Khotbah Dan. 6: Pelajaran dari Daniel

Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.

(Dan. 6:11)

 

Sebagai orang Kristen tentu kita terbiasa mendengar frasa “memikul salib.” Namun demikian, banyak orang yang masih keliru memahaminya. Bagi mereka, asal mengalami kesusahan, maka itu berarti memikul salib. Misalnya, ketika mengalami penghinaan dari orang lain atau, ketika mengalami masalah dalam rumah tangga.

Namun sebenarnya, arti memikul salib bukan sekadar mengalami kesusahan. Banyak alasan mengapa kita dihina oleh orang lain ataupun mengalami masalah rumah tangga. Memikul salib lebih tepat diartikan ketika kita mengalami tekanan dari lingkungan karena iman kita. Inilah yang dialami oleh Daniel.

Daniel’s Answer to the King (Daniel menjawab raja) lukisan Briton Rivière, R.A. (1840-1920), 1890 (Manchester City Art Gallery) (sumber gambar: wikipedia.com).

Ketika karir Daniel melesat sehingga menduduki jabatan yang sangat tinggi di Babel, maka mulai banyak musuh yang bermunculan. Mereka terus berusaha mencari cara untuk menjatuhkan Daniel. Tetapi karena Daniel adalah orang yang betul-betul takut akan Allah, maka mereka tidak mendapatkan celah sedikit pun baik dalam pribadi maupun perbuatan Daniel. Satu-satunya cara, mereka menyerang kedekatan hubungan Daniel dengan Tuhan. Strategi ini berhasil. Raja termakan dengan tipu muslihat mereka sehingga mengeluarkan peraturan yang akhirnya menjebak Daniel. Daniel pun dilemparkan ke gua singa.

Kisah Daniel ini mengajarkan banyak hal. Pertama, orang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan pasti akan menjadi orang yang bermutu tinggi dan menjadi berkat bagi banyak orang. Ini berlawanan dengan asumsi banyak orang bahwa hal rohani tidak ada kaitannya dengan hidup sehari-hari. Akibatnya, mereka banyak mencari solusi dari luar Alkitab. Padahal, firman Tuhan adalah standar hidup yang terbaik.

Kedua, ketika firman Tuhan diterapkan di tengah dunia yang tercemar oleh dosa, maka tidak jarang akan ada perlawanan. Kita tentu masih ingat ketika Pak Ahok membenahi Jakarta. Banyak orang yang terbiasa melakukan penyimpangan menjadi musuhnya. Begitu pun ketika kita hidup semakin menurut firman Tuhan, hampir dapat dipastikan akan ada tekanan dari orang-orang yang melawan Tuhan. Mengapa demikian? Terang yang dari Tuhan tidak akan pernah cocok dengan kegelapan dunia. “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:9-11).

Ketiga, apapun kesusahan yang kita hadapi, teruslah menerapkan firman Tuhan. Ada dua pilihan, mau melawan manusia atau melawan Tuhan sendiri? Kita bisa memilih apa yang enak bagi kita di dunia ini, tetapi ujung-ujungnya kita akan berhadapan dengan Tuhan. Tuhan Yesus pernah berkata: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mat. 10:28).

Apa yang dialami oleh Daniel ketika tetap teguh dalam iman? Tuhan memberikan penyertaan yang luar biasa. Daniel bisa keluar dari gua singa tanpa kekurangan apapun. Lebih jauh lagi, dengan mukjizat lepasnya Daniel dari gua singa, Raja Darius mengeluarkan maklumat di wilayahnya untuk menghormati Allahnya Daniel: “Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa” (Dan. 6:27-28).

Kisah Daniel adalah kisah yang luar biasa. Namun perlu diingat, tidak selalu penyertaan Tuhan dalam hidup kita sama seperti apa yang Daniel alami. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita dan yang paling memuliakan nama-Nya. Jika dengan melepaskan kita dari kesusahan adalah jalan yang terbaik, pasti itu yang akan Tuhan lakukan. Tetapi jika dengan mengalami kesusahan karakter kita dapat dibentuk semakin indah dan semakin banyak orang yang diteguhkan dengan kesaksian iman kita, maka itu pun yang akan Dia lakukan.

Kesimpulannya, jangan pernah merasa rugi dalam mengikut Tuhan walaupun banyak kesusahan. Hidup adalah kesempatan untuk memuliakan Tuhan, bukan kesempatan untuk memuaskan hawa nafsu. Belajarlah seperti Tuhan Yesus yang menghadapi salib dengan doa: “janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39). Berpikirlah dari sudut pandang kekekalan dan mintalah bimbingan Roh Kudus, maka kita akan dimampukan untuk melakukan yang terbaik di dunia ini. Amin.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *