Apa Untungnya Menjadi Orang Kristen Jika Nasibnya Sama dengan Orang Lain? (Mal. 3:13-18)

Print Friendly, PDF & Email

13 Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?” 14 Kamu berkata: “Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam? 15 Oleh sebab itu kita ini menyebut berbahagia orang-orang yang gegabah: bukan saja mujur orang-orang yang berbuat fasik itu, tetapi dengan mencobai Allahpun, mereka luput juga.” 16 Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: “TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya.” 17 Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. 18 Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.

(Mal. 3:13-18)

Ketika awal virus Corona menyebar, banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan akan menjaga mereka dari virus ini. Misalnya, seorang pendeta di Amerika Serikat mengabaikan himbauan pemerintah setempat untuk tidak menyelenggarakan acara lebih dari 10 orang. Dengan bangganya, dia memamerkan gerejanya yang tetap penuh. “Tuhan lebih besar dari virus yang mematikan ini,” katanya. Bahkan dia mengklaim banyak terjadi kesembuhan di gerejanya. Sayangnya, pendeta tersebut kemudian terjangkit virus Corona dan meninggal. Banyak jemaat di gerejanya, dan juga orang Kristen lainnya, yang bertanya-tanya, mengapa Tuhan membiarkan itu terjadi?

Pertanyaan yang mirip juga mungkin menggelitik pikiran kita. Dalam keseharian, orang Kristen terlihat tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Sama-sama tidak kebal dengan kesulitan hidup. Kita bisa tiba-tiba kehilangan pekerjaan, sakit berat, atau bahkan kecelakaan. Di semua gereja dan pelayanan Kristen lainnya, saya sering mendapati orang yang sangat setia melayani Tuhan, hidupnya mengalami kesengsaraan. Jika demikian, gunanya menjadi orang Kristen?

Ketika bangsa Israel, dalam hal ini rakyat Yehuda, kembali dari pembuangan di Babel, mereka juga menghadapi pergumulan iman yang mirip. Mulanya, mereka sangat bersukacita karena akhirnya Tuhan turun tangan dan mengizinkan mereka kembali ke Yerusalem. Nabi Hagai dan Zakharia membesarkan hati mereka dengan pengharapan akan kemuliaan Tuhan. Namun setelah puluhan tahun, keadaan mereka tetap terpuruk. Secara ekonomi sulit, secara politik, masih dijajah bangsa Persia.

Itulah yang kemudian membuat iman bangsa Israel goyah. “Apa untungnya menaati perintah Tuhan, jika orang-orang yang tidak kenal Tuhan malah hidupnya lebih baik?,” ujar mereka (ay. 14-15). Akibatnya, mereka mulai undur dari Tuhan dan tidak lagi beribadah dengan benar.

Pemikiran seperti ini timbul karena sebagai orang yang hidup di zaman modern, kita terbiasa berpikir untung-rugi. Bahkan, ikut Tuhan pun masih berpikir untung-rugi. Banyak anak Tuhan yang meninggalkan iman ketika dihadapkan pada “keuntungan” di depan mata: pacar, pangkat, atau ketenaran. Dalam keseharian kita, ada anekdot, “Uang 100 ribu kalau dibawa ke mall terasa kecil, tetapi kalau dibawa ke gereja terasa terlalu besar.”

C.T. Studd, seorang misionaris yang melayani di Cina dan Afrika, mengatakan, “Jika Yesus adalah Tuhan dan telah mati demi saya, maka tidak ada satu pengurbanan pun yang terlalu besar yang dapat saya lakukan bagi-Nya.” Ikut Tuhan jangan berpikir untung-rugi, karena sama sekali tidak pernah rugi. Nabi Maleakhi diutus untuk mengoreksi sikap bangsa Israel kepada Tuhan, dan di awal kitab ini, Tuhan berfirman “Aku mengasihi kamu” (1:2). Di tengah keadaan yang sulit, dan banyaknya pemberontakan yang dilakukan mereka, Tuhan tetap mengasihi bangsa Israel sebagai umat pilihan. Inilah keistimewaan sebagai anak Tuhan, termasuk juga kita.

Oleh sebab itu, di tengah segala kondisi, marilah kita tetap setia pada Tuhan, yang menjamin penyertaan-Nya bagi kita baik pada masa kini hingga akhir zaman. “Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.” (ay. 18) Amin.

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Direnungkan:

1. Jayabaya, seorang raja Kediri abad ke-12 pernah mengatakan akan datangnya suatu zaman yang sangat bobrok. “Jamane jaman edan, sing ora edan ora bakal keduman. Nanging sak bejo-bejone wong edan, isih luwih bejo wong kang eling lan waspodo.” Zaman yang bejat, sehingga kalau tidak ikut-ikutan bejat tidak akan kebagian. Tetapi seberuntungberuntungnya orang yang bejat, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada. Pada masa kini, dosa semakin merajalela di dunia. Banyak tawaran keuntungan sesaat. Renungkanlah, apakah kita sebagai anak-anak Tuhan tetap akan merasakan kebahagiaan di dunia ini jika memilih taat kepada Tuhan? Jelaskan secara konkret.

2. Sekarang ini banyak gereja yang berlomba-lomba untuk membuat pengajaran dan kemasan ibadah mereka diterima orang-orang zaman now. Sampai-sampai, hampir tidak ada bedanya antara ibadah di gereja dengan konser, seminar bisnis, atau standup comedy. Apa saja komitmen yang akan kita lakukan bagi gereja kita berdasarkan firman Tuhan yang telah kita pelajari? Lakukan dalam tindakan yang nyata!

Bagikan artikel ini:

Leave a Reply