Resensi Buku: Kenalkan Yesus pada Mereka: Mengajarkan Injil kepada Anak-Anak

sumber gambar: pelitakasih.com

Jack Klumpenhower, Kenalkan Yesus pada Mereka: Mengajarkan Injil kepada Anak-Anak (Terj.). Jakarta: Momentum, 2014. ix + 292 hlm.; 14,00 x 21,00 cm.

 

Apa yang seharusnya diajarkan kepada anak-anak Kristen? Bagi Klumpenhower, yang terutama adalah Injil. Mungkin bagi sebagian orang, pemikiran ini terlihat sederhana. Akan tetapi, karena banyak gereja dan keluarga secara perlahan tidak lagi memusatkan pengajarannya pada Injil, kedewasaan rohani anak-anak Kristen di dalamanya tidak bertumbuh dengan baik. Menurut Klumpenhower, pengajaran yang bersifat moralisme hanya akan menimbulkan kesombongan dan frustrasi dalam diri anak-anak. Akibatnya, pengertian mereka terhadap anugerah keselamatan menjadi kabur dan mereka tidak mampu menjalani hidup yang berkenan kepada Allah.

Membuat anak-anak Kristen tertangkap pada Injil adalah tema utama dari buku ini, yang terbagi atas dua bagian. Lima bab pertama dalam buku ini membahas mengapa Injil harus diajarkan kepada anak-anak. Pada bagian ini, Klumpenhower berusaha dengan sangat baik dalam memaparkan dasar-dasar Alkitab mengenai Injil dan kebutuhan anak-anak terhadapnya. Dengan mempelajari bagian ini secara cermat, pembaca dapat mengerti bagaimana konsep anugerah yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak sehingga hidup mereka dapat diubahkan seperti yang Allah kehendaki.

Dalam enam bab berikutnya, Klumpenhower melanjutkan pembahasannya dengan mengetengahkan topik seputar bagaimana cara mengajarkan kabar baik tersebut. Bagian ini diawali dengan penjelasan mengenai metode-metode untuk mengajarkan Yesus dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Melalui contoh-contoh teks Perjanjian Lama, Klumpenhower memaparkan bahwa Yesus juga merupakan inti berita dari Perjanjian Lama. Sedangkan terhadap Perjanjian Baru, Klumpenhower memaparkan bagaimana metode untuk menarik pribadi dan pekerjaan Yesus darinya. Penguasaan terhadap metode-metode yang dipaparkan dalam buku ini sangat berguna dalam pelayanan pengajaran firman Tuhan kepada anak-anak. Dalam bagian kedua ini pembaca juga dapat mempelajari aspek-aspek pengajaran lainnya yang harus diperhatikan dalam mengajarkan Injil kepada anak-anak.

Klumpenhower sangat menekankan bahwa anak-anak harus mengerti dengan baik tentang anugerah dan tidak terjebak untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang nampak di permukaan saja. Dari sisi lainnya, dia juga menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan buruk yang tampak di permukaan pasti bermuara pada masalah yang paling mendasar, yaitu Yesus bukan menjadi fokus hidup mereka. Bagaimana kedua sisi kewaspadaan ini diterapkan dalam pelayanan anak merupakan hal yang dibahas dalam buku ini dengan cara yang segar namun mendalam.

Sepintas, Klumpenhower terlihat terlalu menekankan anugerah Allah dalam setiap pemberitaan firman Tuhan kepada anak-anak. Dengan demikian, bisa saja muncul kekhawatiran bahwa anak-anak akan melonggarkan ketaatannya dan menjadi lunak terhadap dosa. Oleh sebab itu, pada bagian terakhir buku ini Klumpenhower memberikan dua belas alasan yang cukup kuat mengapa pengajaran anugerah Allah yang cuma-cuma tidak akan melonggarkan ketaatan.

Bagian yang cukup menarik dan sekaligus juga menjadi salah satu kekuatan buku ini adalah adanya penerapan praktis yang disediakan pada setiap akhir babnya. Untuk membuatnya menjadi lebih relevan, Klumpenhower membaginya atas beberapa kelompok orang, seperti guru sekolah minggu, pemimpin pujian atau orang tua. Tidak hanya itu, Klumpenhower juga menyediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin pembaca tanyakan terkait dengan pembahasan ada.

Buku ini ditulis dengan sangat baik, termasuk juga versi terjemahannya, dan mempunyai keseimbangan antara teori dan praktek. Selain itu, pengalaman dalam bidang pelayanan anak selama 30 tahun juga menjadi modal tersendiri bagi Klumpenhower sehingga mampu mengupas aspek-aspek pemberitaan Injil kepada anak-anak dengan bobot yang cukup mendalam. Dengan jujur, Klumpenhower juga memaparkan kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya, yang sebenarnya dapat dilakukan oleh siapa pun juga, sehingga pembaca dapat belajar darinya untuk memaksimalkan setiap kesempatan pelayanan yang ada.

Satu hal yang mungkin menjadi kelemahan buku ini adalah kasus-kasus yang disajikan hanya diambil dari pengalaman Klumpenhower selama pelayanannya. Alangkah lebih baik lagi jika ditunjang juga dengan data dan fakta dalam dunia pelayanan anak secara global.

Walaupun materi dalam buku ini secara khusus ditujukan bagi pelayanan anak, tetapi kebenaran yang ada di dalamnya juga relevan bagi pergumulan iman orang dewasa. Karena itu, buku ini patut dibaca oleh semua kalangan, tidak hanya para guru Sekolah Minggu dan orang tua saja.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *