Khotbah 2Raj. 6:1-7: Tidak Ada Perkara yang Terlalu Remeh Bagi Allah

1 Pada suatu hari berkatalah rombongan nabi kepada Elisa: “Cobalah lihat, tempat tinggal kami di dekatmu ini adalah terlalu sesak bagi kami. 2 Baiklah kami pergi ke sungai Yordan dan masing-masing mengambil satu balok dari sana, supaya kami membuat tempat tinggal untuk kami.” Jawab Elisa: “Pergilah!” 3 Lalu berkatalah seorang: “Silakan, ikutlah dengan hamba-hambamu ini.” Jawabnya: “Baik aku akan ikut.” 4 Maka ikutlah ia dengan mereka. Setelah mereka sampai di sungai Yordan, merekapun menebang pohon-pohon. 5 Dan terjadilah, ketika seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Lalu berteriak-teriaklah ia: “Wahai tuanku! Itu barang pinjaman!” 6 Tetapi berkatalah abdi Allah: “Ke mana jatuhnya?” Lalu orang itu menunjukkan tempat itu kepadanya. Kemudian Elisa memotong sepotong kayu, lalu dilemparkannya ke sana, maka timbullah mata kapak itu dibuatnya. 7 Lalu katanya: “Ambillah.” Orang itu mengulurkan tangannya dan mengambilnya.

(2Raj. 6:1-7)

 

Manusia Cenderung Mengingat Peristiwa Besar Saja

Hidup manusia dapat digambarkan sebagai narasi yang terdiri dari berbagai kepingan peristiwa. Namun, kita cenderung mengingat hal-hal yang besar saja. Buktinya, tanggal yang kita ingat selalu berkaitan dengan peristiwa yang dianggap besar, seperti: tanggal lahir, tanggal menikah, tanggal Kemerdekaan RI, dan sebagainya. Siapa yang mengingat tanggal terakhir kali kita tersandung? Jika sudah berlangsung lama dan tidak ada peristiwa besar seputar itu, pasti kita sudah melupakannya.

Demikian pula, kita cenderung mudah “mengingat” Tuhan ketika ada peristiwa besar. Di luar itu, kita merasa bahwa melibatkan Tuhan itu kok terlalu besar. “Kalau terkena stroke, wajar berdoa kepada Tuhan. Tetapi kalau cuma batuk-batuk ringan, masa sih perlu berdoa?”, mungkin kalimat semacam ini sempat terbersit dalam pikiran kita. Analoginya, kita tidak mungkin mengundang Presiden untuk meresmikan Lomba Tingkat RT pada tujuh belasan mendatang.

Akibatnya apa? Ketika dilanda pergumulan hidup, mungkin kita akan merasa sepertinya diri kita terlalu kecil untuk diperhatikan Allah. Atau juga dalam berdoa, mungkin kita tidak layak meminta Tuhan seperti para tokoh iman yang kita kenal. Tetapi sebenarnya pemikiran seperti ini keliru. Betul, Allah memang terlalu besar bagi kita. Bahkan dalam Yes. 40:15a tertulis: “Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca.” Tetapi, itu tidak menjadikan ada peristiwa yang terlalu kecil sehingga lolos dari perhatian Allah, termasuk permasalahan hidup kita.

Kisah Seorang Calon Nabi yang Mengalami Kesulitan

Kisah ini diawali dari sekumpulan calon nabi, yang akan membangun tempat tinggal yang baru karena tempat tinggal lama mereka tidak cukup lagi. Mungkin, pelayanan Elisa yang luar biasa begitu menginspirasi sehingga banyak orang bersedia menjadi pengikutnya (zaman itu memang ada pendidikan bagi para nabi, mungkin mirip sekolah tinggi teologi pada masa kini). Mereka lalu memohon peneguhan Elisa dan mengajaknya ikut. Singkat cerita, mereka pun pergi ke Sungai Yordan untuk menebang pohon.

Tiba-tiba, salah seorang di antara mereka berteriak panik karena mata kapaknya terjatuh ke dalam air. Mengapa? Mata kapak itu barang pinjaman dan perkakas dari logam pada saat itu harganya sangat mahal karena termasuk barang langka. Sangat berat bagi seorang pelayan Tuhan seperti dia kalau harus menggantinya.

Kemudian, dia berteriak kepada Elisa. Setelah ditunjukkan letak terjatuhnya mata kapak tersebut, Elisa lalu melemparkan sepotong kayu. Ajaib, mata kapak itu langsung terapung.

Allah Peduli Terhadap Persoalan-Persoalan Kecil

Sebenarnya, apa makna dari peristiwa itu? Kelihatannya, tidak ada sesuatu yang penting dan bisa menjadi pelajaran bagi kita dalam kisah ini. Kalau kita mengikuti kronologis pelayanan Elisa, ini adalah mukjizat keenam yang dia tunjukkan. Kisah ini diapit oleh dua peristiwa lainnya. Pertama, Elisa menolong Naaman, seorang panglima raja Aram. Kedua, terlepasnya bangsa Israel dari kepungan Aram. Dua kisah tersebut tentu merupakan peristiwa besar, dibanding hilangnya mata kapak yang dipinjam salah satu nabi muda. Tetapi mengapa peristiwa timbulnya mata kapak ini dicatat dalam Alkitab?

Kisah ini menunjukkan bahwa tidak ada hal yang terlalu kecil bagi Tuhan. Jika Tuhan peduli dengan panglima raja Aram, maka Dia juga peduli dengan seorang nabi muda yang tidak dikenal. Jika Tuhan peduli dengan urusan hidup matinya bangsa Israel, ternyata Tuhan juga peduli dengan urusan hilangnya mata kapak.

Allah Peduli Terhadap Hidup Anak-Anak-Nya

Mengapa Allah mau-maunya mengurusi hal-hal yang remeh seperti itu? Ingat, rombongan nabi itu adalah umat-Nya. Mereka bahkan berkomitmen untuk melayani Allah, yang telah memanggil mereka menjadi nabi. Mungkinkah Allah kemudian malah mengabaikan mereka? Demikian pula Allah juga tidak akan mungkin mengabaikan kita, anak-anak-Nya yang telah ditebus dengan darah Anak-Nya sendiri.

Kemudian, dengan keajaiban ini, Allah juga mengajarkan hal yang sangat penting kepada rombongan nabi itu. Pada waktu itu, banyak orang Israel yang menyimpang dan beribadah kepada Baal. Sangat mudah di tengah situasi seperti itu untuk kehilangan iman. Tetapi, Allah menunjukkan bahwa Dia sungguh-sungguh ada dan mempedulikan orang-orang yang setia kepada-Nya.

Jangan Pernah Merasa Persoalan Kita Terlalu Kecil untuk Diperhatikan Allah

Oleh sebab itu, apapun persoalan yang kita alami, jangan pernah merasa itu terlalu kecil sehingga luput dari perhatian Allah. Jangan pula kita merasa terlalu rendah untuk diperhatikan Allah. Mungkin kita tidak memiliki nama besar, belum pernah melakukan pelayanan yang luar biasa, dan bahkan mungkin sedang merasakan lemah iman karena masalah yang berat. Tetapi, itu semua tidak menjadikan diri kita luput dari perhatian Allah.

Seorang manusia dewasa memiliki sekitar 100.000 rambut. Bagi yang tidak memiliki masalah kesehatan, sekitar 100 helai rambut rontok secara alami. Pernahkah kita menghitungnya? Tuhan begitu memperhatikan kita sampai digambarkan jumlah rambut kita pun Dia tidak lewatkan (sumber: lifestyle.kompas.com)

Tuhan Yesus pernah berkata bahwa rambut kita pun terhitung semuanya: “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Luk. 12:6-7)!

Masihkah kita ragu bahwa Dia peduli terhadap setiap persoalan kita? Baik ketika ibu kita sedang berjuang melahirkan kita maupun ketika kita sedang membaca koran, Tuhan menyertai kita (pernah mendengar ada orang tiba-tiba meninggal waktu membaca koran karena terkena sakit jantung?). Kalau kita yakin bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan kita setelah lolos dari kecelakaan yang menyebabkan mobil kita hancur, maka kita pun sudah sewajarnya yakin bahwa Tuhan jugalah yang membuat kita masih segar bugar setelah tadi pagi terciprat minyak waktu memasak.

Manfaat Rohani dari Kebiasaan Mengingat Allah dalam Peristiwa Kecil

Apapun persoalan hidup kita, belajarlah untuk mendoakannya pada Tuhan. Tidak ada perkara yang terlalu remeh bagi-Nya. Pengertian ini akan menghasilkan pertumbuhan rohani bagi diri kita. Dengan senantiasa mengingat Tuhan dalam peristiwa-peristiwa kecil, maka kita tidak akan kehabisan alasan untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Selain itu, jika kita terbiasa memasrahkan diri kepada Tuhan untuk setiap perkara kecil, maka otot-otot iman kita telah terlatih untuk mempercayai-Nya ketika masalah besar tiba-tiba melanda hidup kita. Amin.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *