Khotbah Hag. 2:1-10: Jangan Menyerah dalam Menghadapi Tantangan Pelayanan

1 Pada hari yang kedua puluh empat dalam bulan yang keenam. Pada tahun yang kedua zaman raja Darius, 2 dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal dua puluh satu bulan itu, datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: 3 “Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, dan kepada selebihnya dari bangsa itu, demikian: Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya? 5 Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, 6 sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! 7 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; 8 Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. 9 Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam. 10  Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”

(Hag. 2:1-10)

 

Pendahuluan

Sumber: griyabuku.co.id

Pada tahun 1997 Paul G. Stoltz menerbitkan sebuah buku yang sangat populer berjudul Adversity Quotient. Di dalam buku ini, Stoltz menjelaskan bahwa selain IQ (Intelligence Quotient/kecerdasan pikiran) dan EQ (Emotional Quotient/kecerdasan emosi), ada satu lagi kecerdasan yang dibutuhkan oleh seseorang dalam meraih sukses, yaitu AQ. AQ (Adversity Quotient) mengukur ketahanan seseorang terhadap rintangan yang dihadapi dan menggunakan seluruh kemampuannya untuk mengatasinya. Menurut Stoltz, inilah yang sebenarnya menjadi penentu kesuksesan. Orang yang memiliki bakat, modal, dan kecerdasan namun EQ-nya rendah tidak akan berhasil.

Karena itu, kita sering mendengar kisah orang-orang yang terlahir di tengah kesulitan, tetapi karena ulet dan pantang menyerah, akhirnya mereka bisa sukses. Misalnya, siapa sih yang tidak kenal Dahlan Iskan? Sebagai pemilik Grup Jawa Pos, mantan dirut PLN, dan mantan menteri BUMN, kita tidak akan meragukan kesuksesannya. Padahal, dia terlahir di tengah keluarga yang sangat miskin. Saking miskinnya, orang tuanya sampai tidak mampu membelikan dia sepatu. Namun karena tekadnya yang kuat, akhirnya Dahlan Iskan bisa meraih kesuksesan.

Demikian pula dalam dunia pelayanan. Dunia tidak kekurangan tokoh-tokoh iman yang bertahan hingga akhir pelayanannya, seperti Hudson Taylor (misionaris ke Tiongkok), Billy Graham (pengkhotbah KKR), atau Pdt. Bigman Sirait yang baru meninggal Juni lalu.

Melihat kisah hidup mereka, mungkin kita berpikir, AQ mereka pasti tinggi, sehingga bisa melayani begitu luas dan bertahan sampai akhir. Kalau yang AQ-nya biasa-bisa saja bagaimana? Apalagi, jika tantangan pelayanan begitu berat. Wajarkah kalau seorang Kristen undur ketika menghadapi tantangan pelayanan yang berat? Menurut Hag. 2:1-10, kita tidak boleh patah semangat ketika menghadapi kesulitan dalam pelayanan karena Tuhan berjanji untuk senantiasa menyertai kita.

 

1. Kesulitan yang Dihadapi dalam Pelayanan Bisa Membuat Patah Semangat

Siapakah Hagai? Dia adalah nabi Tuhan yang diutus kepada orang-orang Yahudi setelah mereka kembali ke Yehuda dari pembuangan di Babel. Ingat bahwa sepeninggal Salomo, Israel terpecah menjadi dua, yaitu kerajaan Israel di utara dan kerajaan Yehuda di selatan. Israel kemudian dihancurkan oleh Asyur pada tahun 722 SM, sedangkan Yehuda dihancurkan oleh Babel pada tahun 587 SM. Pada waktu Babel menghancurkan ibukota Yehuda (Yerusalem), bait suci yang menjadi kebanggaan orang Yahudi juga ikut dihancurkan. Tidak hanya itu, Babel juga membawa orang-orang Yahudi untuk menjadi orang buangan di negaranya, beberapa orang di antaranya ialah: Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.

Singkat cerita, Babel ditaklukkan oleh bangsa yang lebih kuat lagi, yaitu Persia. Kemudian pada tahun 538 SM, Tuhan menggerakkan hati raja Koresh, raja Persia waktu itu, untuk mengizinkan orang-orang Yehuda kembali ke Yerusalem. Mereka dipimpin oleh bupati Zerubabel dan imam besar Yosua. Pada waktu “pulang kampung,” mereka melihat Yerusalem sudah hancur dan mereka harus bekerja keras untuk membangunnya kembali. Selain itu, mereka juga mulai meletakkan fondasi bait suci.

Namun demikian, sekelompok orang menentang pembangunan itu dan menakut-nakuti penduduk Yehuda, karena mereka tidak ingin Yehuda menjadi bangsa yang kuat kembali. Bayangkan betapa beratnya tekanan fisik dan mental yang dihadapi oleh orang-orang Yehuda saat itu! Oleh sebab itu, selama 15 tahun tidak ada kemajuan dalam pembangunan bait suci. Semua peristiwa ini tercatat dalam Ezra pasal 1-4.

Akhirnya, setelah Raja Koresh digantikan oleh Raja Darius, Tuhan mengutus nabi Hagai untuk mengingatkan kembali bahwa membangun bait suci harus menjadi prioritas orang-orang Yehuda. Di dalam Hag. 1:14 dituliskan, “TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari bangsa itu, maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka.” Pemimpin pemerintahan, pemimpin agama, dan seluruh bangsa, semuanya digerakkan oleh Tuhan untuk membangun bait suci. Pelayanan di dalam gereja juga harus seperti ini. Jangan seperti suporter sepak bola. Yang bermain cuma sebelas orang, tetapi yang menonton dan berkomentar puluhan ribu orang (belum termasuk yang berkomentar di medsos).

Pada saat pengerjaan fondasi selesai, “seluruh umat bersorak-sorai dengan nyaring sambil memuji-muji Tuhan” (Ezr. 3:11), karena selama berada di pembuangan mereka sangat merindukan bait suci. Namun demikian, di dalam Ezr. 3:12 tercatat, “Tetapi banyak di antara para imam, orang-orang Lewi dan kepala-kepala kaum keluarga, orang tua-tua yang pernah melihat rumah yang dahulu, menangis dengan suara nyaring, ketika perletakan dasar rumah ini dilakukan di depan mata mereka, sedang banyak orang bersorak-sorai dengan suara nyaring karena kegirangan.” Generasi muda, yang lahir pada masa pembuangan dan belum pernah tahu bait suci itu seperti apa, sangat senang. Tetapi generasi tua, yang pernah melihat sendiri kemegahan bait suci, menangis.

Pada waktu membangun bait suci yang pertama, Salomo mampu mempekerjakan orang-orang terbaik dan mendapatkan material yang bermutu sehingga bait sucinya dibangun dengan megah. Tetapi pada waktu membangun bait suci yang kedua ini, bangsa Yehuda hidup dalam kondisi yang serba terbatas: kekurangan hasil panen, makanan, serta uang (Hag. 1:1-6). Karena itu, perhiasan dan perabotan yang nantinya ada di dalam bait suci yang baru ini tidak mungkin bisa menyamai apa yang pernah ada di dalam bait suci Salomo. Bukan hanya itu, benda-benda sakral yang dulu ada di dalam bait suci Salomo, seperti tabut perjanjian, tidak mungkin ada. Semua itu membuat tua-tua Yehuda patah semangat.

Melihat kondisi itu, Tuhan kemudian berfirman: “Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya?” (Hag. 2:4). Ketika generasi berganti lalu menghadapi kesulitan, mereka patah semangat. Para pelayan Tuhan masa kini yang terlalu fokus pada kesulitan pun pasti akan kecewa dan patah semangat, seperti halnya tua-tua Yehuda itu.

Gambar bernada satir seperti ini sempat viral pada beberapa Pilpres yang lalu (sumber gambar: tribunnews.com)

Di dalam kehidupan gereja, fenomena yang sama biasa ditemui. Ketika berganti kepemimpinan, ada sebagian jemaat yang membanding-bandingkannya dengan pendahulu mereka.  Saya teringat dengan orang-orang yang memasang gambar Pak Harto yang sedang tersenyum sambil berkata: “Piye kabare, Le? Isih penak jamanku to? (Bagaimana kabarnya, Nak? Masih enak zaman saya kan?).”

Hal seperti ini pun dialami oleh tokoh-tokoh Alkitab. Misalnya, setelah dengan gagah berani melawan nabi-nabi Baal, Elia diancam akan dibunuh oleh Izebel. Dia kemudian melarikan diri dan sempat mengalami putus asa sampai “ingin mati” (1Raj. 19:4). “Mengapa setelah melayani Tuhan, nyawaku malah terancam?”, begitu mungkin pikir Elia. Kemudian, setelah Tuhan Yesus disalib, murid-murid guncang dan ingin kembali melakukan pekerjaan lamanya. “Aku pergi menangkap ikan” (Yoh. 21:3), kata Simon Petrus, yang kemudian diikuti oleh murid-murid lainnya. Mereka patah semangat karena beratnya beban pelayanan dan hasilnya pun tidak sesuai dengan apa yang mereka bayangkan.

Sampai saat ini, pergumulan yang sama masih terus terjadi di antara para pelayan Tuhan. Contohnya, pada pertengahan September 2015, seorang pendeta di Amerika Serikat, Pete Wilson, mengundurkan diri dari gereja yang didirikannya bersama isterinya sejak tahun 2003, Cross Point. Padahal, ibadah-ibadah di Cross Point sudah dihadiri oleh sekitar 7000 orang, dan dilangsungkan di lima lokasi. Bahkan gereja ini disebut sebagai salah satu gereja yang paling cepat pertumbuhannya di Amerika Serikat.

Pete Wilson bersama keluarganya. Istrinya mengajukan cerai setelah pengunduran dirinya (sumber gambar: urbanchristiannews.com)

Pengunduran diri itu disampaikan Pete pada ibadah minggu tanggal 11 September 2016. Dia berkata di hadapan jemaatnya: “Saya lelah. Saya hancur. Saya memerlukan istirahat. Saya mengasihi Anda semua.” Tidak ada penjelasan detail mengapa dia mundur. Berbagai media menyimpulkan bahwa Pete Wilson mengalami burn-out, suatu kondisi kelelahan fisik dan mental akibat terlalu banyaknya pekerjaan dan tekanan yang dihadapi seseorang.

Beban pelayanan yang berat bisa membuat orang sekaliber Pete Wilson patah semangat dan mundur dari pelayanan. Kalau hal seperti ini bisa terjadi pada orang yang pelayanannya terlihat sangat sukses, apalagi kita yang pelayanannya tampak biasa-biasa saja. Banyak hal yang bisa menggoyahkan pelayanan kita. Sudah melakukan pelayanan dengan sungguh-sungguh, tetapi masih saja dianggap kurang. Kemudian, gesekan dengan sesama rekan pelayanan pun tidak jarang kita alami. Belum lagi, adanya pengkhianatan, gosip yang tidak benar, dan bahkan ancaman, bisa saja ada di dalam pelayanan. Hal-hal semacam ini dapat melemahkan semangat kita dan bahkan bisa membuat kita mundur dari pelayanan. Bagaimana kita mengatasinya?

 

2. Kita Bisa Terus Maju Menghadapi Rintangan dalam Pelayanan karena Tuhan Berjanji untuk Senantiasa Menyertai Kita

Tadi sudah dijelaskan bahwa Tuhan memahami keadaan bangsa Yehuda yang patah semangat karena hasil pelayanan yang tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Tetapi bukan berarti keadaan seperti itu boleh membuat mereka mundur dalam pelayanan. Tuhan berfirman: “Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!” (Hag. 2:5-6).

Seluruh bangsa Yehuda, dari pemimpin hingga rakyatnya, diperintahkan untuk menguatkan hati. Jangan mundur dalam pelayanan. Mereka diperintahkan untuk terus bekerja karena Tuhan akan menyertai mereka. Inilah yang menjadi dasar bagi bangsa Yehuda untuk tidak patah semangat dan terus maju. Jika Tuhan yang mahakuasa, sang pemilik pelayanan, berjanji untuk menyertai mereka, apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Dukungan seperti apa lagi yang mereka perlukan?

Melalui firman-Nya tersebut, Tuhan kembali menguatkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang mereka pada zaman Musa: “Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka. Maka mereka akan mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allah mereka, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya Aku diam di tengah-tengah mereka; Akulah TUHAN, Allah mereka” (Kel. 29:45-46). Zerubabel, Yosua, dan seluruh orang Yehuda diingatkan kembali akan kesetiaan Tuhan pada waktu menyertai nenek moyang mereka keluar dari Mesir.

Kemudian kalau kita perhatikan ayat 5b dan 6, di situ Tuhan tidak hanya berkata, “Aku ini menyertai kamu,” tetapi juga “Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu.” Ini menunjukkan adanya tindakan yang terus-menerus dari Tuhan, dari dulu sampai sekarang. Artinya, penyertaan Tuhan yang dirasakan oleh nenek moyang bangsa Israel juga akan terus dirasakan oleh keturunan mereka pada zaman Zerubabel dan imam besar Yosua. Inilah yang menjadi dasar kekuatan bagi setiap para pelayan Tuhan, dan bukannya kekuatan duniawi.

Karena itu, Tuhan juga menegaskan bahwa kekhawatiran tua-tua Yehuda karena kekurangan material tidak beralasan. “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam” (Hag. 2:7-9). Walaupun saat itu bangsa Yehuda tidak memiliki sumber daya yang melimpah seperti pada zaman Salomo, tetapi Tuhan tidak pernah kekurangan. Tuhan tidak perlu bergantung kepada apa pun atau siapa pun karena Dialah pemilik alam semesta, yang sanggup menyediakan sumber daya apapun yang dibutuhkan dalam pelayanan. Suatu saat, demikian nubuat Hagai, kemuliaan bait suci Zerubabel ini akan melebihi kemuliaan bait suci Salomo.

Ratusan tahun kemudian, tepatnya pada zaman Tuhan Yesus, nubuat itu akhirnya digenapi pada saat raja Herodes merenovasi bait suci secara besar-besaran untuk mengambil hati orang-orang Yahudi. Bait suci itu menjadi bangunan yang luar biasa megah. Buktinya, “Ketika Yesus keluar dari Bait Allah, seorang murid-Nya berkata kepada-Nya: ‘Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!’” (Mrk. 13:1).

Tetapi, puncak kemegahan bait suci bukanlah terletak pada bangunannya, namun pada kemuliaan Allah yang hadir di dalamnya. Tuhan Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Mat. 12:6). Apa yang dijanjikan Allah melalui nabi Hagai akhirnya digenapi dengan kehadiran Kristus di dalam bait suci, dan ini yang membuat kemuliaan bait suci Zerubabel melebihi kemuliaan bait suci Salomo. Dan kemuliaan tersebut baru akan kita lihat puncaknya di surga, “Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu. Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya” (Why. 21:22-23).

Dari sini kita melihat bahwa kegegalan tua-tua Yehuda terjadi karena mereka hanya mengukur hasil pelayanan dari apa yang mereka lihat saja. Padahal, bait suci hanyalah tempat dan lambang kehadiran Allah di tengah-tengah orang Israel. Yang penting bukan fisik bait sucinya, tetapi kehadiran Allah sendiri, yang menjadikan bait suci penuh dengan kemuliaan. Karena itu, walaupun bait suci yang telah direnovasi Herodes ini kembali dihancurkan oleh kekaisaran Romawi pada tahun 70, dan sampai sekarang tidak dibangun kembali, kita sebagai orang percaya yakin bahwa penyertaan Tuhan masih terus kita rasakan karena Tuhan Yesus telah berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20b).

Fokus pada janji penyertaan Tuhan akan membuat kita menjadi pelayan Tuhan yang tidak mudah menyerah dalam mengerjakan pelayanan sesulit apapun. Belajar seperti Oswald Chambers, pengarang buku renungan, “My Utmost for His Highest,” yang berkata: “Kita harus berdoa dengan mata memandang pada Tuhan dan bukannya pada masalah.” Apa yang terjadi dengan orang-orang yang melakukan hal itu? Saya akan menceritakan satu contoh kasus.

Hudson Taylor (sumber gambar: omf.org)

Hudson Taylor adalah seorang misionaris yang melayani di daratan Tiongkok pada abad ke-19. Dia merintis lembaga misi yang sekarang bernama OMF International. Salah satu moto pelayanannya adalah: “Pekerjaan Allah, yang dikerjakan sesuai dengan cara Allah, tidak akan kekurangan dukungan Allah.” Dukungan Allah yang dimaksud Hudson Taylor di sini adalah dukungan dalam bentuk apapun, baik itu uang, kesehatan, iman, damai sejahtera, ataupun kekuatan. Dia membuktikan sendiri kebenaran motonya ini sepanjang pelayanan misinya.

Di Tiongkok, dua orang anak dan isteri pertamanya meninggal. Dia terkena hepatitis dan sejak saat itu kesehatannya terus memburuk. Lembaga misinya pernah kehabisan uang. Dia mengakui, pelayanan seorang misionaris berat, monoton, dan seringkali terlihat jauh dari kesuksesan. Tetapi dengan mengandalkan Tuhan melalui doa, pelayanannya bisa terus maju. Ada saja cara Tuhan untuk membuatnya tetap bertahan dalam pelayanan hingga sepanjang 51 tahun pelayanannya, dia mendatangkan 800 misionaris, mendirikan 125 sekolah, dan mempertobatkan 18000 orang di Tiongkok dan OMF International masih terus melayani sampai sekarang.

Dari sini kita dapat melihat bahwa rintangan pelayanan bisa sangat berat, dan Tuhan memahaminya. Sebagai teladan pelayanan terbesar sepanjang masa, Tuhan Yesus tahu betul segala pergumulan yang mungkin dihadapi oleh para pelayan Tuhan. Karena itu, ketika kita bersandar pada janji penyertaan Tuhan, maka Dia akan memampukan kita untuk dapat menyelesaikan pelayanan karena jauh di atas pikiran kita, Dia mempunyai rancangan yang indah untuk pelayanan kita itu.

Pada waktu kita menghadapi rintangan dalam pelayanan, apa yang kita lakukan? Kecewa? Putus asa? Atau bahkan mundur? Jika pelayanan kita mengendur pada saat menghadapi kesulitan, berarti ada yang keliru dengan cara pandang kita. Mungkin kita berpikir, “saya yang bekerja paling keras,” atau “saya yang mendukung paling banyak,” maka “harus berjalan sesuai dengan keinginan saya.” Atau kita merasa aman karena ada orang-orang kuat dan bertalenta yang mendukung pelayanan kita. Padahal, pelayanan adalah milik Tuhan. Dialah yang memulai, Dialah yang akan mencukupi kebutuhannya, dan Dialah yang menentukan standar kesuksesannya.

Karena itu, gereja bisa ditinggalkan orang-orang kunci yang biasanya mendukung pelayanan, entah itu gembala, majelis, atau aktivis. Bahkan, gedung gereja bisa ditutup atau dibakar. Tetapi, apakah semua itu bisa menjadikan pelayanan gereja terhenti? Tidak. Rencana Tuhan tidak bergantung pada kondisi-kondisi yang ada di dunia. Tuhan tidak pernah kehabisan solusi. Asalkan pemimpin dan seluruh jemaatnya bersandar pada janji penyertaan Tuhan, maka gereja akan tetap berdiri sampai kapanpun karena ada rencana Tuhan di dalamnya.

Masalahnya, apakah kita semua telah benar-benar bersandar pada janji penyertaan Tuhan ini? Periksa apakah kita secara rutin mendoakan gereja kita? Apakah semangat kita masih bergantung kepada orang lain? Di dalam perikop ini, Tuhan menggerakkan para pemimpin beserta seluruh rakyat untuk bekerja. Artinya, kita semua diberi tanggung-jawab oleh Tuhan. Jangan mengandalkan gembala atau aktivis saja. Tanyakan kepada diri sendiri, adakah talenta, materi, tenaga, atau waktu yang masih bisa kita persembahkan untuk gereja?

Mari kita bersama-sama memajukan gereja tempat kita beribadah. Dukunglah pelayanan dengan mengisi pos-pos pelayanan yang ada, seperti: Sekolah Minggu, kelompok kecil, tim visitasi, tim doa, tim ibadah, ataupun kepanitiaan. Doakan, bersatu hati, dan bersandarlah pada janji penyertaan Tuhan, maka kemuliaan-Nya pasti akan menaungi gereja kita!

 

Penutup

Kita telah belajar bahwa kita tidak boleh patah semangat ketika menghadapi kesulitan dalam pelayanan karena Tuhan berjanji untuk senantiasa menyertai kita. Mari kita jadikan ini sebagai komitmen pelayanan kita. Seperti dalam pembuka tulisan ini, mungkin memang orang-orang yang tangguh dalam pelayanan memiliki AQ yang tinggi. Tetapi, AQ yang tinggi itu adalah hasil dari penyertaan Tuhan yang melingkupi hidup mereka. Demikian pula, Tuhan juga akan menyertai kita sehingga kita memiliki AQ yang tinggi. Bersandarlah selalu pada Tuhan Yesus karena seperti apa yang Dia katakan, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5). Amin.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *