Bahan Seminar: Pandangan Alkitab Terhadap Fenomena LGBT dan Homoseksualitas

Pendahuluan

Lambang LGBT yang populer sejak tahun 1979 (By Guanaco and subsequent editors – SVG source (version of 17:56, 30 Sep 2011), Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=479191)

LGBT (dalam artikel ini disebut dengan LGBT+, untuk mencakup semua perkembangan penyimpangan yang berkaitan dengan gender, seperti intersex, queer, dan sebagainya) merupakan fenomena yang semakin meluas di kalangan masyarakat. Semakin banyak negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis (same-sex marriage), dimulai dari Belanda (2000), Belgia (2003), Kanada dan Spanyol (2005), Amerika Serikat (2015), sampai Australia (2017). Sampai saat ini (Juni 2019), ada 30 negara yang telah melegalkan pernikahan sesama jenis. Bahkan pada bulan Mei 2019, Taiwan menjadi negara Asia pertama yang melegalkannya.

Tidak hanya masyarakat “sekuler,” fenomena LGBT+ pun sudah merambah ke gereja-gereja. Berbagai gereja di dunia, dari berbagai denominasi, terus mendukung LGBT+ dan bahkan memberkati pernikahan sejenis (daftarnya dapat dilihat di sini). Bukan tidak mungkin, fenomena seperti ini kelak akan terjadi di Indonesia.

Hubungan yang Tidak Sehat Antara Gereja dengan Orang-Orang LGBT+

Bagaimana sikap orang Kristen terhadap fenomena LGBT+? Saya mendapati minimal ada dua ekstrim yang keliru. Pertama, sebagian orang Kristen terlalu permisif terhadap fenomena LGBT+. Tidak hanya membiarkan, mereka malah mendukung orang-orang yang melakukan praktik LGBT+. Jika ini yang terjadi, maka Gereja sudah kehilangan fungsinya sebagai garam dan terang dunia.

Ekstrim yang kedua, sebagian orang Kristen menghakimi orang-orang LGBT+ secara berlebihan. Orang-orang Kristen seperti ini merendahkan dan menutup pintu rapat-rapat terhadap kehadiran orang-orang LGBT+. Akibatnya, masyarakat dan orang-orang LGBT+ semakin antipati terhadap Kekristenan. ORang-orang LGBT+ semakin terjerumus ke dalam lingkungan pergaulan mereka, karena hanya lingkungan seperti itu yang masih mau menerima mereka.

Untuk menghindari kekeliruan semacam ini, sangat penting bagi kita untuk menyelidiki tinjauan Alkitab terhadap LGBT+ dan bagaimana orang Kristen harus menyikapinya. Beberapa pertanyaan mendasar adalah: “Apakah LGBT+ itu dosa?”, “Jika dosa, apakah dapat diampuni?”, “Bagaimana sikap yang tepat dalam menjangkau orang-orang LGBT+?” Ulasan yang akan mengarah pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan saya sajikan secara sederhana dan ringkas dalam artikel ini.

Pernyataan Tuhan Yesus Tentang Kodrat Seksualitas Manusia

Sebagai seorang yang mengakui Yesus sebagai Tuhan, maka kita pun sudah seharusnya mengimani apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Pun berkaitan dengan LGBT+. Kita jangan buru-buru meninjaunya hanya dari sisi budaya masa kini saja, karena suatu saat bisa berubah. Tetapi, kita harus meninjaunya dari kebenaran yang kekal, yaitu kebenaran Allah yang dinyatakan dalam diri Tuhan Yesus.

Ketika orang-orang Farisi mencobai Tuhan Yesus berkaitan dengan perceraian, Dia mengutip salah satu bagian dari Perjanjian Lama: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” (Mat. 19:4). Jelas di sini Tuhan Yesus menegaskan bahwa sejak semula, Allah menciptakan hanya ada dua gender, yaitu laki-laki dan perempuan.

Lalu mengapa bisa terjadi penyimpangan? Ada orang yang secara fisik laki-laki tetapi berjiwa perempuan dan tertarik kepada laki-laki lainnya, dan sebaliknya. Lebih jauh lagi, dia pun (maaf) melakukan hubungan sesama jenis. Kita harus menelitinya lebih jauh ke belakang, yaitu dalam kisah Penciptaan dan Kejatuhan pada Kej. 1-3.

Narasi Alkitab: Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan

Perhatikan firman Allah berikut ketika Dia menciptakan manusia:

26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej. 1:26-28).

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, terbukti dengan tegas bahwa sejak semula Allah memang menciptakan laki-laki dan perempuan. Adam, yang diajar Allah bahwa dia tidak menemukan “teman hidupnya” di antara para hewan waktu dia menamai mereka, diberi penolong yang sepadan (Kej. 2:18). Penolong tersebut sama-sama manusia, tetapi sekaligus berbeda dengan dirinya. Saya bayangkan, Adam mempunyai tenaga yang kuat, lebih mementingkan pikiran, dan lebih dominan. Sementara Hawa lemah lembut, lebih memainkan perasaan, serta lebih pasif. Namun perbedaan yang paling penting adalah Adam seorang laki-laki sementara Hawa seorang perempuan. Perbedaan-perbedaan tersebut bukan memisahkan, tetapi justru saling melengkapi.

Laki-laki dan perempuan memang berbeda peran dan fungsinya, namun kedudukannya setara. Jadi, keliru kalau ada seorang suami yang bersifat otoriter berlebihan terhadap istrinya. Kemudian, istri yang terlalu dominan sehingga menjadikan suaminya takut kepadanya, juga menyalahi kodratnya sebagai penolong yang sepadan.

Mengapa harus ada laki-laki dan perempuan? Perhatikan ayat ke-28, di situ terdapat mandat Allah bagi manusia, yaitu: beranak cucu dan bertambah banyak, penuhi dan taklukkan bumi, serta berkuasa atas bumi. Kalau kita cermati, apakah mungkin mandat ini dikerjakan seorang diri saja, atau dikerjakan oleh salah satu gender saja, baik itu laki-laki atau perempuan? Mustahil. Perintah untuk beranak cucu saja sudah tidak mungkin dilakukan jika di dunia ini hanya ada laki-laki atau perempuan. Tuhan Yesus sendiri menjelaskan: “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging” (Mat. 19:5, mengutip Kej. 2:24).

Bayangkan juga, apa yang terjadi dengan spesies manusia di masa mendatang jika saat ini semua orang melakukan pernikahan sejenis? Tidak perlu menjadi orang Kristen untuk mengakui bahwa pernikahan sejenis sebenarnya membahayakan umat manusia itu sendiri. Oleh sebab itulah, rancangan Allah dengan adanya laki-laki dan perempuan merupakan rancangan yang paling alami dan paling baik bagi manusia. Di luar ini, berarti melanggar kehendak Allah, yang pada dasarny adalah dosa (“Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah“, 1Yoh. 3:4).

Narasi Alkitab: Kejatuhan dalam Dosa dan Akibat-Akibatnya

Namun demikian, manusia justru menentang apa yang Allah pandang baik. Mereka memilih untuk memberontak, alih-alih menaati perintah Allah untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Manusia pun jatuh dalam dosa (baca Kej. 3).

Kopi yang larut dan menghitamkan seluruh isi gelas (sumber gambar: tokopedia.com)

Apa akibatnya? Semua aspek dalam diri manusia tercemar. Tidak ada satupun yang masih murni dalam diri manusia. Ibaratnya, sesendok kopi dilarutkan dalam air segelas, maka seluruh bagian air tersebut akan berwarna pekat. Karena dosa, maka manusia tidak bisa lagi membedakan apa yang baik dan yang buruk. Kecemaran yang dialami oleh manusia ini pun meliputi penyimpangan dalam hal gender dan seksualitas, termasuk: poligami, perceraian, perzinahan, serta homoseksualitas. Dan kecemaran itu bisa terwujud dalam perbuatan yang sangat menjijikkan (contohnya, baca perbuatan noda di Gibea yang tercatat dalam Hak. 19).

 

Pandangan Alkitab Terhadap Praktik Homoseksualitas

Di dalam Perjanjian Baru pun, homoseksualitas masih mendapat perhatian, walaupun tidak secara khusus dibahas karena bukan menjadi topik utama orang-orang Kristen pada masa itu. Paulus menuliskan, “Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka” (Rm. 1:27). Jika kita mengikuti alur Rm. 1:19-32, Alkitab menyatakan bahwa homoseksualitas merupakan salah satu akibat (sekaligus bukti) dari penyangkalan manusia terhadap Allah.

Alkitab dengan tegas melarang praktik homoseksualitas. Salah satunya: “Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri” (Im. 20:13; bnd. 18:22). Bahkan dikatakan juga, “Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (1Kor. 6:9b-10; bnd. 1Tim 1:8-11). Sungguh berat konsekuensinya!

Jadi, homoseksualitas pada dasarnya bukan sekadar kecenderungan, pilihan, atau variasi, tetapi merupakan sebuah dosa yang sangat dibenci Allah.

Seberapa Buruk Dosa Praktik LGBT+?

Jika demikian, seberapa buruk dosa praktik LGBT+ itu? Kita mungkin pernah merasa risih ketika bergaul dengan orang-orang yang terlibat dalam LGBT+. Di mata masyarakat pun, mereka sering dipinggirkan. Bahkan mungkin juga, orang-orang seperti itu tidak mendapat tempat di gereja. Jemaat merasa tidak nyaman ketika orang-orang LGBT+ mulai ikut dalam ibadah.

Di dalam Yak. 2:10 tertulis: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Artinya, tidak ada dosa yang “dianggap ringan” oleh Tuhan. Semua dosa sama beratnya (walaupun dalam pandangan manusia, membunuh lebih berat dibanding berbohong). Jika kita memandang orang lain dengan hina karena dosa-dosa yang mereka lakukan, ingatlah bahwa kita tidak lebih suci dibanding mereka. Demikian pula orang-orang yang melakukan praktik LGBT+, dosanya tidak lebih buruk dibanding kita yang pernah berbohong, menyakiti hati orang lain, atau malas pelayanan. Paulus menasihati: “Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama” (Rm. 2:1).

Apakah Dosa Ini Dapat Diampuni?

Alkitab menyatakan bahwa tidak ada dosa yang tidak terjangkau oleh penebusan Kristus asalkan orangnya mau bertobat dan menerima Kristus. Perhatikan apa yang dinyatakan dalam 1Yoh. 1:9: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Di situ dinyatakan segala dosa, sehingga praktik LGBT+ pasti termasuk di dalamnya.

Kemudian setelah memaparkan dosa-dosa tertentu yang dilakukan oleh sebagian jemaat Korintus, termasuk homoseksualitas (dalam 1Kor. 6:9-10), Paulus melanjutkan, “Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1Kor. 6:11). Artinya, orang-orang seperti itupun tetap menerima pembenaran oleh Kristus setelah mereka bertobat.

Pembenaran dan Pengudusan yang Dialami oleh Orang-Orang LGBT+

Bagaimana dengan orang-orang LGBT+ yang mengaku telah bertobat, namun mereka masih tidak bisa melepaskan orientasi seksualnya? Kita harus membedakan antara pembenaran dengan pengudusan. Pembenaran (Rm. 3:24) merupakan keadaan yang dialami oleh orang-orang yang bertobat dan menerima Kristus. Seketika itu juga, dosa-dosa mereka dihapuskan dan kapan pun mereka mati, pasti akan menerima hidup kekal. Pembenaran terjadi sekali dalam seumur hidup.

Namun setelah dibenarkan, mereka masih harus menghadapi pergumulan dosa (walaupun orang-orang yang telah menerima Kristus tidak lagi hidup dalam dosa/terus-menerus secara sengaja menikmati dosa). Demikian juga orang-orang LGBT+ yang telah bertobat mungkin masih menyukai sesama jenis dan menghadapi godaan dari lingkungan yang dulu. Di sinilah mereka akan mengalami proses pengudusan (Flp. 2:13) yang dilakukan oleh Roh Kudus. Pengudusan ini berlangsung seumur hidup.

Pembenaran diterima sama oleh semua orang, dalam arti sama-sama dihapuskan seluruh dosanya. Tetapi proses pengudusan dialami secara berbeda. Ada orang-orang LGBT+ yang dipulihkan orientasi seksualnya, tetapi ada juga yang seumur hidupnya diizinkan Tuhan untuk tetap memiliki ketertarikan dengan sesama jenis. Jika sama-sama bertobat, maka sama-sama tetap akan memperoleh hidup kekal, walaupun yang satu terlihat lebih besar perubahan hidupnya.

Bedakan Antara Godaan dengan Praktik Dosa

Berkaitan dengan pembahasan tersebut, kita perlu membedakan antara godaan dengan praktik dosa. Allah tidak pernah menghukum manusia hanya karena mengalami godaan. Ingat, Tuhan Yesus pun digoda oleh Iblis. Tetapi apakah itu menjadikan Tuhan Yesus berdosa? Tidak. Alkitab menyatakan: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15). Demikian pula orang-orang LGBT+ yang bertobat, tidak akan dinyatakan berdosa hanya karena tidak bisa berubah untuk tertarik kepada lawan jenis.

Namun orang-orang LGBT+, bahkan yang mengaku sudah bertobat, akan dinyatakan berdosa apabila orientasi seksual itu telah diwujudkan, baik dalam pikiran maupun perbuatan. Mereka tentu saja berdosa ketika di dalam pikiran membayangkan (maaf) berhubungan seksual sesama jenis atau malah melakukannya. Hal-hal semacam itu melanggar kekudusan (Im. 19:2; 20:26).

Pandangan Lain: Alkitab Sebenarnya Tidak Melarang LGBT+

Walaupun telah dinyatakan secara jelas dalam Alkitab, banyak orang yang masih meragukan bahwa Allah sungguh-sungguh membenci praktik LGBT+. Misalnya, “Ayat-ayat tersebut sebenarnya bukan berkaitan dengan LGBT+,” “Kita harus menghargai pilihan orang-orang LGBT+,” “Allah itu kasih, jangan menghakimi.”

Walaupun terlihat baik dan menunjukkan toleransi, tetapi pandangan-pandangan seperti itu sebenarnya bermasalah. Pemikiran-pemikiran seperti itu bisa timbul karena: 1) Menafsirkan ayat Alkitab berdasarkan kehendaknya sendiri (berlawanan dengan 2Ptr. 1:20); 2) Alkitab tidak dianggap sebagai firman Tuhan yang berotoritas (berlawanan dengan 2Tim. 3:16); 3) Terlalu meninggikan kasih Allah sehingga mengabaikan kekudusan-Nya (1Ptr. 1:16; Hab. 1:13).

Yang paling bermasalah dari pandangan-pandangan seperti itu, kita justru membiarkan orang-orang LGBT+ tersesat dan terhilang dari kasih Allah. Walaupun dipikirkan baik oleh seluruh umat manusia, tetapi jika ternyata Allah memandang itu buruk, maka keputusan Allahlah yang akan berlaku kelak dalam penghakiman. Jadi, membiarkan orang-orang LGBT+ meneruskan gaya hidup mereka justru menunjukkan keegoisan kita,  bukannya kasih. Padahal dinyatakan: “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati!  —  dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu” (Yeh. 3:18-19).

Menjangkau Orang-Orang LGBT+

Setelah memahami bagaimana Alkitab memandang LGBT+ kita akan mengerti bahwa kita mempunyai panggilan untuk mewartakan kebenaran tersebut kepada orang-orang LGBT+. Supaya tidak mengulang kekeliruan yang telah dipaparkan pada awal tulisan ini, ada beberapa hal yang dapat menjadi panduan kita:

1. Setialah pada kebenaran Alkitab.

Kebenaran Alkitab harus kita letakkan di tempat tertinggi. Apa yang Alkitab nyatakan dosa tetaplah dosa, walaupun suatu saat dunia menyatakan bahwa LGBT+ adalah wajar. Jangan berkompromi. Sebaliknya, kita harus menuntun orang-orang LGBT+ untuk memahami bahwa praktik LGBT+ adalah dosa. Arahkan mereka untuk mengalami pertobatan dan mengenal Kristus.

2. Tunjukkanlah kasih dan kepekaan.

Dalam merangkul dan menuntun mereka kepada Kristus, kita harus menunjukkan kasih dan kepekaan. Rangkul mereka dan sabarlah terhadap proses yang mereka jalani dengan tuntunan Roh Kudus. Mereka adalah orang-orang seperti kita, yang memerlukan komunitas untuk bertumbuh dalam Kristus. Ketika orang-orang LGBT+ merasa gereja bukanlah keluarga yang membuat mereka merasa diterima, maka mereka akan mencari lingkungan yang kemungkinan besar justru akan semakin menjauhkan mereka dari Kristus. Tetapi perlu diingat, sebagaimana poin pertama, gereja bukan berarti membuat mereka nyaman dengan dosa.

3. Memahami konteks budaya masyarakat

Jangan mengeluarkan perkataan ataupun menunjukkan perilaku yang merendahkan mereka. Kata-kata kasar dan mempunyai makna negatif harus dihindari. Demikian juga bahasa tubuh yang menunjukkan penolakan. Intinya, jangan menjadi batu sandungan bagi mereka untuk mengenal Kristus.

Kesimpulan

Beberapa poin penting yang dapat dirangkum dari artikel ini:

1. Sejak semula, Allah merancangkan hanya ada dua gender, yaitu laki-laki dan perempuan.

2. Seperti dosa-dosa lainnya, pelanggaran terhadap rancangan gender mendatangkan murka Allah.

3. Melalui penebusan Kristus dan karya Roh Kudus, semua dosa yang terkait dengan penyimpangan gender dapat ditebus dan dipulihkan.

4. Kita harus menolong orang-orang LGBT+ untuk terus bertumbuh dalam Kristus.

Jika Anda memerlukan ringkasan materi dari artikel ini, silakan unduh dengan  [klik link ini]

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published.