Bermula dari Kesesakan, Berakhir dengan Ucapan Syukur (Mzm. 116)

Print Friendly, PDF & Email

1 Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. 2 Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya. 3 Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. 4 Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: “Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!”

5 TUHAN adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang. 6 TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku. 7 Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.

8 Ya, Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, dan mataku dari pada air mata, dan kakiku dari pada tersandung. 9 Aku boleh berjalan di hadapan TUHAN, di negeri orang-orang hidup. 10 Aku percaya, sekalipun aku berkata: “Aku ini sangat tertindas.” 11 Aku ini berkata dalam kebingunganku: “Semua manusia pembohong.”

12 Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? 13 Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, 14 akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya. 15 Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya. 16 Ya TUHAN, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku! 17 Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN, 18 akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya,19 di pelataran rumah TUHAN, di tengah-tengahmu, ya Yerusalem! Haleluya! (Mzm. 116)

Mengucap syukur mungkin kurang diperhatikan banyak orang Kristen, karena lebih sibuk dengan “aktivitas pelayanan.” Tetapi Paulus mengatakan bahwa Allah menghendaki umat-Nya untuk mengucap syukur di dalam segala hal (1Tes. 5:18). Jadi, ketika kita tidak mengucap syukur, maka kita sedang melawan kehendak Allah. Namun bagaimana jika keadaan kita sedang sulit?

Athanasius, seorang Bapa Gereja di abad ke-4, mengatakan bahwa kitab Mazmur adalah cermin bagi jiwa orang percaya. Dengan merenungkan kitab ini, kita bisa mengukur apakah langkah kita sedang mendekat pada Tuhan, atau malah menjauh dari Tuhan. Oleh sebab itu, mari kita renungkan keadaan diri kita dengan salah satu Mazmur Ucapan Syukur, yaitu Mazmur 116.

Pertama, apa yang kita lakukan dalam kondisi yang sulit? Mazmur ini menggambarkan keadaan pemazmur yang sangat sulit. Dia merasa sangat takut karena “tali-tali maut” mengikatnya dan kematian membayanginya (ay. 3). Dalam keadaan yang sangat menekan seperti itu, apa yang pemazmur lakukan?

Dia berseru kepada Allah dalam doa. Berbeda dengan manusia yang sering tidak bisa diandalkan (makanya pada ayat ke-11 pemazmur berkata, “Semua manusia pembohong”), Allah selalu bisa diandalkan dan selalu bersedia untuk menyendengkan telinga-Nya ketika umat-Nya berseru kepada-Nya (ay. 2). Pemazmur mengenal betul karakter Allah yang pengasih, adil, penyayang, dan memelihara umat-Nya (ay. 5-6). Allah telah terbukti menjaga perjanjian-Nya sejak zaman Abraham, Musa, hingga masa ketika mazmur ini ditulis. Jika mengenal Allah dengan benar, maka ketika badai hidup melanda, kita pasti akan bersandar pada doa sebagai kekuatan kita.

Pemazmur berkata, “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (ay. 15). Pemazmur yakin bahwa hidup dan matinya ada di tangan Tuhan karena Dia sangat memperhatikan anak-anak-Nya (Mat. 10:30). Jika belum rencana Tuhan, walaupun sakit keras atau menghadapi bahaya yang besar, orang tidak akan mati. Tetapi jika sudah rencana Tuhan, orang bisa tiba-tiba mati dalam keadaan segar bugar di lingkungan yang aman.

Benar saja, Allah kemudian menyelamatkan hidup pemazmur. Di dalam ayat ke-16, dia merasakan kelegaan yang luar biasa karena Allah telah membuka lilitan “tali-tali maut” yang tadinya dirasakannya (ay. 3). Kini dia boleh “berjalan di hadapan TUHAN, di negeri orang-orang hidup” (ay. 9).

Setelah mendapat keselamatan, pemazmur tidak lupa untuk mengucap syukur pada Tuhan yang telah menyelamatkannya (ay. 8, 17a). Dia juga berjanji akan menyerukan nama Tuhan di depan seluruh umat (ay. 17b). Dia tidak membanggakan diri bahwa keadaan sulit bisa dilewatinya karena kekuatan sendiri. Dia juga tidak menyimpan berkat rohani tersebut, tetapi mewartakannya. Inilah pelajaran kedua yang kita dapat dari Mazmur 116 ini.

Orang yang “tidak tahu mengucap syukur” tidak akan bisa memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Jangankan berbagi, dia justru akan terus merasa kekurangan berkat Tuhan. Sungguh hidup yang tidak berarti.

Padahal, kita tidak hanya menerima keselamatan dari persoalan hidup  sehari-hari tetapi juga telah mengalami keselamatan yang sejati dari maut karena penebusan Kristus. Bukankah itu seharusnya membuat hati kita senantiasa melimpah dengan ucapan syukur dan mendorong kita untuk mewartakan kasih Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita? Amin.

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Direnungkan

  1. Apakah perbedaan antara ucapan syukur dari orang yang mengenal Tuhan dengan ucapan syukur orang yang tidak mengenal Tuhan?
  2. Apa kebiasaan yang bisa Anda lakukan ke depan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan?

Leave a Reply