Khotbah Mzm. 8: Manusia, Makhluk yang Hina Sekaligus Mulia

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud. 2 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. 3 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam. 4 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: 5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? 6 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. 7 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: 8 kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; 9 burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan. 10 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!

(Mzm. 8)

 

Seorang teolog yang bernama Yohanes Calvin berkata: “Mengenal Allah, mengenal diri. Mengenal diri, mengenal Allah.” Maksudnya, semakin kita mengenal Allah, maka kita akan semakin mengenal keberadaan diri kita sebagai ciptaan-Nya. Demikian pula sebaliknya. Semakin mengenal diri kita, maka kita pun akan semakin mengenal Allah. Contohnya, orang bisa menyombongkan diri sampai-sampai  tidak percaya Allah karena dia tidak menyadari kerapuhan dirinya sebagai ciptaan dan keagungan Allah sebagai Pencipta.

Keagungan Allah Terlihat Dari Alam Semesta yang Dia Ciptakan

Bagaimana caranya untuk mengenal Allah? Mazmur ini mengajarkan bahwa salah satu cara untuk mengenal Allah adalah melalui ciptaan-Nya. Ketika kita melihat betapa rumitnya Allah mengatur alam semesta ini, maka kita akan melihat betapa agungnya Dia.

Sampul buku A Fine-Tuned Universe yang ditulis oleh Alister E. Mc. Grath (sumber gambar: amazon.com)

Sebuah buku yang dikarang oleh seorang ilmuwan Kristen yang juga teolog, A Fine Tuned Universe (2009), menjelaskan bahwa alam semesta diciptakan dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Contohnya adalah besar gaya tarik bumi (biasa disebut sebagai gaya gravitasi). Jika gaya tarik bumi tersebut diubah nilainya sedikit saja, nggak usah sepersepuluhnya atau seperseratusnya, bahkan hanya sepersejuta triliun pun, maka manusia tidak mungkin bisa beraktivitas dengan normal di atas permukaan bumi.

Manusia Tidak Ada Apa-Apanya di Hadapan Allah

Berdasarkan fakta-fakta semacam itu, kita dapat menyadari seberapa jauhnya perbedaan antara Allah dengan manusia. Dalam Yes. 40:15 dinyatakan, “Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca. Sesungguhnya, pulau-pulau tidak lebih dari abu halus beratnya.

Negara yang sangat kuat seperti Mesir (pada zaman PL), Romawi (pada zaman PB), atau Amerika Serikat (pada masa kini), sebenarnya hanyalah debu dalam pandangan Allah. Buktinya, tidak ada satu bangsa pun yang mampu terus bertahan menjadi bangsa yang super power. Termasuk juga Amerika Serikat, yang pengaruhnya terus memudar karena bangkitnya Tiongkok.

Jika negara yang super power saja serendah itu nilainya di mata Allah, apalagi manusia. Tidak ada seorang manusia pun yang bisa membuat Allah kagum dengan kelebihan-kelebihannya.

Walaupun Tidak Berarti, Manusia Diberi Kemuliaan oleh Allah

Namun demikian, Allah ternyata mau memberi kemuliaan pada manusia. Dengan cara apa? Allah menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupa-Nya. Bahkan Allah juga memberikan mandat kepada manusia untuk berkuasa atas seluruh ciptaan (Kej. 1:26-28). Jadi kita melihat bahwa pada waktu diciptakan, manusia sebenarnya memiliki kedudukan yang sangat istimewa.

Sayangnya, manusia memilih untuk jatuh dalam dosa. Rusaklah semua keistimewaan itu. Bumi pun penuh dengan penderitaan, sakit-penyakit, kejahatan, dan sebagainya. Kita semua merindukan bagaimana relasi dan kemuliaan dengan Allah seperti pada saat penciptaan tersebut terjadi. Keadaan yang tidak mungkin tercapai karena keberdosaan manusia begitu najis sehingga tidak mungkin bersanding dengan kekudusan Allah.

Kristus Mengarahkan Orientasi Kita ke Arah yang Benar

Namun demikian, Allah mempunyai jalan keluar yang tidak terpikirkan oleh manusia (Yes. 55:8-9). Dia mengutus Anak-Nya yang Tunggal untuk mengurbankan diri-Nya dan menebus dosa-dosa manusia. Dengan cara itu, dosa-dosa manusia ditutupi oleh kebenaran-Nya sehingga manusia bisa kembali bersekutu dengan Allah.

Dengan meyakini pengurbanan Kristus, maka kita dapat memandang Allah dan manusia dengan cara pandang yang benar. Kita dapat belajar untuk hidup sesuai dengan apa yang telah Allah gariskan. Memang kita manusia yang terbatas, namun diberi otoritas dan wewenang atas dunia. Dengan cara itulah kita bisa melayani Allah yang Mahabesar dan telah membuktikan kasih-Nya kepada kita melalui pengurbanan Kristus.

Apa Pengaruhnya Bagi Kita?

Melalui mazmur ini kita belajar bahwa manusia diciptakan dalam kemuliaan karena dalam diri manusia ada gambar dan rupa Allah. Walaupun dipandang rendah oleh sesamanya karena kekurangan secara fisik ataupun mental, atau juga dianggap sebagai orang jahat, manusia tetaplah diciptakan segambar dan serupa dengan Allah dan memiliki kemuliaan di dalam diri mereka. Ini yang membuat kita tidak bisa menerima aborsi ataupun euthanasia. Karena itu, bagaimanapun keadaan kita, jangan minder! Juga, jangan memandang rendah sesama, bagaimanapun keadaan mereka.

Di lain pihak, mazmur ini juga mengingatkan bahwa kita hanyalah ciptaan Tuhan. Walaupun seseorang bisa mencapai kemajuan teknologi yang begitu tinggi, bisa mengelola keuangan sehingga bisa memimpin perusahaan yang begitu besar, atau bisa menjadi seorang yang terpandang di dunia, tetapi dia tetaplah manusia yang merupakan ciptaan Allah. Karena itu, kita tidak boleh sombong hanya karena merasa memiliki kelebihan-kelebihan dibanding orang lain. Lebih jauh lagi, kita juga akan menolak ajaran-ajaran para motivator dan juga para psikolog yang menempatkan manusia terlalu tinggi, seolah-olah dapat meraih apa saja dalam hidup ini.

Kiranya renungan ini kembali mengarahkan cara pandang kita tentang Allah dan diri sendiri. Amin.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *