Bukan Sekadar Menjadi Pengikut Tuhan (Mat. 16:5-12)

Print Friendly, PDF & Email

Apa yang menjadi kesukaan Anda dalam pelayanan? Salah satu pelayanan yang menjadi kesukaan saya adalah membimbing orang untuk menerima dan mengenal Tuhan Yesus. Ketika melakukan bimbingan, saya mendapati beberapa kekeliruan dasar yang biasa orang-orang pahami. Namun ketika mengevaluasi diri, saya yang merasa tahu lebih dibanding mereka yang baru mau belajar, ternyata masih bisa melakukan kekeliruan-kekeliruan yang bersifat dasar. Contoh kecil saja, dalam keadaan-keadaan tertentu, saya masih bisa meragukan bahwa Tuhan adalah pengendali kehidupan, padahal pelajaran itu telah saya dapatkan sejak Sekolah Minggu.   

Saya kemudian merenungkan, lamanya mengikut Tuhan ternyata tidak menjamin bahwa kita akan mengenal Tuhan lebih dalam. Itulah yang terjadi pada murid-murid Tuhan Yesus dalam kisah ini. Ketika Tuhan Yesus memperingatkan mereka untuk waspada terhadap “ragi orang Farisi dan Saduki,” mereka mengira bahwa Dia sedang bad mood karena mereka tidak membawa roti. Walaupun mereka telah sekian lama menjadi murid-Nya, melihat sendiri mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya, mendengar sendiri ajaran-ajaran-Nya, mereka masih saja gagal untuk mengenal siapa Dia.

Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menegur mereka sebagai orang-orang yang kurang percaya (bahasa Yunaninya oligopistoi, “yang beriman kecil”). Tuhan Yesus mengingatkan apakah mereka sudah lupa dengan mukjizat memberi makan 5000 orang (Mat. 14:13-21) dan 4000 orang (Mat. 14:32-39)? Jika memang yang Dia maksudkan tidak ada roti, apa susahnya untuk sekali lagi mengadakan mukjizat memberi makan untuk segelintir orang dalam perahu itu? Kemudian, Tuhan Yesus juga pernah mengibaratkan Kerajaan Surga seperti ragi yang mengembang (Mat. 13:33). Itu semua seharusnya membuat mereka peka bahwa dalam kesempatan ini, Dia juga sedang menggunakan ragi sebagai perlambang. Apa artinya?

Ragi biasa dicampurkan ke dalam adonan roti supaya mengembang (sumber gambar: claygentry.com)

Pada masa itu, orang-orang Farisi dan Saduki merupakan dua golongan keagamaan yang ternama. Sebenarnya keduanya saling bermusuhan. Tetapi, dalam hal melawan Tuhan Yesus, mereka kompak untuk berkomplot. Mereka tidak mau mengakui-Nya sebagai Mesias karena dalam bayangan mereka, Mesias adalah seorang pemimpin politik dan militer yang akan membuat Israel kembali mengalami masa-masa jayanya. Ajaran dan perlawanan orang-orang Farisi dan Saduki terhadap Tuhan Yesus inilah yang hendaknya diwaspadai oleh murid-murid. Sayangnya, karena terpaku pada kebutuhan jasmani, mereka gagal memahami ajaran rohani yang sangat penting ini.

Dari kisah ini, hendaknya kita belajar bahwa untuk dapat mengenal Tuhan dengan benar, kita harus memiliki kepekaan rohani. Kita bisa saja telah puluhan tahun aktif melakukan pelayanan. Ribuan khotbah telah kita dengarkan. Tetapi tanpa memiliki mata dan telinga yang peka terhadap hal-hal rohani (Mat. 13:16-17), maka kita tidak akan mengalami pertumbuhan iman. Akibatnya, hal-hal jasmani (baik itu berkelimpahan maupun berkekurangan), bisa mengaburkan pandangan kita tentang Tuhan.

Oleh sebab itu, marilah kita terus mengasah kepekaan rohani kita. Tidak sekadar merenungkan firman Tuhan secara rutin, tetapi juga berdoa meminta bantuan Roh Kudus. Karena hanya oleh kuasa Roh Kuduslah maka kita bisa melembutkan hati untuk menerima setiap perkataan Allah dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Pertanyaan untuk Direnungkan

  1. Siapakah Tuhan Yesus bagi Anda secara pribadi? Jelaskan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Hal-hal/aktivitas-aktivitas apa sajakah yang biasanya bisa menjadi kegagalan Anda dalam membangun hubungan yang benar dengan Tuhan? Mintalah kepada-Nya untuk memberi kekuatan supaya Anda mampu mengatasinya.
  3. Apakah Anda bisa membedakan orang yang sungguh mengenal Tuhan dengan orang yang asal menjadi pengikut Tuhan? Jelaskan dan refleksikan dalam diri Anda pribadi.
Bagikan artikel ini:

Leave a Reply