasakan kenikmatan?

Panduan Diskusi: 1) Allah adalah Pribadi yang Mahabaik sehingga tidak mungkin menghendaki anak-anak-Nya menderita. Jika anak-anak-Nya mengalami penderitaan, berarti ada sesuatu hal yang baik yang sedang dirancang Allah di dalamnya (Rm. 8:28).

Prinsipnya, kita harus dilahirbarukan oleh Roh Kudus. Dengan mengalami lahir baru dan bertakhtanya Roh Kudus di dalam hati kita, maka apa yang menjadi kehendak kita akan selaras dengan apa yang menjadi kehendak Allah. Contoh: orang Kristen tidak akan merasakan damai sejahtera dengan mengambil apa yang bukan haknya, walaupun itu sangat nikmat menurut pandangan dunia. Inilah sukacita Kristen yang sejati.

2. Apakah kalau orang Kristen menderita, berarti dia sedang menyangkal diri dan memikul salib?

Panduan diskusi: Tidak semua penderitaan mempunyai makna seperti itu. Hanya penderitaan yang terjadi karena mengikut Tuhanlah yang termasuk dalam menyangkal diri atau memikul salib. Misalnya: putus dengan pacar yang sangat disayangi belum tentu “pikul salib,” karena penyebab putusnya bisa bermacam-macam: tidak cocok, egois, atau ada orang ketiga. Tetapi jika putus dengan pacar yang tidak seiman, berarti dia sedang “pikul salib” karena menyerahkan ambisi duniawi demi menjalankan kehendak Tuhan dengan memilih pasangan yang “seimbang,” seperti perintah: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya” (2Kor. 6:14).

3. Apakah mengikut Yesus adalah hal yang mudah?

Panduan diskusi: Berdasar ayat ini, mengikut Yesus jelas bukan hal yang mudah. Menjadi pengikut Yesus bukan sekadar dibaptis atau setia melayani Tuhan di gereja. Tetapi, mengikut Yesus harus siap kehilangan segala-galanya: keinginan diri, harta, dan bahkan nyawa! (baca: Luk. 9:24-25). Namun demikian, mengikut Yesus adalah hal yang indah dan penuh sukacita (seperti apa yang dialami oleh para rasul, yang penuh sukacita walaupun menghadapi berbagai penderitaan).

Kuncinya, kita harus dilahirbarukan oleh Roh Kudus, sehingga bisa membedakan mana kehendak Allah yang menuntun kita pada “kehidupan” atau nafsu yang menuntun kita pada “kematian.” Roh Kudus akan mengubah cara pandang kita sehingga fokus kita ada pada pengharapan akan kemuliaan kekal di surga dan bukannya kesenangan sesaat di dunia.

4.Perintah ini begitu berat, mungkinkah ini hanya ditujukan bagi para pengikut Kristus “tingkat tinggi” (misalnya, para rasul, misionaris, pendeta, dan sebagainya)?

Panduan Diskusi: Lukas memberikan konteks bahwa perintah ini ditujukan bagi semua orang yang mau menjadi pengikut Kristus. Matius menuliskan, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38). Artinya, kita tidak bisa hanya mengaku percaya pada Kristus tetapi tanpa menjadi pengikut Kristus yang sungguh-sungguh.

Walaupun demikian, pertumbuhan rohani adalah suatu proses. Kebanyakan orang Kristen tidak selalu bisa langsung “berkorban besar” (misalnya menjadi martir atau rela menyisihkan sebagian besar harta untuk pekerjaan Tuhan) tanpa melalui proses “berkorban kecil” terlebih dulu dengan setia. Kita dapat melihat pertumbuhan seperti ini di dalam diri banyak tokoh Alkitab. Misalnya, Petrus pun pernah menyangkal Tuhan Yesus. Tetapi setelah dipulihkan, dia akhirnya menjadi saksi Kristus yang sangat setia sampai akhir hidupnya.

Langkah praktisnya, kita bisa belajar untuk menjadi pengikut Kristus yang sungguh-sungguh melalui hal-hal kecil di sekitar kita: membuang rasa malas dalam pelayanan, menyisihkan yang terbaik dan yang pertama bagi Tuhan (bukan mempersembahkan yang sisa-sisa), berani dicap “sok suci” ketika menolak ajakan teman untuk menikmati pornografi, mengabarkan kasih Tuhan kepada saudara terdekat kita, dan sebagainya. Jika kita melakukannya dengan setia, maka semakin hari kita akan terdorong untuk mempersembahkan hal yang lebih besar lagi bagi Tuhan.

Referensi:

Bock, Darrell L. Luke 1:1-9:50. BECNT. Grand Rapids: Baker Academic, 1994.

Green, Joel B. The Gospel of Luke. NICNT. Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1997.

Marshall, I Howard. Commentary on Luke. NIGTC. Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1978.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *