Mengenal Denominasi Kristen

Kata denominasi berasal dari bahasa latin, denominare, yang berarti “memberi nama.” Denominasi Kristen adalah sebuah kelompok di dalam Kekristenan yang ditandai dengan pembedaan nama, organisasi, kepemimpinan, serta doktrin. Penyebab munculnya denominasi antara lain: besarnya wilayah Kekristenan, pengaruh filsafat duniawi, ketidaktegasan ajaran, serta motivasi-motivasi individu.

Kita harus membedakan antara denominasi (kelompok di dalam Kristen), sekte (kelompok yang mengaku Kristen namun menolak satu atau lebih iman Kristen yang dasar, misalnya Saksi Yehuwa yang menolak ketuhanan Kristus), serta agama di luar Kristen (kelompok yang benar-benar terpisah dari Kristen, seperti Hindu dan Islam).

Sejarah Singkat Timbulnya Denominasi

Di dalam Alkitab, tidak ada satu ayat pun di mana Tuhan memerintahkan adanya denominasi. Bahkan, Tuhan Yesus mendoakan gereja untuk menjadi satu, “21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu” (Yohanes 17:21-22). Karena itu, pada masa rasul-rasul, gereja tersebar menjadi jemaat-jemaat lokal (misal: jemaat Korintus, Efesus, Roma) namun belum terbentuk adanya denominasi.

Selama sekitar 1000 tahun pertama, gereja tersebar dalam berbagai wilayah Kekristenan yang mandiri namun saling bekerja sama. Ada lima wilayah besar Kekristenan, yaitu: Aleksandria, Antiokhia, Konstantinopel, Yerusalem (Kekristenan bagian timur yang berbahasa Yunani), serta Roma (Kekristenan bagian barat yang berbahasa Latin).

Perpecahan besar pertama di dalam Kekristenan terjadi pada tahun 1054, yang dikenal sebagai “The Great Schism.” Peristiwa ini mengakibatkan terpisahnya gereja menjadi Gereja Barat (Katolik Roma) dan Gereja Timur (Orthodoks Timur). Sampai sekarang, kedua gereja ini menganggap dirinya sebagai gereja yang satu, kudus, dan am (universal).

Perpecahan besar kedua terjadi setelah Martin Luther mengeluarkan 95 dalil pada tanggal 31 Oktober 1517 yang mengakibatkan Gereja Barat terpecah lagi menjadi Katolik Roma dan Protestan. Peristiwa ini dikenal sebagai Reformasi (yang akan diperingati 500 tahunnya pada tahun 2017 ini). Sampai saat ini, denominasi baru terus lahir dan hingga tahun 2007 saja tercatat ada 39.000 denominasi di seluruh dunia.

Denominasi Utama Protestan Masa Kini

Anabaptist

Gereja ini berkembang selama era reformasi, terutama di Swiss dan Belanda. Berdirinya gereja diawali oleh sekelompok orang yang menolak praktek baptisan anak yang dilakukan oleh Ulrich Zwingli. Menno Simons (1496-1561) kemudian muncul sebagai pemimpin gerakan ini (sehingga disebut juga sebagai gerakan Mennonite) dan para pengikutnya pada umumnya mengakui Pengakuan Iman Dordrecht (1632). Para pengikut Mennonite merupakan orang-orang yang sangat cinta damai sehingga menolak segala bentuk kekerasan (termasuk perang).

Kemudian, seorang bishop Swiss yang bernama Jakob Amman (1656-1730) memisahkan diri dari gereja Mennonite dan membentuk aliran Mennonite yang dikenal sebagai Amish. Beberapa pengikut Amish pindah ke Amerika Serikat untuk membentuk sebuah komunitas tersendiri yang menolak gaya hidup modern, seperti mobil dan listrik.

Gereja Mennonite di Indonesia: Gereja Kristen Muria di Indonesia (GKMI), Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ), Jemaat Kristen Indonesia (JKI).

Anglican

Gereja ini terdiri dari orang-orang yang mengikuti tradisi Church of England. Di beberapa negara, gereja ini dikenal sebagai gereja episkopal (bishop). Mereka menganggap bahwa Church of England sebagai gereja induk dan Archbishop of Canterbury sebagai kepalanya (hanya secara simbolis).

Gereja ini memisahkan diri dari gereja Katolik Roma di Inggris sebagai keputusan dari raja Henry VIII (1491-1574). Jadi, pemisahannya sebenarnya bukan berdasarkan perbedaan doktrin, namun lebih ke arah kekuasaan antara gereja dan negara. Pada masa kini, para pengikut Anglikan menganggap mereka sebagai “tengah-tengah” (via media) antara Katolik dan Protestan. Misalnya, mereka masih mempercayai tradisi kerasulan dari Katolik (bukan Paus, tetapi Archbishop of Canterbury). Namun seperti halnya Protestan, mereka menolak otoritas mutlak dari Paus.

Gereja Anglikan di Indonesia: di Jln. Arif Rahman Hakim (Jakarta) dan di Jln. Diponegoro (Surabaya).

Baptist

Gereja ini diawali oleh kaum separatis di Inggris yang tidak puas dengan ajaran dan praktek gereja Anglikan yang memposisikan diri dalam pemerintahan Inggris sebagai sebagai Gereja Negara. Gereja Baptis pertama didirikan di Amsterdam oleh John Smyth pada tahun 1609. Para pengikut gereja ini menekankan baptisan (baptis selam, bukan baptis percik) sebagai pengakuan iman. Bayi tidak dibaptis, melainkan hanya didedikasikan kepada Kristus dalam sebuah upacara. Setelah dewasa, mereka baru menerima baptisan.

Gereja-gereja Baptis kebanyakan bersifat independen, namun tergabung dalam Southern Baptist Convention (di Amerika Serikat). Masing-masing gereja lokal mempunyai otonomi dalam hal doktrin, sehingga terdapat perbedaan ajaran di dalamnya, misalnya: Calvinisme/Armenianisme serta jabatan kependetaan wanita. Salah satu tokoh Baptis yang terkenal adalah Martin Luther King (1929-1968), seorang pejuang hak-hak sipil Amerika Serikat.

Gereja Baptist di Indonesia: Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua (PGBP), Gereja Baptist Independen di Indonesia (GBII), Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI).

Congregational

Gereja ini menekankan otonomi gereja lokal dalam mengatur urusannya masing-masing. Pertama kali didirikan oleh Robert Browne berdasar prinsip kongregasi pada tahun 1582, setelah kekecewaannya dengan Church of England. Beberapa orang bahkan menginginkan untuk betul-betul memisahkan diri dengan Church of England sampai harus berlayar ke Amerika Serikat pada tahun 1620.

Lutheran

Gereja ini berdiri sejak Pengakuan Iman Augsburg (1530) sebagai “persekutuan orang-orang percaya di mana Injil diberitakan dan sakramen suci (baptisan dan perjamuan kudus) dilakukan berdasarkan Injil.” Martin Luther mempercayai doktrin consubstation (kehadiran Kristus melingkupi roti dan anggur dalam perjamuan kudus), yang berbeda dengan doktrin transubstation (roti dan anggur benar-benar berubah menjadi tubuh dan darah Kristus dalam perjamuan kudus) yang diajarkan oleh Katolik Roma.

Gereja Lutheran di Indonesia: Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Huria Kristen Indonesia (HKI), Gereja Kristen Luther Indonesia (GKLI).

Methodist

Gereja ini diawali oleh John Wesley (1703-1791) dan Charles Wesley (1707-1788). Pada awalnya, mereka berdua adalah pendeta Church of England, namun memisahkan diri pada tahun 1795. Nama “methodist” dipakai karena di dalam gereja ini ditekankan adanya “metode-metode” untuk pertumbuhan rohani. Sepanjang hidupnya, John Wesley menempuh perjalanan sejauh 250.000 mil dan berkhotbah lebih dari 40.000 kali.

Dasar teologis dari gereja ini adalah Armenianisme  yang, berlawanan dengan Calvinisme, menekankan pada kehendak bebas manusia untuk menerima/menolak Kristus dan mempercayai bahwa keselamatan seseorang bisa hilang. Wesley juga menekankan doktrin kekudusan, disebut juga “anugerah kedua.” Penekanan dari doktrin ini adalah penyempurnaan yang didapat oleh orang-orang percaya setelah menerima Kristus dengan diperlengkapi oleh hati yang murni yang bebas dari pikiran dan motif dosa.

Ajaran Methodis dapat diringkas menjadi “four alls”: 1) All need to be saved (the doctrine of original sin) 2) All can be saved (universal salvation) 3) All can know they are saved (assurance) 4) All can be saved completely (Christian perfection).

Pada tahun 1865, William Booth (1829-1912) mendirikan Salvation Army (Bala Keselamatan), yang hingga hari ini mengerjakan pekerjaan sosial dan penginjilan di seluruh dunia.

Gereja Methodis di Indonesia: Gereja Methodist Indonesia (GMI)

Pentecostal

Sesuai dengan namanya, gereja Pentakosta menekankan pada manifestasi karunia (Yun. charismata) Roh Kudus yang dicurahkan pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2; 1Korintus 12:4-11). Karunia Roh Kudus yang paling terlihat adalah bahasa roh (Yun. Glossolalia). Karunia berbahasa roh ini dianggap sebagai salah satu tanda dari baptisan Roh Kudus. Fungsinya sebagai karya pengudusan, yang memperkuat relasi orang-orang percaya dengan Kristus dan memampukan mereka untuk melayani Dia dengan lebih efektif.

Akar dari Pentakostalisme adalah “gerakan kekudusan” sebagai karya Roh Kudus dalam diri orang-orang percaya, yang dikembangkan oleh John Wesley dalam gereja Methodis. Walaupun demikian, Pentakostalisme modern dimulai pada tahun 1901, ketika Agnez Osman (1870-1937) menerima karunia berbahasa roh dalam sebuah persekutuan doa.

Kemudian, dalam sebuah misi yang dipimpin oleh William J. Seymour pada tahun 1906 di Azusa Street, Los Angeles, terjadi sebuah kebangunan (revival) dan menjadi awal Pentakostalisme modern. Semua orang yang tergabung di dalam misi tersebut menerima karunia berbahasa roh.

Setelah itu, ada “Gerakan Pentakostal baru,” atau yang lebih dikenal dengan gerakan Kharismatik. Gerakan ini dipelopori oleh sebuah organisasi pengusaha Kristen yang bernama The Full Gospel Business Men’s Fellowship (FGBMF) yang dibentuk oleh Demos Shakarian, seorang pengusaha di California.

Gerakan ini memiliki ciri-ciri khas Pentakostalisme yang pada awalnya bersifat antardenominasi di dalam gereja-gereja Protestan dan Katolik. Kemudian banyak pengikut gerakan Kharismatik yang akhirnya memisahkan diri dan membentuk gereja-gereja baru.

Gereja Pentakosta/Kharismatik di Indonesia: Gereja Pusat Pantekosta di Indonesia (GPPI), Gereja Mawar Sharon (GMS), Gereja Bethany Indonesia, Gereja Tiberias Indonesia (GTI Tiberias), Gereja Bethel Tabernakel (GBT), Gereja Duta Injil, Gereja Kemenangan Iman Indonesia (GKII), Gereja Jemaat Kristen Indonesia (GJKI).

Quaker

Pendiri gereja ini adalah George Fox (1624-1691), yang mengembangkan ajaran yang dikenal sebagai “Inner Light”/”Christ Within” (perasaan akan kehadiran Tuhan yang bisa dikembangkan manusia, seringkali melalui masa-masa kesunyian).

Para pengikut Quaker adalah pasifis dan hidup dalam kesederhanaan, kebenaran, dan keikhlasan. Karena itulah, salah satu perusahaan makanan instan menjadikan Quaker sebagai simbol kualitas mutunya. Pertemuan ibadah mereka sering dilakukan dalam kesunyian, sampai salah seorang digerakkan oleh Roh Kudus untuk berkata-kata. Mereka sangat aktif dalam pekerjaan sosial dan pendidikan.

Gereja Quaker di Indonesia: Gereja Sahabat di Indonesia (GSI).

Reformed

Gereja ini pada umumnya memegang pandangan Ulrich Zwingli dan John Calvin. Berbeda dengan gereja Lutheran yang mengangkat para bishop (Yun. episcopoi), gereja Reformed biasanya mengangkat penatua (Yun. persbyteroi) untuk menjalankan pemerintahan gereja. Para penatua tersebut melayani bersama-sama di bawah otoritas sidang jemaat (tata pemerintahan gereja ini disebut sebagai presbiterian).

Secara umum, teologi John Calvin dapat diringkas menjadi lima poin (TULIP), yaitu:

  • Total depravity of man– natur manusia rusak secara total setelah kejatuhan
  • Unconditional election– pemilihan orang yang diselamatkan murni merupakan karya Tuhan
  • Limited atonement– penebusan dosa melalui kematian Kristus hanya berlaku bagi dosa orang-orang yagn percaya kepada-Nya
  • Irresistible grace– panggilan Roh Kudus kepada orang yang akan diselamatkan tidak bisa ditolak
  • Perseverance of the saints– mereka yang dipilih Tuhan untuk diselamatkan, akan bertahan dalam iman sampai pada akhir hidupnya.

Gereja Reformed di Indonesia: Gereja Injili Indonesia (GII), Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Gereja Kristus Tuhan (GKT), Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK), Gereja Kristus Yesus (GKY).

(dirangkum dari berbagai sumber)

 

Sikap yang Benar Terhadap Denominasi

Kita tidak boleh mengabaikan denominasi ataupun memisahkan diri dari gereja dan beribadah seenaknya sendiri. Kita harus tergabung dalam gereja di mana Injil diberitakan dan sebagai pribadi dapat mengalami persekutuan dengan Tuhan serta melayani dengan cara yang alkitabiah dan memuliakan Tuhan. Sebagai orang percaya, ada doktrin-doktrin dasar yang harus kita pegang teguh, namun di luar itu ada kebebasan mengenai cara kita kita beribadah dan melayani. Di sinilah seharusnya letak perbedaan dari denominasi, sehingga denominasi-denominasi yang ada seharusnya merupakan sebuah keragaman dan bukan perpecahan (sumber: gotquestions.org).

 

Dua Tanda Gereja yang Benar

  1. Firman Tuhan diberitakan di dalam gereja tersebut. Hal ini menyangkut doktrin-doktrin dasar Kekristenan, seperti pengakuan terhadap otoritas PL dan PB, ketuhanan Kristus, keselamatan hanya di dalam Kristus dan bukan melalui perbuatan baik.
  2. Sakramen (baptis dan perjamuan kudus) dilakukan dengan benar di dalam gereja tersebut. Kedua sakramen tersebut harus dilakukan berdasarkan pandangan yang alkitabiah.

Selain itu, gereja tersebut harus menjalankan fungsi sebagai gereja, seperti ibadah dan persekutuan doa.

(sumber: Systematic Theology, Wayne Grudem).

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Jika Tuhan menghendaki gereja untuk “menjadi satu,” apakah timbulnya denominasi merupakan suatu dosa? Mengapa demikian?
  2. Apa keuntungan adanya denominasi? Apa kerugiannya?
  3. Bolehkah orang Kristen berpindah-pindah gereja? Mengapa demikian?

11 Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. 12 Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. 13 Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus? (1Korintus 1:11-13)

Updated: June 5, 2019 — 10:03 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *