Khotbah Mzm. 3: Kekuatan Doa di Tengah Badai Kehidupan

1 Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya. 2 Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku; 3 banyak orang yang berkata tentang aku: “Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.” Sela

4 Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. 5 Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela 

6 Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku! 7 Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku. 8 Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku! Ya, Engkau telah memukul rahang semua musuhku, dan mematahkan gigi orang-orang fasik. 9 Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu! Sela  (Mzm. 3)

 

Badai Hidup Bisa Datang Tiba-Tiba Pada Semua Orang

Seorang bijak mengatakan: “Hidup adalah misteri karena engkau tidak akan tahu ke mana dia akan membawamu.” Apakah Anda setuju? Mari kita perhatikan kisah Lanjar, seorang buruh bangunan di Solo. Pada masa Lebaran tahun 2009, dia memboncengkan anak dan istrinya dari luar kota. Di tengah perjalanan, ada mobil di depan mereka mengerem mendadak. Terjadilah tabrakan. Istri dan anaknya terpental. Tak disangka, ada mobil dari arah berlawanan menabrak istrinya hingga tewas seketika.

Lanjar Sriyanto (sumber gambar: kompasiana.com)

Penderitaan Lanjar tidak berhenti sampai di situ. Seminggu setelah kejadian, sewaktu mau mengambil motornya di kator polisi, Lanjar malah ditangkap. Dia dituduh lalai sehingga menyebabkan istrinya meninggal. Rupanya, pemilik mobil yang menabrak istrinya itu orang berpengaruh. Untuk menghindari hukuman, Lanjar yang “orang kecil” itu pun dikorbankan.

Dalam tempo singkat, hidup Lanjar berubah total. Dia kehilangan istri, dipenjara, dan anaknya yang masih kecil itu depresi (berita selengkapnya klik di sini). Saya yakin, peristiwa seperti ini tidak pernah dibayangkan oleh Lanjar.

Badai kehidupan bisa dialami oleh siapapun. Ada orang yang berkata, semakin lama kita hidup, semakin besar kemungkinan kita menghadapi badai kehidupan: tiba-tiba ditinggal pasangan, anak, di-PHK, didiagnosis kanker, dan sebagainya. Betul, kan? Apa yang harus kita lakukan jika kejadian tersebut menimpa diri kita?

Keadaan Daud Ketika Mengalami Badai Hidup

Pada kenyataannya, tidak ada seorang pun yang kebal terhadap badai kehidupan. Bahkan orang yang sangat berkuasa, mempunyai nama besar, dan dekat dengan Tuhan seperti Daud pun bisa mengalami krisis di dalam kehidupannya. Mazmur ini merupakan ungkapan hati Daud ketika dia harus meninggalkan semua kenyamanan hidupnya secara tiba-tiba akibat pengkhianatan dari anaknya sendiri, Absalom.

Saya bayangkan ketika Daud memimpin pengikutnya keluar dari istana raja, dia merasa lelah membayangkan bagaimana menderitanya hidup dikejar-kejar lagi seperti pada masa mudanya. Kalau kita baca kisahnya di 2Sam. 15-17, Daud juga merasa sangat terpukul, sampai dikatakan “sakit hati seperti beruang yang kehilangan anak di padang” (2Sam. 17:8). Daud juga mungkin merasa malu karena harga dirinya sudah hancur. Sampai-sampai Simei, seorang kerabat Saul yang dulunya tidak ada apa-apanya di hadapan Daud, berani menghina Daud (2Sam. 16:13). Daud menuliskan: “banyak orang yang berkata tentang aku: ‘Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah‘” (ay. 3).

Keadaan Kita Ketika Mengalami Badai Hidup

Sampul buku Impossible Love (sumber gambar: amazon.com)

Seperti itulah juga yang dirasakan oleh kita ketika menghadapi badai kehidupan yang tiba-tiba. Kaget, malu, kecewa, marah, dan bahkan putus asa.

Baru-baru ini saya membaca Impossible Love, kisah hidup Craig Keener, seorang pakar biblika yang diakui dunia dan banyak bukunya menjadi best-seller. Tetapi siapa sangka, dia pernah mengalami badai hidup yang sangat berat. Sewaktu muda, ketika sedang giat-giatnya melayani Tuhan, istrinya tiba-tiba selingkuh dengan teman baiknya. Berbagai cara sudah dilakukan Keener untuk menarik istrinya kembali, tetapi selalu gagal. Sampai pada akhirnya, istrinya menceraikannya. Dia lari bersama selingkuhannya dan membawa semua harta mereka.

Hati Keener begitu tertekan sampai dia berkata: “Tuhan, selama ini saya setia melayani panggilan-Mu. Tetapi kalau seperti ini harga yang harus dibayar, saya tidak sanggup.” Dia begitu mencintai istrinya dan waktu krisis itu terjadi, Keener baru saja diterima menjadi mahasiswa program doktoral di sebuah universitas bergengsi. Tetapi dengan kondisi pernikahan yang hancur dan kekayaannya tinggal uang 10 dolar di sakunya, apa artinya? Orang-orang di sekitar Keener pun membuat masalah tambah berat. Mereka berkata seperti ini: “Nggak mungkin istrimu selingkuh kalau nggak ada sebab.” “Kalau pernikahan hancur, pasti ada kesalahan di pihak suami dan istri.” Bukankah ini juga bisa terjadi pada kita? Ketika membutuhkan dukungan, justru keluarga dan rekan-rekan seiman malah memperburuk keadaan. Saking beratnya, Keener sampai berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Tindakan yang Daud Ambil: Berdoa dan Berserah Kepada Tuhan

Pernahkah kita bayangkan, kemungkinan apa yang bisa kita lakukan ketika badai kehidupan tiba-tiba datang? Mungkin putus asa, seperti anak salah satu kenalan saya, depresi, tidak mau keluar rumah, karena pacarnya tiba-tiba menikah dengan orang lain. Atau juga, kita bisa langsung mencari cara-cara instan untuk memperbaiki keadaan. Ketika ada pesaing yang produknya lebih murah, kita bisa menipu konsumen dengan mengurangi mutu produk kita. Apakah cara-cara itu bisa menyelesaikan masalah? Tidak. Justru yang biasa terjadi, keadaan makin bertambah rumit.

Mari kita belajar dari apa yang dilakukan Daud. Pertama, Daud berdoa kepada Tuhan (ay. 5). Daud bisa saja melawan dan menggunakan kuasa serta kekayaannya. Tetapi kali ini dia harus melawan anaknya sendiri. Menghadapi dilema seperti ini, Daud telah belajar bahwa cara-cara instan manusia tidak akan menyelesaikan masalah, justru membuatnya semakin buruk. Kita tentu tahu, bagaimana dia dihukum Tuhan setelah membunuh Uria demi menutupi dosanya dengan Batsyeba (2Sam. 12:9-10)? Daud juga telah belajar bagaimana Tuhan memberi jalan keluar dengan mengirim Abigail, ketika dia dan pengikutnya hampir saja membunuh Nabal dan mendapat murka Tuhan (1Sam. 25).

Seberat apapun persoalan hidup kita, jangan cepat-cepat berpikir masalah kita tidak ada solusinya. Jangan juga berpikir, tidak ada lagi rekan yang mau menopang kita dalam kesulitan. Ingat, kita mempunyai Bapa yang senantiasa membuka telinga-Nya untuk mendengarkan persoalan anak-anak-Nya. Di dalam 1Ptr. 3:12 tertulis: “Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” Ketika menghadapi badai kehidupan, jangan lari dari Tuhan, melakukan hal-hal bodoh yang justru akan melawan Tuhan. Tetapi, larilah kepada Tuhan karena Dia siap mendengarkan apapun persoalan hidup yang kita alami.

Dengan berdoa, Daud menunjukkan imannya kepada Tuhan. Sejak kecil Daud bergaul intim dengan Tuhan sehingga tahu betul siapa Tuhan. Waktu menghadapi Goliat. Waktu menghadapi Saul. Waktu berperang melawan musuh-musuh Israel yang kuat-kuat. Daud tahu betul bahwa Tuhan sangat terbukti bisa dijadikan perlindungan. Sampai-sampai, Daud menggambarkan Tuhan seperti perisai (ay. 4), yang akan melindunginya dari serangan musuh.

Apakah kita mempunyai iman bahwa Tuhan hadir dan bekerja aktif di dalam kehidupan kita? Apakah kita yakin bahwa hidup kita, seburuk apapun dan seberapa pun kita tidak siap menanggungnya, itu bukan terjadi secara acak, tetapi ada di dalam rencana Tuhan? Kalau kita sungguh-sungguh percaya perkataan Alkitab bahwa Tuhan Yesus rela mati demi menyelamatkan kita, maka kita pun percaya bahwa Dia terus menyertai kita.

Seberat apa sih badai kehidupan yang bisa kita alami? Rasul Paulus menuliskan: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Rm. 8:35). Artinya, tidak ada satu pun kejadian di dalam kehidupan manusia yang mampu menghalangi kasih Kristus. Tuhan kita terlalu kuat untuk dikalahkan hal-hal seperti itu.

Setelah berdoa, Daud juga berserah kepada Tuhan (ay. 6-9). Banyak orang Kristen yang tetap tenggelam dalam keterpurukan walaupun sudah berdoa berkali-kali. Mengapa? Mereka lupa bahwa selain mengungkapkan permasalahan kita kepada Tuhan, kita juga harus mau meyerahkannya kepada Tuhan. Tuhan berkata, Dia siap menanggung beban kita. “Serahkanlah bebanmu kepada Tuhan, karena Ia akan menopang kamu” (Mzm. 55:23). Jangan sudah berdoa, tetapi masih saja memikir-mikirkan cara-cara manusia. Ingin secepatnya masalah pergi sesuai dengan yang kita mau. Yakinlah, suatu saat kiya bisa tenggelam dalam depresi kalau selalu berusaha supaya hidup berjalan sesuai keinginan kita. Tetapi kalau kita mengerti betul bagaimana kedaulatan Allah atas dunia ini, maka kita bisa berserah kepada Daud, yang bisa tidur dan bangun lagi dengan penuh keyakinan di tengah segala kepenatan pikirannya (ay. 6).

Kalau begitu, apakah kita tidak boleh berusaha? Justru berusaha adalah salah satu bukti bahwa kita mempercayai Allah akan memberi jalan keluar. Kalau kita baca di 2Sam., Daud pun tetap menjalankan strategi. Dia mengirim Husai kepada Absalom. Tetapi di tengah usahanya, Daud tidak menggantungkan diri kepada strateginya itu. Daud justru berkata, “Dari TUHAN datang pertolongan” (ay. 9). Tuhanlah yang bekerja, bukan Daud atau Husai. Inilah arti berserah.

Mendekat pada Tuhan Mengubah Cara Pandang Kita

Apa yang kemudian Daud alami? Walaupun permasalahan hidup belum berakhir, Daud sudah bisa merasakan ketenangan. Demikian pula kita bisa mendapatkan ketenangan yang sama jika mengikuti teladan yang dilakukan Daud. Roh Kudus akan mengubah cara pandang kita, sehingga apa yang tadinya terasa mustahil, ternyata masih ada harapan. Apa yang tadinya terlihat gelap, ternyata ada terang Tuhan di sana. Terlebih lagi, kita akan mampu melihat bahwa mungkin di dalam keadaan gelap seperti itu, Tuhan sedang menyiapkan kita untuk pekerjaan yang lebih besar lagi.

Ketika Keener sedang berada dalam masa-masa depresi, salah seorang majelis di gereja

Craig dan Medine Keener, keduanya bertemu pada saat menempuh studi Ph.D. di Duke University (sumber gambar: asburyseminary.edu)

yang biasa dia layani berkata, “jika kamu terpikir untuk bunuh diri karena perceraian ini, ingat, keadaan di neraka jauh lebih buruk dibanding penderitaan yang kamu alami sekarang” (pandangan apakah orang yang bunuh diri pasti tidak akan masuk surga akan saya bahas dalam tulisan yang lain). Akhirnya Keener kembali berdoa secara rutin kepada Tuhan, berserah untuk menjalani apapun yang Tuhan mau, dan percaya bahwa Tuhan tidak akan gagal dalam memberikan panggilan kepadanya.

Singkat cerita, Keener lulus studi doktornya. Menikah lagi dengan orang yang betul-betul cinta Tuhan. Menjadi salah satu pakar Perjanjian Baru paling top di dunia ini. Dan bersama istri keduanya, Medine, berkeliling dunia untuk menjadi berkat bagi para akademisi, hamba Tuhan, maupun juga gereja-gereja yang teraniaya.

Sungguh kisah yang luar biasa. Kalau kita tahu bahwa Tuhan yang berdaulat itu mempunyai rencana atas kehidupan kita, maka percayalah bahwa itu tidak akan pernah bisa digagalkan hanya oleh kesulitan hidup kita. Seperti halnya Daud yang terus ditopang Tuhan sehingga dari keturunannya Mesias dilahirkan, demikian pula Tuhan akan terus menopang kehidupan kita sampai rencana-Nya tergenapi. Tidak ada satupun permasalahan dan kuasa yang sanggup merintangi rencana Tuhan. Tinggal apakah kita mau bertekun untuk dijadikan bagian dalam rencana-Nya itu?

Penutup

Tuhan bisa memakai orang lain ketika kita memilih cara-cara instan yang melawan kehendak-Nya. Sebaliknya, jika kita terus bersandar pada Tuhan dalam menghadapi permasalahan, maka Dia akan memberikan kekuatan lebih. Perhatikan lirik “He Giveth More Grace” berikut (silakan dengarkan lagunya dengan [klik link ini]):

 

He giveth more grace when the burdens grow greater, (Dia beri anugerah lebih ketika beban membesar)
He sendeth more strength when the labors increase, (Dia kirim kekuatan lebih ketika pekerjaan meningkat)
To added affliction He addeth His mercy, (Untuk kesukaran yang bertambah, Dia tambahkan kemurahan)
To multiplied trials, His multiplied peace (Untuk pencobaan yang berlipat, Dia lipatgandakan kedamaian).

 

When we have exhausted our store of endurance, (Ketika kita kehabisan daya tahan)
When our strength has failed ere the day is half-done, (Ketika kekuatan kita habis tetapi hari masih panjang)
When we reach the end of our hoarded resources, (Ketika kita sudah sampai pada batas kemampuan)
Our Father’s full giving is only begun. ([Di situlah sebenarnya] pemberian Bapa kita baru saja tercurah)

 

Reff.:

His love has no limit, His grace has no measure, (Kasih-Nya tidak terbatas, anugerah-Nya tidak terukur)
His power no boundary known unto men, (Kekuatan-Nya tidak terbatas menurut ukuran manusia)
For out of His infinite riches in Jesus, (Dari kekayaan-Nya yang tak terbatas dalam Yesus)
He giveth and giveth and giveth again. (Dia berikan lagi, lagi, dan lagi)

 

Ketika persoalan yang berat tiba-tiba menerpa hidup kita, berdoalah dan berserahlah pada Tuhan, sumber pertolongan kita. Tangan Tuhan senantiasa terbuka menerima kita dan Roh Kudus senantiasa mengarahkan pikiran kita. Amin.

 

Flp. 4:6-7: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *