Tokoh Alkitab: Elimelekh

1 Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.
2 Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana.
3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya.

(Rut 1:1-3)

Elimelekh pergi ke Moab bersama istri dan dua anaknya (dilukis oleh Alexandre Bila, hak cipta sudah kadaluarsa).

Elimelekh adalah seorang tokoh Alkitab yang mungkin sering terabaikan. Kisah hidupnya hanya tercatat dalam ketiga ayat di atas. Namun demikian, ada satu hal penting yang dapat kita pelajari dari kehidupannya.

Elimelekh (dalam bahasa Ibrani berarti “Allah adalah raja”) adalah suami Naomi. Dia adalah seorang kepala keluarga di daerah Betlehem-Yehuda. Dia hidup pada zaman para hakim memerintah (sekitar tahun 1100 S.M.). Karena negerinya sedang dilanda kelaparan, Elimelekh pun membawa keluarganya mengungsi ke tanah Moab. Wajar, bukan, seorang kepala keluarga menyelamatkan keluarganya?

Tetapi mari kita cermati ayat-ayat Alkitab lainnya. Kelaparan yang melanda Yehuda pada waktu itu sebenarnya menandakan hukuman Tuhan karena mereka tidak mau taat kepada-Nya (Ul. 11:14; 32:24; melanggar Im. 26:3-4). Buktinya, pada ayat terakhir kitab Hakim-Hakim (Hak. 21:25), tercatat bahwa pada masa itu “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” Pada masa hakim-hakim, tercatat bahwa bangsa Israel mengalami masa kegelapan karena adanya kebobrokan di segala bidang.

Semua umat Tuhan pada masa itu memang mengalami kelaparan. Elimelekh sendiri pun tidak mungkin bisa mengubah keadaan karena dosa tersebut merupakan kesalahan kolektif bangsanya. Bukan akibat dosanya sendiri. Namun demikian, solusi yang diambil oleh Elimelekhlah yang membuat Tuhan tidak berkenan. Alih-alih bersandar pada Tuhan, dia malah pergi ke Moab. Padahal, Moab adalah musuh bebuyutan bangsa Israel (Bil. 22:1-25:9).

Tindakan Elimelekh ini mengingatkan kita pada kesalahan Bapa-Bapa bangsa Israel, Abraham, Ishak, dan Yakub, ketika mereka mengalami kelaparan (Kej. 12:10; 47:4; dan 26:1-3). Tindakan seperti itu menunjukkan bahwa Elimelekh mempunyai iman yang kecil terhadap masalah yang dihadapinya.  Dalam kitab Taurat, Tuhan sudah memperingatkan supaya umat-Nya tidak menjalin hubungan dengan orang-orang Moab (Ul. 23:3-6). Tetapi, Elimelekh mengabaikan peringatan tersebut (bahkan nantinya kedua anaknya mengawini perempuan Moab, sesuatu hal yang dilarang Tuhan dalam Ul. 7:1-4).

Apa yang terjadi dengan keluarga Elimelekh di Moab? Nasibnya sungguh tragis. Elimelekh meninggal. Demikian pula dengan kedua anak laki-lakinya, Mahlon dan Kilyon. Istrinya, Naomi, menjadi janda bersama dengan kedua menantu perempuannya, Orpa dan Rut. Sampai-sampai ketika pulang ke Betlehem, Naomi tidak mau dipanggil dengan nama aslinya artinya: manis), tetapi “Mara” (artinya: kepahitan). Dia tahu bahwa “tangan Tuhan teracung kepadanya” (Rut. 1:13).

Dari kisah hidup Elimelekh ini, kita belajar bahwa ketika menghadapi keadaan yang sulit, kita tidak boleh menggunakan cara yang mudah dan berlawanan dengan kehendak Tuhan untuk mengatasinya. Sebaik apapun kelihatannya, cara-cara tersebut justru akan membuat permasalahan hidup kita semakin rumit.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Mendekatlah pada Tuhan. Biarlah Dia memberikan hikmat-Nya kepada kita sehingga kita mampu melewatinya dengan cara yang berkenan pada Tuhan. Apa yang dilakukan oleh Elimelekh tersebut sangat ironis. Arti namanya “Allah adalah raja.” Akan tetapi, dia tidak percaya bahwa Allah mengontrol segala situasi kehidupan anak-anak-Nya di muka bumi.

Jika kita mempelajari kitab Rut ini hingga tuntas, kita akan melihat bahwa Allah berdaulat atas segala peristiwa yang ada di muka bumi ini (bahkan mengatur hingga ke masalah kecil, seperti pertemuan Rut dengan Boas). Oleh sebab itu, kita tidak perlu khawatir bahwa persoalan hidup kita akan membuat kita jatuh tergeletak.

Kemudian, kitab Rut juga mengajarkan bahwa Allah peduli terhadap permasalahan anak-anak-Nya. Walaupun sempat mengalami lika-liku kehidupan yang begitu tragis, Naomi akhirnya dipulihkan oleh Tuhan sehingga menantunya, Rut, menikah dengan Boas, penebus dari kaum keluarga Elimelekh. Nantinya, dari garis keturunan Rut akan lahir Raja Daud, yang merupakan jalur keturunan Mesias! Sungguh suatu berkat yang luar biasa.

Demikianlah yang akan dilakukan juga oleh Tuhan ketika kita menghadapi persoalan hidup. Bahkan, ketika kita sempat “salah arah” dan meragukan kasih-Nya, tangan-Nya tetap akan menopang kita. Karya Tuhan dalam hidup Elimelekh (dan juga Naomi) ini mengingatkan kita akan lagu berikut:

Jalan hidup orang benar
Diterangi oleh cah’ya Firman Tuhan
Jalan hidup orang benar
Semakin terang hingga rembang tengah hari
Apabila dia jatuh, tidaklah dibiarkan sampai terg’letak
S’bab tangan Tuhan jua yang menopangnya
Dan membangunkan dia kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *