Apa Itu Doa Yabes? (1Taw. 4:10)

Print Friendly, PDF & Email

Kisah Yabes sendiri, beserta doanya, hanya muncul dalam dua ayat berikut:

9 Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: “Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan.” 10 Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!” Dan Allah mengabulkan permintaannya itu. (1Taw. 4:9-10)

Doa Yabes ini (1Taw. 4:10) sering disalahpahami oleh orang-orang Kristen. Sebagian orang menganggap doa ini sebagai semacam “mantra” untuk mendapatkan berkat jasmani yang melimpah. Hal tersebut mengakibatkan ada sebagian orang lainnya yang justru antipati dengan doa ini. Kedua ekstrim tersebut terjadi karena ketidaktahuan terhadap konteks doa Yabes ini.

Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap doa Yabes? Saya akan mengajak kita untuk melihat latar belakangnya terlebih dulu.

Kitab 1 Tawarikh menceritakan silsilah dan juga sejarah kerajaan Yehuda. Kitab ini kemungkinan besar ditulis oleh Ezra kepada orang-orang Yehuda yang telah kembali dari pembuangan di Babel. Alkitab mencatat bahwa pada abad ke-6 S.M., Yerusalem dihancurkan oleh kerajaan Babel. Selama 70 tahun, banyak warga Yehuda ditawan dan hidup di tanah pembuangan.

Setelah kembali dari Babel, keadaan rohani mereka sangat terpuruk. Sebagai umat pilihan, mereka diliputi perasaan cemas apakah janji-janji Tuhan kepada nenek moyang mereka masih tetap berlaku.

Di tengah keadaan seperti itu, lahirlah seorang laki-laki bernama Yabes. Nama ini diberikan oleh ibunya karena pada waktu dilahirkan, ibunya mengalami kesakitan. Dalam bahasa Ibraninya, kata “Yabes” dan “kesakitan” terdengar mirip. Sebagaimana kebiasaan orang-orang Yahudi pada masa itu yang memberi nama sesuai dengan keadaan yang dibayangkan, mungkin ibunya merasa bahwa masa depan Yabes akan penuh dengan kesengsaraan.

Namun demikian, di tengah segala situasi sulit yang ada, Yabes meminta penyertaan kepada Tuhan. Dia beriman bahwa Tuhan pasti akan menjaga perjanjian-Nya. Dalam doanya, Yabes meminta empat hal kepada Tuhan: 1) berkat Tuhan; 2) perluasan wilayah; 3) penyertaan Tuhan; serta 4) perlindungan dari malapetaka.

Jadi, doa Yabes sebenarnya sangat jauh dari “teologi kemakmuran.” Doa ini sangat alkitabiah karena mengakui bahwa Allah adalah sumber berkat dan pertolongan. Yabes tahu, hidup dan masa depannya tidak ditentukan oleh kesulitan-kesulitan yang ada. Termasuk juga nasib buruk, seperti ramalan dalam namanya. Hidup Yabes ditentukan oleh Allah yang berdaulat.

Bagaimana dengan kita? Masihkah kita percaya kebaikan Tuhan ketika berada dalam masa-masa sulit? Alkitab banyak mengajarkan bahwa kita harus mendekat kepada Tuhan di masa-masa kesesakan. Misalnya:

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Ibr. 4:16)

Mari jadikan doa sebagai penopang kehidupan kita. Bukan untuk meminta berkat jasmani secara berlebih, tetapi untuk meminta penyertaan Tuhan. Jangan salah paham, Tuhan tidak melarang kita untuk meminta berkat jasmani. Tetapi, jangan memintanya secara berlebihan.

Tuhan Yesus telah memberi teladan dalam Doa Bapa Kami, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11). Perhatikan kata-kata “yang secukupnya.” Yakobus juga mengingatkan untuk tidak meminta hal-hal yang hanya akan dihabiskan menurut hawa nafsu kita. “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak. 4:3).

Mari jadikan doa Yabes sebagai pengingat untuk tetap bersandar pada Tuhan di tengah kesulitan hidup, bukan sebagai “mantra” untuk mendapatkan berkat jasmani yang berlebih!

Bagikan artikel ini:

Leave a Reply