Maksud Allah dalam Cobaan Hidup (Yak. 1:2-4)

Print Friendly, PDF & Email

2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, 3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. 4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. (Yak. 1:2-4)

Cobaan hidup merupakan hal yang umum dialami oleh semua orang. Ada berbagai ajaran di dunia terkait bagaimana manusia harus menanggapi cobaan hidup. Misalnya, dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “nrimo ing pandum.” Artinya, mampu menerima kenyataan hidup apa adanya. Ada juga ajaran yang mempercayai bahwa cobaan hidup itu terjadi karena karma, atau perbuatan buruk kita di masa lalu. Sementara itu, di dunia maju yang serba instan ini, manusia juga semakin didorong untuk mendapatkan kenikmatan. Sshingga kalau bisa, cobaan hidup itu harus dihindari atau cepat-cepat diselesaikan. Bagaimana pandangan Alkitab? Apa bedanya cobaan hidup yang dialami oleh orang-orang Kristen dengan yang lain?

Jika kita membaca Yak. 1:2-4 ini sekilas, mungkin kita akan merasa aneh, “Yang namanya pencobaan pasti buruk, kok disuruh bahagia?” “Mana bahagianya kalau saya sakit, tidak punya uang?” Sebenarnya, Yakobus tidak mengajarkan untuk merasa bahagia karena pencobaan itu sendiri. Tetapi, Yakobus mengajarkan bahwa kita untuk berbahagia karena apa yang akan Allah kerjakan melalui pencobaan itu.

Pencobaan yang bagaimana? Dalam surat Yakobus, pencobaan bisa berarti dorongan batin untuk melakukan dosa atau tekanan hidup yang diakibatkan dari situasi di luar diri kita. Dalam Yak. 1:2-4 ini, pengertian kedualah yang dimaksud oleh Yakobus. Dalam konteks kita bisa berarti: tekanan ekonomi, persoalan rumah tangga, relasi, dosa, dan sebagainya. Intinya, apa yang biasa kita kenal sebagai cobaan hidup. Kita harus menganggapnya sebagai kebahagiaan setiap kali cobaan hidup itu datang.

Yakobus mengajarkan bahwa cobaan hidup bukan terjadi secara kebetulan atau sekadar sebagai hukuman atas perbuatan buruk kita. Itu juga bukan fase hidup yang buruk sehingga harus cepat-cepat dilewati. Tetapi, cobaan hidup yang kita alami sejatinya merupakan ujian iman. Seperti emas yang dimurnikan, maka cobaan hidup itu juga memurnikan iman kita. Pada kondisi tenang, semua bisa mengaku memiliki iman. Tetapi pada kondisi yang sulit, akankah kita tetap percaya pada kebaikan Tuhan? Perwujudan iman di dalam kehidupan sehari-hari seperti ini sangat ditekankan oleh Yakobus di dalam suratnya, termasuk ketika kita menghadapi cobaan hidup.

Selanjutnya, ujian iman akan menghasilkan ketekunan dalam hidup kita. Artinya, bukan berarti kita bersikap pasif atau menyerah saja dengan situasi. Melainkan, kita memiliki daya tahan untuk melewati cobaan hidup tersebut. Tentu saja, daya tahan ini juga terjadi karena pertolongan Roh Kudus.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Kita juga akan semakin matang rohaninya. Hal-hal yang buruk kita buang, hal-hal yang baik kita tambahkan. Olahraga akan menguatkan otot tubuh kita, demikian pula cobaan hidup akan menguatkan otot rohani kita. Akibatnya, kita bisa “sempurna dan utuh.” Kematangan karakter ini akan membuat kita tidak kekurangan apapun. Apa pun yang terjadi, kita tetap bisa mengucap syukur dan memuji Tuhan. Luar biasa! Jika kita bisa seperti ini, bukankah hidup kita akan kokoh?

Jadi, kita melihat bahwa Tuhan sebenarnya menggunakan cobaan hidup untuk maksud yang baik. Jangan buru-buru putus asa. Tidak ada hal yang buruk dalam kehidupan orang Kristen, asalkan kita menghadapinya menurut cara pandang yang benar. Kiranya Roh Kudus menguatkan kita selalu. Amin.

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Direnungkan

  1. Apa yang bisa membuat cobaan hidup itu bisa terasa berat? Sebaliknya, apa yang membuat cobaan hidup itu bisa terasa ringan?
  2. Apakah semua cobaan hidup itu berasal dari Tuhan? Renungkan baik-baik pertanyaan ini dan jelaskan langkah-langkah praktis yang harus Anda lakukan dalam menghadapi cobaan hidup.
  3. Jika dalam cobaan hidup itu ada maksud Tuhan yang baik, apakah kita selayaknya meminta Tuhan untuk terus memberikan cobaan hidup?
  4. Bagaimana penerapan kebenaran firman Tuhan ini dalam mendidik anak?
Bagikan artikel ini:

Leave a Reply