Masa Lalu Lebih Baik? Pikir Lagi! (Pkh. 7:10)

Print Friendly, PDF & Email

Catatan: renungan ini ditujukan bagi kaum lanjut usia (lansia). Silakan merefleksikannya sesuai dengan kondisi Anda.

Janganlah mengatakan: “Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?” Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu. (Pkh. 7:10) 

Salah satu kegemaran para lansia adalah mendengarkan “tembang kenangan.” Lagu-lagu dari Koes Plus, Panbers, D’Lloyd, dan masih banyak lagi menjadi kegemaran para orang tua. Ketika mendengarkan lagu-lagu itu, mereka merasakan seolah waktu diputar kembali. Terbayang ketika masih sekolah, mulai berumah tangga, bekerja. Rambut masih hitam, tenaga masih kuat. Sungguh, masa yang indah untuk dikenang.

Tetapi sekarang? Rambut sudah putih semua, makan tidak enak, tulang sering linu, jabatan sudah tidak ada, anak-anak di luar kota semua, bahkan tidak sedikit lansia yang terpaksa tinggal di panti jompo. Rasanya, dunia sudah berubah. Masa tua, bagi banyak lansia, menjadi masa yang serba tidak enak. Di masa ini, kenangan manis akan masa lalu justru semakin membuat hati terluka. Sampai-sampai, ada lansia yang sudah tidak betah untuk berlama-lama hidup di dunia.

Pada zaman itu, Pengkhotbah juga mengamati adanya fenomena yang sama. Banyak orang di dunia, tidak hanya para lansia, yang merasa bahwa masa lalu itu lebih baik. Perasaan ini wajar, terutama jika kita sedang menghadapi masa yang sulit. Tetapi jika dibiarkan terus, kita akan berada dalam kepahitan. Kita menjadi sulit untuk menikmati berkat-berkat Tuhan yang masih ada pada saat ini. Oleh sebab itu, Pengkhotbah mengajarkan bahwa orang yang seperti itu merupakan tanda orang yang tidak berhikmat.

Pengkhotbah mengajak kita untuk memandang dengan cara yang berbeda, yaitu sesuai dengan cara pandang Allah. Melalui cara pandang Allah, baik masa lalu maupun masa kini, sebenarnya sama (1:9). Baik masa lalu maupun masa kini, kita sama-sama masih tinggal di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Walaupun berbeda bentuk, kesulitan hidup dan dorongan untuk berbuat dosa terus menghantui kita (Ef. 5:16). Keadaan pada masa tua mungkin akan membuat kita kecewa pada Tuhan. Tetapi pada masa muda, puncak kekuatan mungkin pernah membuat kita tidak bersandar pada Tuhan.

Tetapi di sisi lain, ada anugerah Tuhan yang akan terus mengalir bagi anak-anak-Nya (Rat. 3:22-23; Mat. 28:20b). Ketika Paulus ada dalam kelemahan dan meminta tolong pada Tuhan untuk membuang kelemahan itu, Tuhan justru berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2Kor. 12:9). Jadi, anugerah Tuhanlah yang sesungguhnya menopang kita. Bukan kekuatan, pangkat, kekayaan, atau bahkan keluarga kita.

Maka dari itu, berdasarkan hikmat Tuhan, Pengkhotbah mengajarkan untuk menerima semua masa dan semua keadaan sebagai pemberian Tuhan (7:14). Dalam keadaan yang baik, nikmatilah (tentu dengan cara yang berkenan pada Tuhan). Dalam keadaan yang tidak baik (menurut kita), tetap bersyukur, karena kesulitan hidup akan membentuk kita sebagai orang percaya untuk memiliki iman dan karakter yang lebih berkenan pada Tuhan, seperti Paulus. Berdasarkan penggalian saya terhadap kitab Pengkhotbah, maka saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya masa tua pun merupakan masa jaya bagi anak Tuhan! Syaratnya, kita mau memandangnya menurut hikmat Tuhan, bukan menurut pikiran sendiri. Maka, jangan biarkan masa tua membuat kita menjadi beban bagi orang lain. Teruslah menjadi berkat, tentu dalam batas-batas yang masih mampu kita lakukan. Amin.

Pertanyaan untuk Direnungkan

  1. Apa berkat-berkat Tuhan saat ini, yang tidak bisa Anda alami pada masa lalu? (Saya ingin memaparkan perenungan ini untuk mengajak kita mengingat bahwa selalu ada berkat Tuhan di setiap keadaan. Misalnya, walaupun usia tidak muda lagi, tetapi para lansia memiliki satu berkat yang belum tentu dinikmati oleh anak muda, yaitu masa tua itu sendiri)
  2. Bagaimana hikmat Tuhan dapat kita gunakan untuk menghadapi keadaan yang diibaratkan “nasi sudah menjadi bubur”?

Ayat Alkitab Terkait

Pada hari yang baik, bergembiralah. Namun, di hari yang malang pandanglah, Allah telah menjadikan yang satu seperti yang lainnya. Karena itu, tidak ada seorang pun yang sanggup menemukan apa pun yang akan terjadi selanjutnya. (Pkh. 7:14)

Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. (Pkh. 1:9)

dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat (Ef. 5:16)

22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Rat. 3:22-23)

Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. (Mat. 28:20b)

Bagikan artikel ini:

Leave a Reply