Apakah Kitab Amsal Membolehkan Dilakukannya Hukuman Fisik dalam Mendidik Anak?

Print Friendly, PDF & Email

Pemberian hukuman fisik (physical discipline) dalam mendidik anak merupakan sebuah topik yang kontroversial pada masa kini. Sementara ada budaya yang melarang, tetapi ada yang membolehkannya. Mana yang harus kita ikuti?

Seorang pembelajar Alkitab di studibiblika.id pun menanyakan hal ini. Apalagi ada ayat-ayat Alkitab, terutama dalam kitab Amsal, yang kelihatannya mendukung pemberian hukuman fisik. Misalnya, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” (Ams. 13:24).

Benarkah demikian?

Jika kita mencermati keseluruhan kitab Amsal, hukuman fisik muncul berulang kali di dalamnya: 3:11–12; 10:13; 13:24; 17:10; 19:18, 25; 20:30; 22:15; 23:13–14; 26:3;  29:15, 17, 19.

Di dalam kitab ini, hukuman/didikan (mûsār) sering disandingkan dengan teguran (tôkaḥat), yang dapat diartikan sebagai hukuman fisik yang diberikan untuk memperoleh hikmat.

Sementara itu, tongkat (šēbet) dalam Ams. 13:24 (dan banyak bagian lainnya) bukan diartikan sebagai metafora (gambaran), namun sebagai suatu alat untuk melakukan disiplin secara fisik. Jadi, kitab Amsal membolehkan orang tua untuk memberikan hukuman fisik.

Dua golongan yang perlu diberi hukuman fisik adalah anak-anak dan orang bodoh (bukan secara intelektual, tetapi orang yang tidak mengabaikan hikmat). Anak-anak perlu dididik supaya mendapat hikmat, karena hal itu tidak bisa didapatnya secara otomatis.

Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi. (Ams. 10:13)

Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya. (Ams. 22:15)

Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, hukuman fisik harus diberikan untuk maksud yang positif, yaitu memberikan hikmat dan menyelamatkan dari bahaya di masa depan.

Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya. (Ams. 29:15)

13 Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. 14 Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati. (Ams. 23:13-14)

Kedua, orang tua harus meneladani Allah dalam segala segi kehidupan, termasuk dalam mendidik anak. Jika Allah adalah kasih, maka orang tua juga tidak boleh menghukum anak hanya karena emosi atau benci. Semua harus dilandasi oleh kasih, dengan tujuan untuk membawa kebaikan pada diri anak.

Hal tersebut dapat terlihat dari ayat berikut:

11 Apabila TUHAN menghajar engkau, anakku, terimalah itu sebagai suatu peringatan, dan jangan hatimu kesal terhadap didikan-Nya itu. 12 TUHAN menghajar orang yang dicintai-Nya, sama seperti seorang ayah menghajar anak yang disayanginya. (Ams. 3:11-12)

Ketiga, hukuman fisik tidak boleh diterapkan dalam segala situasi (ini sesuai jenis sastra kitab Amsal, yang isinya tidak boleh asal diterapkan).

Orang tua harus memiliki hikmat. Jika perkataan saja dirasa sudah cukup, maka tidak perlu memberikan hukuman fisik (apalagi membuatnya trauma). Ada anak (yang telah memiliki hikmat) maka cukup dinasihati saja dia akan mengerti.

Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal. (Ams. 17:10)

Keempat, hukuman fisik tidak boleh diberikan kelewat batas (menurut saya ini yang paling susah; sering karena terlalu emosi, orang tua menjadi kelewat batas). Salah satu terjemahan ayat Ams. 19:18 bisa bermakna demikian:

Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.

Jadi, ajaran kitab Amsal tentang hukuman fisik ini bermaksud baik, berimbang, dan bukan membenarkan dilakukannya kekerasan fisik kepada anak-anak. Kitab Amsal, sebagai firman Tuhan, tetaplah mengandung belas kasihan dan anugerah.

Bagaimana dengan budaya atau teori yang melarang hukuman fisik (bahkan harus menjauhkan anak secara total dari hukuman)?

Perlu dicamkan baik-baik bahwa ada bahaya yang besar jika kita kita tidak mau mendidik anak-anak kita. Karena tidak diajar dengan baik, mereka bisa melakukan tindakan-tindakan bodoh yang dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Hukuman fisik memang terlihat menyakitkan bagi anak, tetapi jika memang diperlukan (lihat prinsip-prinsip yang telah dibahas), sebenarnya kita sedang menghindarkan anak dari permasalahan yang lebih besar di kemudian hari.

Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. (Ibr. 12:11)

Materi dalam postingan ini diolah dari beberapa bagian dalam Baker Commentary on the Old Testament Wisdom and Psalms: Proverbs, karya Tremper Longman III dan juga rujukan dari beberapa Alkitab edisi studi serta sumber-sumber lainnya.

Bagikan artikel ini:

Leave a Reply