Apakah Motivasi Kita dalam Menaati Tuhan? (Luk. 14:1-6)

Print Friendly, PDF & Email

1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. 2 Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. 3 Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: “Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” 4 Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. 5 Kemudian Ia berkata kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” 6 Mereka tidak sanggup membantah-Nya. (Luk. 14:1-6)

Suatu kali, seorang teman yang belum mengenal Tuhan bertanya kepada saya, “Mengapa di dalam agama Kristen tidak ada peraturan-peraturan yang detail? Di dalam agama saya, semuanya sudah diatur secara detail, dari soal pembagian warisan hingga pakaian.” Menurut dia, orang-orang Kristen kalah karena tidak memiliki panduan hidup yang lengkap seperti dalam agamanya. Sebagai anak Tuhan, bagaimana kita menjawab pertanyaan seperti ini?

Sebenarnya jika mempelajari kitab-kitab Taurat, maka kita pun akan menemukan banyak sekali peraturan. Bahkan, orang-orang Yahudi merasa masih belum puas sehingga mereka menyusun penjelasan sendiri sebagai pelengkap Taurat, yang kemudian dikenal sebagai Talmud. Namun setelah memiliki peraturan yang sangat detail, apakah membuat hidup orang-orang Yahudi semakin baik? Tidak. Sebagai manusia yang telah jatuh dalam dosa, peraturan-peraturan yang detail justru membuat mereka terbebani. Akibatnya, mereka terus berusaha mencari celah dan menaatinya secara kaku.

Hal ini terbukti ketika seorang pemimpin Farisi (aliran yang paling keras ketaatannya terhadap hukum-hukum Yahudi) mengundang Tuhan Yesus makan pada hari Sabat. Sebagai Tuhan yang tahu apa yang ada di dalam hati manusia (Yoh. 2:25), maka Tuhan Yesus sadar bahwa itu hanyalah jebakan.

Benar saja, tidak lama kemudian datanglah seorang yang sakit busung air. Orang-orang di situ tahu bahwa Tuhan Yesus mampu melakukan mukjizat. Tetapi hari itu adalah Sabat, yang menurut hukum Yahudi (yang dibuat-buat itu), tidak diperbolehkan menolong orang kecuali dalam keadaan yang mengancam nyawa. Jadi, Tuhan Yesus dihadapkan pada buah simalakama. Jika menolong orang itu, maka Dia melanggar hukum Yahudi. Tetapi jika membiarkannya, maka Dia akan terlihat tidak memiliki belas kasihan.

Apa yang Tuhan Yesus lakukan? Dia tetap menyembuhkan orang itu dan menyuruhnya pergi. Kemudian, Dia membuat mereka terperangkap dalam jebakan mereka sendiri. Tuhan Yesus berkata, jika seekor ternak mereka memerlukan pertolongan, walaupun itu hari Sabat, mereka pasti segera menolongnya. Tetapi jika yang memerlukan pertolongan adalah sesama manusia, yang diciptakan segambar dengan Allah, mengapa mereka malah membuatnya menjadi ruwet? Mereka tidak dapat membantah-Nya (ay. 6).

Apa yang Tuhan Yesus lakukan dan ucapkan pada peristiwa itu mengajar kita untuk tidak melakukan perintah Tuhan secara tampak luar saja, supaya terlihat saleh di hadapan manusia. Tetapi, itu harus dilakukan dari dalam hati kita yang telah didiami oleh Roh Kudus sehingga kita bisa mengasihi Tuhan dengan benar. Itulah sebabnya, kita tidak memerlukan perintah yang menjelimet, semua urusan kecil harus ada dasarnya baru mau kita lakukan.

Rasul Paulus menulis, “Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” (Gal. 3:24). Kristus telah menggenapi semua tuntutan Taurat, sehingga kita yang percaya kepada-Nya tidak lagi berada dalam ketakutan karena ancaman hukuman dosa. Lalu, Roh Kudus yang telah diberikan bagi kita membuat perintah-perintah Tuhan bukan lagi merupakan beban, tetapi sukacita. Itulah yang kemudian terpancar dalam kehidupan kita sehari-hari, termasuk dalam mengasihi sesama seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus ini. Amin.

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Direnungkan:

  1. Apa bedanya orang yang tampak saleh dengan orang yang benar-benar saleh? (Kaitkan antara fenomena hidup dengan apa yang dinyatakan dalam Alkitab).
  2. Apakah tandanya bahwa perbuatan baik yang kita lakukan berdasarkan motivasi untuk memuliakan Tuhan semata dan sebagai ungkapan rasa syukur kasih kita kepada Tuhan?
Bagikan artikel ini:

Leave a Reply