Gembala yang Senantiasa Mencari Domba-Nya yang Terhilang (Luk. 15:1-7)

Print Friendly, PDF & Email

1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 4 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Luk. 15:1-7)

Seorang ayah di Tiongkok yang bernama Shengkuan ramai dibicarakan orang karena mencari anaknya yang hilang (awal 2015). Saat itu, anaknya yang masih berusia 20 bulan tiba-tiba menghilang pada waktu bermain dengan sepupunya. Sejak saat itu, Shengkuan terus mencari anaknya tanpa kenal lelah. Dia bertekad untuk pergi dari satu kota ke kota lain di Provinsi Guangdong. Dan yang membuat saya tersentuh adalah, Shengkuan mempunyai keterbatasan fisik. Jadi, kita dapat membayangkan bagaimana susahnya saat dia harus merangkak sambil membawa foto anaknya menelusuri jalanan di seluruh kota.

(sumber gambar: dailymail.co.uk)

Apa yang mendorong Shengkuan untuk melakukan itu semua? Saya yakin itu semua dilakukan karena dia sangat mengasihi anaknya. Di Tiongkok banyak sindikat penjualan anak dan dia tahu anaknya tidak mungkin bisa kembali kalau dia tidak mencarinya. Apakah Shengkuan melakukan tindakan yang bodoh? Tidak. Sebagai sesama manusia, kita dapat memahami bahwa pengorbanan Shengkuan merupakan hal yang wajar dilakukan oleh seorang ayah.

Jika manusia saja bisa melakukan pengorbanan seperti itu, apalagi Allah. Pada sore hari ini kita akan belajar bahwa Allah mengerahkan seluruh upaya-Nya untuk mencari orang-orang yang terhilang dan sangat bersukacita ketika mereka ditemukan.

Kristus Datang Untuk Mencari dan Menyelamatkan yang Hilang

Pada waktu menuliskan tiga buah perumpamaan yang terkait di dalam pasal 15 ini, yaitu domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang, Lukas membukanya dengan pertemuan antara Tuhan Yesus dengan dua golongan orang. Kelompok pertama adalah para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Para pemungut cukai dibenci karena mereka menjadi kaki-tangan Romawi untuk menarik pajak ke sesama bangsanya sendiri, dan biasanya suka seenaknya sendiri menaikkan pajak.

Mereka dibenci dan dianggap sebagai pengkhianat. Sementara kelompok kedua adalah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka mengaku menjalankan Taurat dengan ketat dan punya pengetahuan luas tentang kitab suci. Karena itu, mereka merasa paling rohani dan “layak” untuk menghakimi orang lain.

Satu hal yang menarik dalam bagian ini adalah Lukas menggambarkan bahwa orang-orang berdosa, yang dipandang rendah oleh orang lain dan dianggap “tidak layak untuk masuk surga,” justru dikatakan “biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.” Ini menandakan bahwa ada sesuatu yang menarik di dalam diri Tuhan Yesus, baik ajaran-Nya maupun pribadi-Nya, sehingga orang-orang seperti merekapun datang kepada-Nya.

Tidak hanya itu, Tuhan Yesus bahkan makan bersama-sama dengan mereka. Saudara, pada masa itu, “makan bersama” bukan sekedar makan, tetapi tanda penerimaan dan solidaritas. Jadi, dengan makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, Tuhan Yesus dianggap menyamakan diri dengan mereka dan menyetujui perbuatan mereka.

Melihat hal itu, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut. Mungkin mereka protes, “Gimana sih Yesus ini, mereka mencuri, merampok, berzina! Harusnya ditegur, kok malah makan bersama!” Ini mirip kalau gereja tiba-tiba kedatangan anak muda berambut gondrong, tatoan, tindikan. Mungkin sebagian di antara kita akan merasa risih, karena kita berpikir bahwa gereja tempatnya orang baik-baik, bukan orang seperti itu. Apa benar demikian?

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu mempunyai cara pandang sendiri tentang bagaimana Allah harus bertindak kepada orang-orang berdosa. Bagi manusia, orang-orang yang baik, rajin ibadah, banyak amal, mereka layak masuk surga. Sementara yang jahat, pembunuh, pezina, suka ngomong kasar, harusnya masuk neraka.

Kita bisa melihat logika ini di dalam ajaran berbagai agama. Padahal orang-orang Farisi serta ahli-ahli Taurat itu pasti tahu bahwa Allah pernah berfirman: “sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8-9). Perbedaan Allah dengan manusia itu begitu jauh. 

Untuk menjelaskannya, Tuhan Yesus menceritakan tiga buah perumpamaan dalam pasal 15: domba yang hilang (ay. 1-7), dirham yang hilang (ay. 8-10), dan anak yang hilang (ay. 11-32). Untuk membungkam pikiran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu, Tuhan Yesus memulainya dengan menggunakan kata-kata yang jelas. “Siapakah di antara kamu,” begitu kata Tuhan Yesus, “yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (Luk. 15:4).

Dengan perumpamaan ini, orang-orang yang mendengarkan Tuhan Yesus pada saat itu, termasuk juga orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, dalam hati pasti setuju bahwa tidak ada gembala sejati yang tidak akan mencari dombanya yang hilang. Gembala sejati pasti akan melakukan apa saja untuk menemukan dombanya itu.

Jika gembala saja begitu, apalagi Allah, yang di dalam Alkitab dikatakan sebagai Allah yang “penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa” (Kel. 34:6-7). Bukannya langsung membuang, Allah malah rela melakukan apa saja dan memberikan kesempatan supaya orang-orang yang seringkali dipandang rendah oleh sesamanya mau berbalik kepada-Nya.

Kalau kita memperhatikan Alkitab, banyak sekali bukti dari kasih dan kesabaran Allah ini. Yunus marah kepada Allah karena 120.000 orang Niniwe, musuh Israel, tidak jadi dibinasakan Allah karena mereka mau merendahkan diri setelah mendengarkan khotbah Yunus. Pada waktu Daud berzina dengan Batsyeba, apakah Allah langsung mencabut nyawanya? Tidak. Allah justru mengutus nabi Natan supaya Daud bertobat. Allah mencari orang-orang berdosa untuk diselamatkan. Inilah pesan inti Injil Lukas yaitu “sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk. 19:10).

Siapakah “yang hilang itu”? Apakah kita termasuk di dalamnya? Mungkin ada di antara kita yang berpikir, “sejak kecil saya sudah ke gereja, saya juga nggak dosa-dosa amat….” Perhatikan, domba yang hilang mungkin awalnya merasa baik-baik saja. Tetapi semakin lama semakin jauh dengan kawanan domba lainnya dan pada titik tertentu, domba itu baru menyadari bahwa dirinya sudah tersesat.

Begitu juga dengan manusia. Banyak orang yang merasa diri mereka baik-baik saja karena karir lancar, keluarga harmonis, apa yang salah? Salah satu orang yang saya injili berkata demikian. Tetapi, karena merasa menjadi orang baik, maka orang seperti itu semakin merasa layak untuk masuk surga. Apa benar demikian?

Alkitab menyatakan, “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Mzm. 14:2-3). Ternyata, menurut standar Tuhan, yang mengetahui segala isi hati dan tingkah-laku manusia, tidak seorangpun yang baik! Entah itu ahli Taurat, orang-orang Farisi, pendeta, termasuk juga Anda dan saya, semuanya tidak bisa mencapai standar kebaikan Tuhan.

Jadi, kita itu sebenarnya sama berdosanya dengan orang-orang yang kita benci, sama berdosanya dengan orang-orang yang ada di dalam penjara. Kalau kita merasa sudah pasti masuk surga hanya karena rajin ke gereja dan ikut pelayanan, tetapi itu hanya membuat diri kita semakin pede, semakin merasa layak untuk diterima Tuhan, di situlah bukti bahwa kita terhilang karena salib Kristus kita rendahkan nilainya.

Orang yang merasa dirinya paling baik justru tersesat paling jauh. Lukas mencatat seorang Farisi yang berdoa, “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Luk. 18:11-12). Orang Farisi itu adalah orang yang paling celaka, karena merasa paling tahu kitab suci namun merasa paling tidak berdosa.

Demikian juga kita yang mengaku Kristen tetapi masih menikmati dosa, mengaku sudah bertobat dan terima Yesus, tetapi tidak ada perubahan hidup, kalau hari kelihatan rohani, tetapi hari Senin-Sabtu, bolehlah “berdosa sedikit,” kalau begitu, apakah benar Roh Kudus sudah ada dalam hati kita? Tepat perkataan Tuhan melalui nabi Yeremia, “Sungguh, bodohlah umat-Ku itu, mereka tidak mengenal Aku! Mereka adalah anak-anak tolol, dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu” (Yer. 4:22).

Sebelum hatinya dijamah oleh Roh Kudus sehingga bisa menerima Kristus sebagai Juru Selamat, maka semua orang pada dasarnya seperti domba yang tersesat. Domba merupakan makhluk yang lemah, tidak punya taring, tidak bisa lari kencang. Begitu tersesat, dia tidak ada harapan lagi. Dia tidak bisa pulang sendiri kalau gembala tidak mencarinya.

Demikian juga manusia yang berdosa tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Berbuat baik seberapapun banyak, persembahan seberapapun banyak, itu semua tidak bisa menghapus dosa kita. Menurut Alkitab, “kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yes. 53:6).

Itulah Allah, yang kasih-Nya digambarkan seperti kasih seorang gembala yang mencari dombanya yang hilang. Kalau kita mengerti hal ini, maka kita tidak akan merasa ke gereja itu pengorbanan karena harus menutup toko, mempersembahkan uang berarti rugi, atau ikut perjamuan kudus itu lumrah. Tidak. Itu semuanya adalah anugerah, dan hanya bisa kita lakukan karena Tuhan Yesus menebus kita sehingga kita yang penuh dosa ini dipandang benar oleh Allah.

Apakah kasih Tuhan ini betul-betul sudah menjadi arah kehidupan dan pelayanan kita? Kalau kita sudah benar-benar mengerti bahwa kita adalah domba yang hilang namun sudah ditemukan Tuhan, waktu kita melawan, Tuhan malah menggendong kita, sampai pada akhirnya kita bisa menikmati kembali persekutuan dengan-Nya, maka hidup kita akan berubah.

Kita akan menjadi karyawan yang bekerja segenap hati, bukan bekerja untuk boss, tetapi bekerja untuk Tuhan, menjadi pengusaha yang berbisnis dengan jujur, karena bukan keuntungan semata yang dicari, tetapi perkenan Tuhan, setelah pensiun bukan berfoya-foya tetapi lebih banyak berdoa dan melayani Tuhan.

Dengan mengerti kasih Tuhan, maka kita akan mengerti bahwa seluruh hidup kita sudah selayaknya dipersembahkan pada Tuhan. Karena tanpa Kristus, semua prestasi sia-sia kalau pada akhirnya kita binasa.

Dengan perumpamaan ini, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa Allah aktif mencari yang terhilang. Tetapi bukan hanya itu saja, ternyata….

Ada Sukacita Besar di Surga untuk Setiap Orang yang Bertobat

Kalau kita memperhatikan akhir dari ketiga perumpamaan dalam Lukas pasal 15 ini, ada satu kesamaan yaitu adanya sukacita setelah “yang hilang” itu ditemukan. Ada sukacita di surga pada waktu ada seorang manusia yang bertobat. Pada waktu membaca bagian ini, saya tidak habis pikir bagaimana Tuhan bisa bersukacita ketika seorang manusia bertobat. Padahal, Dia kan Allah yang gampang saja kalau mau membuat manusia lain yang jauh lebih baik dan lebih penurut.

Kalau di pabrik ada barang produksi yang cacat, gampang saja menggantinya. Tetapi, Allah mau mencari manusia seperti Paulus yang tadinya sangat membenci nama-Nya dan selalu memberontak kepada-Nya. Tidak hanya itu, sukacita Tuhan karena menemukan satu orang yang bertobat itu “lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Luk. 15:7).  

Kalau kita cermati kalimat ini, maka kita bisa menangkap maksud Tuhan Yesus, yaitu: “apakah sesungguhnya ada orang benar, sehingga tidak memerlukan pertobatan?” Tidak, karena tadi kita sudah membaca mazmur, yang mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang benar! Di dalam Yak. 2:10 tertulis, “sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Dengan standar seperti ini, kita tidak bisa mengatakan “aku lebih baik dari orang itu,” karena kelihatan besar atau kecil, ketahuan atau tidak, dosa tetaplah dosa yang membuat kita layak masuk neraka!

Jadi, Tuhan Yesus membalik pikiran orang-orang Farisi itu. Allah lebih senang melihat satu buah pertobatan dibanding dengan orang-orang yang merasa benar dan merasa tidak memerlukan pertobatan. Perkataan ini merupakan “kejutan” yang membungkam pikiran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di situ, yang selalu berpura-pura dalam kemunafikan kehidupan beragama mereka, dan mungkin kita semua yang merasa paling benar dan merasa lebih baik dibanding orang lain.

Salah satu kisah pertobatan yang sangat saya senangi adalah pertobatan Paulus. Mulanya, dia begitu bencinya dengan orang-orang Kristen sehingga berusaha membunuh mereka di manapun mereka ditemui. Sudah itu, dia juga berani berkata, “tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Flp. 3:6).

Kalau misalnya Paulus hidup saat ini, mungkin kita akan menganggap orang ini tidak layak diselamatkan. Tetapi, apa yang terjadi? Tuhan Yesus justru mencari-Nya dengan penuh kasih sehingga Paulus bertobat. Bahkan, Paulus dijadikan rasul-Nya.

Begitu bertobat, Allah tidak lagi melihat masa lalunya, tidak itung-itungan dan berkata, “Paulus, karena kamu dulu sudah begitu jahat, maka kamu akan kubuat menderita dulu biar impas.” Hati Allah tidak seperti itu. Karena itu, Paulus mengakui, “Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal” (1Tim. 1:16). 

Kalau tadi saya sudah menceritakan orang yang ekstrim merasa baik, maka ada juga orang yang ekstrim merasa berdosa. Mereka khawatir jangan-jangan Tuhan tidak mau mengampuni dia. “Mungkin kalau Si A Tuhan mau ampuni, tetapi saya?” “Saya sudah berzina,” “saya sudah durhaka kepada orang tua, sampai mereka meninggal saya belum sempat meminta maaf,” “saya tidak bisa lepas dari pornografi,” “orang-orang di sekitar saya, termasuk teman-teman di gereja, semuanya meninggalkan saya. Apakah Tuhan mau mengampuni saya?”

Alkitab menyatakan, “darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1Yoh. 1:7b). Justru kalau kita merasa Allah tidak bisa mengampuni kita karena dosa kita terlalu banyak, atau kita merasa Allah tidak seharusnya mengampuni orang-orang yang telah menyakiti kita, para pembunuh, pezina, koruptor, walaupun mereka bertobat, maka bukankah kita sudah bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu?

Tidak ada orang yang begitu jahatnya sehingga Roh Kudus tidak mampu menjamah hatinya. Bahkan kalau mau, Tuhan bisa pertobatkan tokoh agama tertentu yang saat ini membenci Kekristenan. Jelas dari teks ini bahwa Allah bersusah-payah memanggil orang-orang berdosa untuk bertobat dan justru di situlah sukacita-Nya.

Sampai sekarang Allah masih melakukannya. Contohnya, banyak misionaris yang rela diutus pergi ke seluruh pelosok dunia, bahkan mati martir. Apakah itu kekuatan mereka sendiri? Tidak. Roh Kudus bekerja di dalam diri mereka sehingga mereka bisa setia dalam pelayanan.  

Hendaknya isi hati Tuhan untuk menjangkau orang-orang berdosa juga menjadi isi hati kita. Dan kalau Allah, Pribadi yang disakiti oleh orang-orang berdosa saja bersukacita, masak sih kita, yang sama-sama penuh dosa, malah mencela pertobatan orang lain? Apakah pantas kita menghakimi orang yang masuk gereja karena dulunya pezina, dulunya preman, dulunya pernah menipu kita? Jika kita mau surga bersukacita, maka penjangkauan kepada orang-orang yang dianggap rendah oleh masyarakat harus menjadi prioritas kita. Susah? Iya. Perlu menyangkal diri? Pasti. Sia-sia? Tidak. Alkitab menyatakan, ada sukacita besar di surga.

Oleh karena itu, kita harus setia mengabarkan Injil. Walaupun tidak pergi ke Afrika untuk menjadi misionaris, tetapi kita bisa mengabarkan Injil kepada tetangga sebelah rumah. Kita bisa mengabarkan Injil kepada rekan-rekan kantor pada waktu istirahat siang. Kita juga bisa mengabarkan Injil pada orang yang bekerja membantu kita di rumah. Usahakan pertemanan dan juga percakapan kita sehari-hari dengan orang lain menjadi “pintu masuk” bagi kita untuk mengabarkan Injil.

Kemudian, jangan mudah putus asa kalau orang yang kita injili atau orang-orang yang kita sayangi sampai detik ini belum mau terima Tuhan. Tugas kita sebagai manusia hanyalah mengabarkan Injil sambil terus berdoa dengan tidak jemu-jemu karena hanya Roh Kudus yang bisa menjamah hati orang-orang yang terhilang.

Kita sudah belajar bahwa Allah mengerahkan seluruh upaya-Nya untuk mencari orang-orang yang terhilang dan sangat bersukacita ketika mereka ditemukan. Biarlah ini menjadi kekuatan kita dalam menjalani hidup dan melakukan pelayanan kepada Tuhan di semua bidang kehidupan. Karena dulunya kita semua adalah domba yang sesat, sampai Kristus datang menyelamatkan kita.

Kiranya kerinduan Tuhan untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang ini juga menjadi kerinduan kita bersama sehingga kita menjadi orang Kristen dan gereja yang giat dalam melakukan penginjilan. Percayalah Tuhan akan memberikan kekuatan bagi kita untuk hidup menjadi saksi bagi-Nya, karena Dia pernah berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20b). Amin.

Pertanyaan untuk Direnungkan

  1. Apakah penjangkauan jiwa merupakan tanggung-jawab orang-orang yang terpanggil saja? Jelaskan jawaban Anda, beserta dukungan ayat Alkitabnya!
  2. Apakah Anda telah terbiasa untuk membagikan Kabar Baik kepada orang-orang di sekitar Anda? Jika belum, apa halangannya? Jika sudah, apa yang melatarbelakangi Anda?
Bagikan artikel ini:

Leave a Reply