Akulah Roti Hidup (Yoh. 6:48-58)

Print Friendly, PDF & Email

48 Akulah roti hidup. 49 Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. 50 Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. 51 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” 52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” 53 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. 54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. 55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. 56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. 57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. 58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”(Yoh. 6:48-58)

Siapakah Yesus yang sebenarnya? Jika kita menanyakan hal ini kepada orang-orang di sekitar kita, pasti kita akan menemukan jawaban yang beragam. Bagi orang muslim, Yesus adalah manusia biasa, salah satu utusan Allah yang mereka sebut dengan nama “Nabi Isa.” Bagi pengikut Saksi Yehuwa, Yesus adalah ciptaan Allah yang sulung, yang kedudukannya tidak sederajat dengan Allah Bapa. Bagi sebagian orang lainnya, Yesus hanyalah cerita fiktif yang dibuat-buat oleh orang-orang Kristen pada abad pertama.

Bagaimana dengan orang-orang Kristen? Jika kita mengamati keadaan sekitar, tidak sedikit “orang Kristen” yang belum mengenal Yesus dengan benar. Sehingga ketika ada tantangan iman, mereka meninggalkan Yesus. Misalnya, ketika mereka mendapatkan penganiayaan atau pengucilan. Bahkan, iming-iming jabatan atau jodoh pun, bisa membuat mereka meninggalkan Yesus. Pengenalan akan Yesus dengan benar sangat memengaruhi kekokohan iman kita dan bagaimana kita menjalani hidup ini.

Akulah roti hidup” (6:35, 48) merupakan pernyataan pertama dari tujuh pernyataan “Akulah” (Yun. ἐγώ εἰμι/egō eimi) yang terdapat di dalam Injil Yohanes. Ketujuh pernyataan tersebut dikeluarkan oleh Yesus untuk menyatakan siapa diri-Nya. Pernyataan-pernyataan tersebut merupakan konsep dari Perjanjian Lama. Dengan begitu, pernyataan-pernyataan tersebut sangat mendarat di benak orang-orang Yahudi yang membaca Injil Yohanes. Strategi seperti ini mengingatkan kita pada peribahasa-peribahasa Yesus dalam mengajarkan Kerajaan Allah menggunakan gambaran sehari-hari. 

Jika berbicara tentang roti, maka pikiran kita pasti tertuju pada salah satu jenis makanan. Yesus juga mengaitkannya dengan manna, bahan makanan yang diberikan kepada bangsa Israel di padang gurun. Ketika itu, bangsa Israel bersungut-sungut karena tidak ada makanan. Mereka mengingat-ingat kembali tentang berlimpahnya makanan ketika masih berada di Mesir.

Karena sungut-sungut mereka itulah, dan karena memang Tuhan sangat memperhatikan hidup umat-Nya, maka Dia menurunkan manna langsung dari langit. Tidak hanya sehari dua hari, tetapi orang Israel memakan manna selama mereka mengembara di padang gurun, yaitu empat puluh tahun (baca kisah lengkapnya di Kel. 16). Betapa luar biasa penjagaan Tuhan!

Dengan menggambarkan diri-Nya sebagai “Roti Hidup,” Tuhan Yesus menyatakan bahwa diri-Nyalah yang menopang kehidupan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Sebagaimana roti menopang kehidupan jasmani, maka Yesus menopang kehidupan rohani. Kita tidak perlu lagi mencari ke tempat lain karena hanya di dalam Yesus saja rohani kita akan dipuaskan.

Roti Hidup berbeda dengan manna, yang ketika dimakan maka beberapa lama kemudian akan lapar lagi. Kemudian, bangsa Israel yang makan manna pun semuanya akhirnya mati (ay. 58). Sebaliknya, orang yang makan Roti Hidup tidak akan mati tetapi justru akan mendapat hidup kekal (ay. 50-51).            

Lalu bagaimana kita dapat memakan Roti Hidup? Yaitu dengan menerima Kristus di dalam hidup kita. Percayalah kepada-Nya dan wujudkanlah itu dengan menaati seluruh perintah-Nya, maka hidup kita pasti akan “dikenyangkan” oleh-Nya. Orang yang benar-benar telah makan Roti Hidup pasti akan hidup benar dan tidak akan mau berpaling dari-Nya. Amin.

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Direnungkan

  1. Sebutkan beberapa contoh kekeliruan dalam memahami pribadi Yesus dan akibatnya bagi kehidupan sehari-hari.
  2. Bagaimana pemahaman akan “Roti Hidup” ini menguatkan kita ketika menghadapi masalah sehari-hari? Misalnya, ketika menghadapi permasalahan ekonomi di masa pandemi.

Leave a Reply