9 Kebohongan yang Biasa Dipercayai Orang-Orang Kristen

Print Friendly, PDF & Email

Baru-baru ini saya menyelesaikan satu buku yang sangat menarik. Judulnya: 9 Common Lies Christians Believe – and Why God’s Truth is Infinitely Better (Multnomah, 2019). Buku ini dikarang oleh Michael Shane Pruitt, seorang penginjil dan pengajar Alkitab yang artikel-artikelnya sering dimuat dalam situs-situs Kristen populer.

Sumber gambar: amazon.com

Salah satu hal yang membuat saya tertarik untuk membacanya (bahkan menghabiskannya, di tengah-tengah kesibukan saya) adalah isinya yang sangat relevan bagi kehidupan orang Kristen. Pruitt memaparkan sembilan kebohongan yang biasa dipercayai oleh orang-orang Kristen. Nah, apa saja kebohongan itu? Mari kita simak satu persatu.

KEBOHONGAN #1: Allah tidak akan memberi masalah yang lebih besar dari apa yang mampu kita tanggung

Ketika berhadapan dengan penderitaan yang biasa dialami oleh manusia, kita sering mendengar pernyataan bahwa “Tuhan tidak akan memberikan apa yang tidak mampu kita tanggung”. Benarkah demikian?

Jika kita melihat keadaan di sekitar kita, tampaknya ada begitu banyak penderitaan yang bisa dialami oleh anak-anak Tuhan, yang membuat mereka putus asa. Bahkan, tidak jarang, kita mendengar kasus bunuh diri.

Salah satu ayat yang biasa dijadikan dasar untuk pernyataan tersebut adalah 1Kor. 10:13, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Dari ayat tersebut, orang-orang Kristen bisa berpikir bahwa Allah tidak akan memberikan kesulitan lebih dibanding apa yang bisa mereka tanggung.

Namun penafsiran tersebut kurang tepat. Jika melihat konteksnya (baca ayat-ayat sebelumnya), maka Paulus sedang berbicara tentang pencobaan. Dan dia mengatakan bahwa tidak ada pencobaan yang tidak akan mampu kita tanggung.

Mengapa? Perhatikan kata-kata “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.” Inilah kebenarannya: kita mampu bertahan dalam setiap pencobaan jika bersandar pada Allah yang setia! Kekuatan Allahlah yang akan membuat kita mampu bertahan!

Jadi, yang Allah janjikan sebenarnya adalah Dia akan selalu menyertai kita di dalam setiap keadaan. Pemazmur berkata: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (Mzm. 46:2)

Jika kita benar-benar memahami kenyataan hidup, apakah ada hal yang bisa kita atasi dengan kemampuan sendiri? Tidak! Semuanya di luar kemampuan kita. Bukti: Apakah kita bisa ada tanpa Allah menciptakan kita? Apakah kita bisa mengendalikan ekonomi dunia? Apakah kita bisa berpikir tanpa otak yang Allah berikan? Apakah kita bisa memperpanjang detak jantung kita?

Bersandarlah pada Allah, karena kita tidak mungkin hidup tanpa-Nya. Juga, Tuhan tahu bagaimana rasanya menjadi manusia:

  1. Tuhan Yesus pernah menjadi orang miskin (Luk. 9:58).
  2. Tuhan Yesus pernah dikhianati (Mrk. 3:21; 14:72; Mat. 26:15)
  3. Tuhan Yesus pernah berduka (Luk. 19:41; Yes. 53:3)
  4. Tuhan Yesus pernah menghadapi pencobaan (Ibr. 2:18)
  5. Tuhan Yesus pernah mengalami penderitaan (Mat. 26:38)
  6. Tuhan Yesus pernah merasa ditinggalkan oleh Allah (Mat. 27:46)

Salah satu ayat yang biasa disalahmengerti orang Kristen adalah Flp. 4:13: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ayat ini bukan bicara tentang hal-hal seperti meraih kemenangan atau mencapai prestasi!

Pada waktu Paulus menuliskan ayat ini, dia sedang menjalani tahanan rumah dan ancaman kematian karena memberitakan Injil. Tetapi situasi seperti itu justru dia gunakan untuk menguatkan gereja di Filipi. Paulus selalu dapat bersukaita dan menjadi berkat di dalam situasi yang buruk sekalipun karena ada Roh Kudus yang menyertainya!

Kebenaran: Terkadang Allah bisa memberikan hal-hal yang lebih besar daripada apa yang bisa kita tanggung, tetapi Dia tidak akan memberikan hal-hal yang lebih besar daripada apa yang bisa Dia tanggung melalui diri kita.

KEBOHONGAN #2: Orang Kristen yang meninggal akan menjadi malaikat

Ketika menghibur sesama yang berduka karena orang terdekatnya meninggal, sering orang berkata (terutama di negara-negara Barat): “Jangan sedih, Tuhan mendapatkan satu malaikat lagi.” Benarkah demikian?

Kebenaran utamanya: manusia tetaplah manusia dan malaikat tetaplah malaikat. Bahkan, posisi kita sebagai manusia terlihat lebih istimewa. Mengapa? Ketika sepertiga malaikat jatuh, mereka tidak memiliki kesempatan untuk bertobat. Sementara ketika manusia jatuh, Allah mengirim Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa-dosa mereka yang percaya kepada-Nya.

Kematian bukan menjadikan seseorang berubah wujud sebagai malaikat. Tetapi, kematian merupakan cara Tuhan untuk memanggil pulang anak-anak-Nya yang terkasih. Mereka akan berhadapan muka dengan Tuhan Yesus. Inilah janji Tuhan yang layak kita jadikan sebagai penghiburan.

Namun demikian, hanya orang-orang yang percaya pada Tuhan Yesuslah yang berhak menerima janji tersebut. Kita sering mendengar ungkapan RIP (Rest in Peace) bagi seseorang yang meninggal. Tetapi hanya Tuhan dan orang itu yang benar-benar tahu apa yang diimani dalam hatinya.

Kebenaran: Ketika seorang percaya meninggal, Allah tidak mendapat tambahan satu malaikat lagi. Tetapi, Allah memanggil pulang orang tersebut untuk bersekutu bersama-Nya dalam kekekalan.

KEBOHONGAN #3: Allah hanya ingin melihat kita senang

Semua orang pasti mengejar kesenangan, betul? Namun, apakah pengejaran akan kesenangan itu pasti akan membuat kita bahagia?

Tidak jarang, apa yang tadinya kita anggap akan menyenangkan kita justru malah mencelakakan kita.

Ibarat seekor ikan yang jenuh dan melompat keluar dari wadahnya, tetapi malah mati kehabisan oksigen.

Permasalahannya bukannya kita tidak boleh mengejar kesenangan. Tetapi mari kita renungkan sejenak kesenangan yang biasa dipikirkan manusia. Kesenangan itu biasanya bergantung pada keadaan sekitar. Padahal kita tahu, keadaan bisa berubah.

Rapuh sekali, bukan, kesenangan yang semacam ini?

Dua pertanyaan yang perlu direnungkan adalah:

1) Apakah kesenangan adalah satu-satunya faktor yang memengaruhi hidup kita? Apakah kita terbiasa memutuskan sesuatu berdasarkan pertimbangan apakah kita bisa senang atau tidak?

2) Bagaimana jika kita sudah mendapatkan kesenangan, tetapi malah kehilangan Allah? Bagaimana jika ternyata Allah sudah menyiapkan hal yang lebih berharga lagi?

Alkitab mengajarkan kita bukan untuk menghindari kesenangan, tetapi untuk membedakan antara:

  1. Sukacita duniawi, yaitu sukacita yang bergantung pada keadaan sekitar, dan
  2. Sukacita sejati, yaitu sukacita yang bergantung pada Kristus

Alkitab menyatakan:

1)Sukacita yang sejati adalah buah Roh (Gal. 5:22). Ketika Roh Kudus ada dalam hati kita, maka kita akan mendapat sukacita.

2) Sukacita yang sejati bukan karena keadaan, tetapi karena Yesus (Yoh. 15:11). Selama kita berfokus pada Yesus, maka kita bisa bersukacita dalam kondisi apa pun.

3) Bersukacita adalah perintah Alkitab (Flp. 4:4). Menjadi orang Kristen tetapi murung terus? Sungguh aneh!

Kemudian, sukacita yang sejati, karena berasal dari Allah, pasti akan selaras dengan Alkitab, firman Allah.

Sukacita sejati tidak akan mungkin menghasilkan pikiran seperti:

– “Saya cinta Yesus, tetapi saya tidak suka membaca Alkitab”

– “Saya cinta Yesus, tetapi saya tidak setuju dengan Alkitab, terutama ayat-ayat ini”

– “Saya malas ke gereja, yang penting Tuhan tahu hati saya”

Ingat, Tuhan Yesus akan selalu “mengganggu” zona nyaman hidup kita. Dia sering kali akan mengarahkan kita untuk melakukan sesuatu yang berlawanan dengan ego kita. Mengapa? Karena kita masih memiliki keinginan daging, yang pasti berlawanan dengan keinginan Roh.

Oleh sebab itu, jika kita terus merasa nyaman dalam menuruti ego, hati-hati, jangan-jangan bukan Yesus yang sejati yang kita sembah.

Kebenaran: Sukacita yang dipikirkan oleh manusia dibangun di atas keadaan sekitar, tetapi sukacita yang dinyatakan dalam Alkitab dibangun di atas Kristus.

KEBOHONGAN #4: Saya tidak akan pernah bisa mengampuni dia

Penulis buku ini membuka bagian ini dengan kisah nyata seorang gadis yang mengalami tragedi yang sangat mengerikan. Suatu hari, ibunya tewas di sampingnya setelah diberondong tembakan oleh orang tak dikenal.

Bagaimana jika kita berada di posisinya? Apakah kita akan mampu mengampuni pembunuh tersebut?

14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu. (Mat. 6:14-15)

Mengampuni bisa menjadi tanda bahwa kita benar-benar anak Tuhan, yang telah merasakan sendiri pengampunan Tuhan.

Tetapi secara jujur, mengampuni bisa terasa sangat berat. Mengapa? Mungkin karena kita masih memiliki pemahaman yang keliru.

Mari kita pahami panduan-panduan berikut….

#1: Mengampuni bukan berarti harus sampai bisa melupakan

Sangat manusiawi untuk berkata: “Saya tidak akan pernah mampu untuk melupakannya.” Namun, kita bisa tetap ingat apa yang orang lain lakukan, tetapi dengan anugerah Allah, kita bisa memilih untuk mengampuninya.

#2: Mengampuni bukan berarti menyetujui tindakan tertentu

Sering kali kita merasa berat untuk mengampuni seseorang karena berpikir bahwa dengan mengampuni, kita menyetujui tindakan orang tersebut. Ini pikiran yang keliru.

Sebenarnya, pengampunan berarti menyerahkan kepada Allah, Hakim yang adil dan sempurna. Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim. Sela (Mzm. 50:6)

#3: Mengampuni bukan berarti kita bersedia diperlakukan semena-mena

Contoh kasus: jika kita mengampuni seorang pembunuh, akankah kita tetap membiarkan orang tersebut masih berada di sekitar kita?

Mungkin saja tidak. Mengampuni bukan berarti kita menjadi ceroboh.

Mengampuni berarti kita melindungi diri sendiri dan membuang jauh kepahitan yang ada dalam diri kita.

#4: Mengampuni bukan berarti hubungannya harus sedekat dulu lagi

Tuhan Yesus mengutus kita “seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat. 10:16). Ada hubungan-hubungan tertentu yang justru lebih sehat jika kita memiliki jarak dengan orang lain.

(namun ini jangan selalu dijadikan alasan, sehingga sebenarnya kita menjauh dari orang tersebut karena belum mengampuninya)

#5: Pengampunan bukan berasal dari permintaan maaf

Pengampunan selalu berasal dari Tuhan. Orang baru bisa mengampuni dengan benar ketika dia telah merasakan pengampunan Tuhan.

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Ef. 4:32)

#6: Pengampunan bukan didasarkan pada sikap orang

Kita tetap harus mengampuni, entah bagaimana pun sikap orang yang telah menyakiti hati kita (Ibr. 12:15)

#7: Pengampunan bukan tindakan yang mudah

Pengampunan sering kali sangat berat. Emosi kita sangat campur-aduk.

Tetapi ingat: Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1:37).

Kebenaran: Jika Anda ingin menjadi penerima pengampunan, maka Anda harus menjadi pemberi pengampunan.

KEBOHONGAN #5: Ikuti kata hatimu

“Waktu hidup kita terbatas, jangan disia-siakan. Maka, ikuti saja kata hatimu.” Nasihat semacam ini sering kita dengarkan, bukan? Walaupun terlihat baik, namun sebenarnya nasihat ini sangat buruk. Mengapa demikian?

Hati (Ibr. lebab/leb, Yun. kardia), mengacu pada pusat pikiran, kehendak, dan emosi manusia. Masalahnya, Alkitab menyatakan: “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu,… ” (Yer. 17:9). Tuhan Yesus juga menegaskan bahwa semua yang jahat timbulnya dari dalam hati manusia (Mrk. 7:21-23). Maukah hidup kita dipimpin oleh hal semacam ini?

Sebagai anak Tuhan, kita tidak diminta untuk mengikuti kata hati kita. Tetapi, kita diminta untuk mengikuti Yesus saja. Memang, setelah bertobat, Tuhan memperbarui hati kita (Yeh. 36:26; Yer. 24:7). Namun demikian, hati kita masih tetap dicemari oleh dosa.

Oleh sebab itu, taatilah Roh Kudus, yang telah bertakhta dalam hati kita, untuk menuruti semua perintah Tuhan di dalam Alkitab. Karena yang lain bisa menyesatkan!

Kebenaran: Jangan ikuti kata hatimu, ikutilah Yesus.

KEBOHONGAN #6: Allah tidak peduli denganmu

Salah satu kekeliruan terbesar yang mungkin terkadang kita percayai adalah Allah itu sama seperti kita: bisa gagal, bisa lupa, bisa tidak peduli, dll.

Padahal, sebagai Allah, dia memiliki sifat-sifat yang tidak mungkin bisa kita miliki sebagai ciptaan:

  1. Mahakuasa (Mat. 19:26; Yes. 40:28)
  2. Mahahadir (Mzm. 139:7-8)
  3. Mahakasih (1Yoh. 4:8)
  4. Mahatahu (1Yoh. 3:20)

Allah tidak memerlukan bantuan untuk melakukannya dan sifat-sifat tersebut tidak pernah pudar!

Walaupun Allah begitu agung, tidak memerlukan apapun di luar diri-Nya, namun Dia begitu menginginkan kita hingga rela mengorbankan Anak-Nya! Tidak hanya menebus kita dari dosa, tetapi Allah juga menjadikan kita anak-anak-Nya! Betapa indahnya kebenaran ini…

Allah telah mengirim Anak-Nya ke dunia, berinkarnasi menjadi manusia. Bahkan, Tuhan Yesus juga akan datang kembali ke dunia kelak. Itu semua membuktikan bahwa Allah selalu mengingat kita. Imanuel – Allah ada bersama kita! (Mat. 1:23 BIMK).

Perasaan akan kehadiran Tuhan ini, yang dinyatakan oleh Roh Kudus yang bertakhta dalam hati kita, akan membawa damai sejahtera dalam hidup kita.

Kebenaran: Allah tidak melupakanmu…. Dia mengingatmu…. Dia ada bersamamu.

KEBOHONGAN #7: Dia (orang yang menyakiti kita) tidak mungkin berubah

Adakah orang yang sangat mengecewakan kita?

Sampai-sampai kita berpikir…

Dia tidak mungkin berubah!

Jika selama ini ada keluarga, rekan, pasangan, ataupun orang lain yang begitu mengecewakan kita, sehingga kita berpikir “dia tidak mungkin berubah,” maka inilah saatnya untuk kita sendiri berubah, yaitu:

Berubah untuk berhenti memercayai pernyataan yang tersebut, yang sebenarnya keliru! Mengapa keliru? Alkitab menyatakan: Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1:37)

Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk. 15) mengajarkanbahwa Allah sangat mengasihi anak-anak-Nya. Bahkan, kasih-Nya tetap ada ketika anak-Nya itu memilih untuk menyakiti hati-Nya, seperti Si Bungsu.

Namun, yang terhilang sebenarnya bukan hanya Si Bungsu, tetapi juga Si Sulung. Dia tidak suka ayahnya tetap mengasihi Si Bungsu, yang telah berbuat kurang ajar.

Nah… sering kali Allah belum mau mengubah orang yang mengecewakan kita, sebelum Allah mengubah hati kita untuk siap menunjukkan kasih kepadanya. Allah tidak mau kita bersikap seperti Si Sulung….

Maka dari itu, jangan sampai kita kehilangan pengharapan dan ingin menjauhkan orang tersebut dari hidup kita untuk selama-lamanya.

Ingatlah!

Selama orang itu masih bernafas…

Dan selama Allah masih ada…

Maka masih ada harapan bagi orang tersebut untuk berubah!

Kebenaran: Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Dia memiliki kuasa untuk mengubah orang sehingga orang tersebut dapat menjalani hidup yang berkenan bagi-Nya.

KEBOHONGAN #8: Allah tidak menyukaiku

Pernahkah kita berpikir bahwa Allah tidak menyukai kita? Mungkin karena dosa-dosa kita, kegagalan-kegagalan kita, dsb.?

Penulis memaparkan bahwa orang-orang yang terpuruk bisa jatuh ke dalam kekeliruan, yang disebutnya if/then theology (teologi jika/maka):

Jika saya melakukan ini untuk Tuhan, maka Tuhan juga akan melakukan itu untuk saya….

Jika saya berusaha keras untuk menyenangkan Tuhan, maka Tuhan juga pasti akan berusaha keras untuk menyenangkan saya….

Berhati-hatilah dengan self-righteousness (kebenaran yang didasarkan atas diri sendiri). “Jika saya melakukan ini, maka pasti Tuhan akan senang kepada saya.”

Paham seperti ini bisa membawa dua dampak:

1) Kesombongan. Ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi. Akibatnya, tidak memerlukan Tuhan.

2) Keputusasaan. Merasa gagal karena tidak memenuhi standar tertentu. Akibatnya, tidak peduli dengan Tuhan.

Alkitab mengajarkan bahwa: Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu (Ef. 2:1). Artinya apa?

Sebagai “orang mati,” tidak ada sesuatu pun yang bisa dilakukan untuk membuat Allah menyukai manusia! Manusia tidak bisa membuat Allah menyukai mereka dengan uang mereka, prestasi mereka, doa-doa mereka, kesalehan mereka, pelayanan mereka, dan sebagainya….

Alkitab mengajarkan bahwa manusia tidak perlu, dan tidak mampu, berusaha untuk membuat Allah menyukai mereka. Kebenarannya adalah, Allah sendiri yang turun untuk menyukai manusia. Tuhan Yesus berinkarnasi menjadi manusia, hidup di tengah-tengah manusia, dan menyerahkan nyawa-Nya bagi manusia.

Iman kepada Tuhan Yesus, itulah yang akan membuat Allah berkenan kembali kepada manusia, yang telah “dilahirkan kembali/lahir baru.”

Itulah yang dinamakan God’s unconditional love (“kasih Allah yang tanpa syarat”). Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Rm. 5:8).

Kebenaran: Kita tidak bisa berusaha keras untuk membuat Tuhan senang, bersamaan dengan perasaan damai sejahtera karena Tuhan sudah menyenangi kita.

Pilihlah salah satu!

KEBOHONGAN #9: Percayalah pada dirimu sendiri

Secara psikologis, ada anggapan bahwa kepercayaan diri yang rendah adalah akar dari banyak masalah pribadi dan sosial. Maka dari itu, seseorang harus dibangkitkan rasa percaya dirinya untuk mencapai apa yang dia inginkan. Benarkah demikian?

Dalam budaya masyarakat modern, sering diajarkan bahwa kita dapat meraih apapun yang kita mau! Kita diajar untuk percaya pada kemampuan diri sendiri dan merasa bahwa kita dapat mengendalikan situasi. Sayangnya…

Kita tidak menyadari bahwa semakin kita bersandar pada diri sendiri, semakin kita terperosok. Mengapa? Salah satu musuh terbesar kita ternyata adalah diri kita sendiri!

Alkitab mengajarkan:

1) Percaya pada diri sendiri membuat kejatuhan umat manusia (perhatikan godaan Iblis dalam Kej. 3:5)

2) Percaya pada diri sendiri membuat bangsa Israel tertimpa berbagai masalah (bukti: Hak. 17:6)

3) Percaya pada diri sendiri berlawanan dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus (Mat. 16:24)

Jika kita berusaha untuk hidup dengan memercayai diri sendiri, suatu saat kita bisa terjebak dalam kekecewaan, ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran. Tekanan untuk berusaha mengendalikan segala situasi akan membuat kita dihempaskan oleh kerasnya kehidupan.

Kita tidak diciptakan untuk percaya pada diri sendiri, melainkan percaya pada Pribadi yang mampu mengontrol kehidupan, yaitu Allah.

Dengan percaya pada Allah, kita telah meninggalkan tekanan yang ada dalam diri kita dan menaruhnya pada Pribadi yang mampu mengendalikannya.

Allah mengendalikan segala sesuatu, dan memiliki rencanya yang baik di dalamnya.

Kita bisa jatuh, Allah tidak….

Kita membuat kesalahan, Allah tidak….

Dia akan selalu dapat disandarkan.

Berlawanan dengan ajaran dunia, Alkitab justru mengajarkan bahwa:

1) Untuk ditinggikan, kita harus merendahkan diri (Yak. 4:10).

2) Untuk menjadi kuat, kita harus menjadi lemah (2Kor. 12:9-10).

3) Untuk menerima, kita harus memberi (Kis. 20:35).

4) Untuk mendapatkan, kita harus kehilangan (Flp. 3:7-8).

Inilah beberapa paradoks Injil!

Kebenaran: Kita tidak perlu hidup dengan tekanan untuk memercayai diri sendiri ketika kita dapat sepenuhnya percaya bahwa Allah berdaulat.

Kira-kira, poin mana yang pernah Anda percayai? Semoga setelah membaca tulisan ini jadi sadar, ya….

Bagi Anda yang memerlukan file PDF postingan Instagram dari tulisan ini silakan klik di sini.

Bagikan artikel ini:

Leave a Reply