Terlalu Sibuk? Justru Harus Berdoa (Luk. 5:15-16)

Print Friendly, PDF & Email

15 Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. 16 Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa. (Luk. 5:15-16)

Judul renungan ini sebenarnya saya ambil dari judul sebuah buku karangan seorang pendeta senior dan penulis Kristen yang sangat produktif dari Amerika Serikat, yaitu “Too Busy Not to Pray.” Judul tersebut menggelitik pikiran saya karena itulah pergumulan banyak orang Kristen, mungkin termasuk kita. Kita bisa menjadi terlalu sibuk dengan rutinitas harian (apalagi bagi para profesional yang juga menjadi aktivis gereja) dan juga terlalu banyak hal-hal yang terlihat mendesak untuk dilakukan (bahkan, sekadar membuka medsos pun bisa menjadi “aktivitas wajib” bagi sebagian orang pada zaman ini). Doa, sebuah aktivitas yang nampak tidak berarti, menjadi satu hal yang sangat mudah untuk kita coret dari jadwal harian kita.

Menurut saya, satu-satunya manusia yang bisa mencoret doa dari jadwal hariannya adalah Yesus. Sebagai Anak Allah, Dia memiliki kuasa yang tidak terbatas untuk mengendalikan dunia ini. Dia juga memiliki koneksi yang erat dengan Bapa-Nya. Namun demikian, kehidupan pelayanan-Nya justru memperlihatkan bahwa doa merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Berulang kali Lukas menulis Yesus berdoa (3:21; 6:12; 9:18, 28-29; 11:1; 23:46). Bahkan ketika Dia semakin populer dan semakin banyak orang yang membutuhkan pertolongan-Nya, apa yang Dia lakukan? “…Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa” (5:16). Yesus mengajarkan bahwa doa harus semakin kita jadikan sebagai prioritas justru pada masa-masa ketika doa akan cenderung kita abaikan, yaitu pada masa-masa sibuk dan masa-masa penuh tekanan.

Saya memiliki prinsip bahwa jika sebuah “panggilan pelayanan” membuat saya tidak lagi memiliki waktu untuk berelasi dengan Tuhan, maka berarti itu bukan untuk saya. Bagi saya, jelas ada yang keliru jika seseorang terlalu sibuk “melayani Tuhan” sampai-sampai tidak lagi memiliki relasi dengan Tuhan yang dia layani. Orang itu bagaikan sebuah layang-layang yang ingin terbang tinggi sehingga memutuskan benang yang dirasa menghambat. Apa akibatnya jika sebuah layang-layang terlepas dari benangnya? Layang-layang itu akan kehilangan posisi kesetimbangannya. Angin yang menerpanya tidak akan membuatnya terbang tinggi, tetapi justru akan membuatnya terbang tanpa arah dan akhirnya tersangkut di pepohonan.

Entah berapa banyak orang Kristen yang “jatuh” justru ketika mereka berada di puncak kejayaannya. Pada tahun 2018, kalangan Kristen gempar ketika penulis buku yang saya sebutkan di awal tulisan ini tiba-tiba mengundurkan diri dari gerejanya karena tuduhan pelecehan seksual. Orang bertanya-tanya, mengapa bisa seseorang yang sangat dipakai Tuhan bisa jatuh dalam hal semacam itu? Saya tidak menyoroti kebenaran dari tuduhan tersebut. Yang ingin saya tekankan di sini adalah sangat mungkin Iblis menggunakan kejayaan manusia, termasuk di bidang pelayanan, untuk membuat mereka mengabaikan relasi dengan Allah. Akibatnya, hidup mereka pun hancur, nyungsep bak layang-layang yang terhempas di pepohonan.

Marilah kita teladani Tuhan Yesus. Jika Anak Allah saja memprioritaskan doa dalam kehidupan-Nya, maka itu berarti kita tidak bisa mengabaikan doa dalam kehidupan kita. Maka dari itu, “tetaplah berdoa” (1Tes. 5:17). Dalam Alkitab bahasa Indonesia, ini adalah ayat terpendek, namun berdampak besar. Maka dari itu, ingatlah sepanjang hidup kita. Amin. 

Pertanyaan Diskusi:

  1. Bagaimana kehidupan doa Anda beberapa waktu belakangan ini?
    • Jika Anda merasa menikmati doa, mengapa demikian?
    • Jika Anda merasa tidak menikmati (atau mengabaikan) doa, mengapa demikian?
  2. Apakah perbedaan orang yang menjadikan doa sebagai prioritas dengan orang yang mengabaikan doa?
  3. Apa langkah-langkah praktis yang akan Anda lakukan supaya bisa lebih berkomitmen dan menikmati doa?
Bagikan artikel ini:

Leave a Reply