Menjadi Gereja yang Mengutamakan Kristus (Kol. 1:15-23)

Print Friendly, PDF & Email

15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, 16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. 17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. 18 Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. 19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, 20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. 21 Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, 22 sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. 23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya. (Kol. 1:15-23)

Masihkah gereja relevan (penting/berguna) dalam dunia yang serba canggih seperti sekarang ini? Permasalahan hidup yang semakin kompleks dan kemajuan zaman membuat banyak orang tidak lagi memiliki gairah terhadap hal-hal rohani. Di kalangan Kristen, gereja banyak kehilangan anggotanya, terutama dari kalangan anak muda (baca saja apa yang dialami gereja-gereja di Eropa dan gereja-gereja tradisional di Indonesia). Akibat perkembangan teknologi informasi, orang mudah bosan sehingga mudah pindah gereja.

            Situasi seperti ini memaksa gereja untuk berusaha tampil relevan dengan mengakomodasi keinginan orang banyak. Demi menjangkau banyak orang, gereja menampilkan dirinya semirip dan semenarik mungkin dengan dunia. Desain ruang ibadah, tata cara ibadah, serta khotbah-khotbahnya disesuaikan dengan apa yang sedang digemari orang. Tetapi, gereja justru akan kehilangan relevansinya ketika menjadi sama dengan organisasi/perkumpulan lainnya. Orang akan berpikir, “Jika di luar gereja saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan, dan malah lebih baik, mengapa harus datang ke gereja?”

            Tantangan-tantangan seperti ini mungkin memicu kita untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang harus dilakukan oleh gereja untuk mengantisipasi perkembangan zaman?” Penelitian dan seminar seputar revitalisasi gereja (membuat gereja kembali bergairah) banyak dilakukan. Program-program baru pun banyak bermunculan. Tetapi untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita renungkan hal yang sangat mendasar, apa sih sebenarnya gereja itu dan apa keunikannya dibandingkan dengan organisasi/perkumpulan lainnya?

            Secara singkat, gereja adalah kumpulan orang-orang percaya dari sepanjang zaman yang telah ditebus oleh Kristus. Jadi, “gereja-gereja yang kelihatan,” maksudnya ada organisasinya sekarang ini seperti GBT, GKI, GKJ, HKBP, dan sebagainya, merupakan bagian kecil dari “gereja yang tidak kelihatan,” yaitu gereja yang terdiri dari orang-orang percaya dari sepanjang zaman. Kelak, semuanya akan dikumpulkan bersama Kristus di surga.

Di dalam Ef. 5:25 tertulis, “… Kristus mengasihi jemaat serta mengurbankan diri-Nya untuk jemaat itu.” Kemudian ketika berbicara dengan Petrus, Tuhan Yesus berkata, “di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Jadi, gereja ada karena Kristus mengurbankan diri-Nya untuk mendamaikan manusia dengan Allah, yang tadinya terpisah karena dosa. Kemudian, Kristus sendiri yang akan menjaga gereja-Nya dari segala ancaman, bahkan dari alam maut. Betapa istimewanya gereja! Inilah keunikan sekaligus keunggulan gereja, yang tidak dimiliki oleh organisasi/perkumpulan lainnya.

            Jadi, Kristus merupakan figur yang sangat penting dalam gereja. Pernyataan ini membantah pemikiran yang berusaha mengesampingkan Kristus dalam gereja. Banyak gereja yang berusaha membuat Kristus tidak mencolok supaya mereka bisa lebih diterima dunia. Misalnya, melakukan pelayanan sosial, tetapi tidak memberitakan Injil secara jelas. Menafsir ulang Alkitab demi mengakomodasi budaya yang lahir akibat dosa (seperti pernikahan sejenis). Atau, memasukkan topik-topik yang dirasa menarik, seperti filsafat, bisnis, psikologi, tetapi tidak mengarahkannya pada Kristus.

            Tantangan yang mirip pernah terjadi di jemaat Kolose. Ketika itu, ajaran-ajaran sesat masuk sehingga mereka tidak lagi beriman dengan benar. Ajaran-ajaran itu membuat mereka berpikir bahwa Kristus saja tidak cukup. Mereka harus melakukan ritual-ritual Yahudi (sunat, makanan, dan Sabat; 2:11, 16; 3:11), menyembah malaikat (2:18), pantang makan makanan tertentu (2:21), dan sebagainya. Mereka masih percaya Kristus, tetapi bukan lagi yang utama.

            Mendengar kabar tersebut, Paulus kemudian menulis surat untuk menguatkan jemaat Kolose supaya tetap teguh dan menumbuhkan kedewasaan iman mereka di dalam Kristus. Paulus menjelaskan bahwa “Dia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu” (ay. 17), “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (ay. 16), dan “seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia” (ay. 19). Artinya, Dia berkuasa atas segala ciptaan.

            Tidak hanya berkuasa atas segala ciptaan, Kristus juga Kepala Gereja (ay. 18), yang mendamaikan manusia dengan Allah dan kebangkitan-Nya merupakan jaminan bahwa seluruh orang yang percaya kepada-Nya juga akan dibangkitkan. Kristus memiliki otoritas (wewenang) yang mutlak (Ef. 1:22) dan Dialah yang akan menopang kelangsungan gereja-Nya.

Implikasinya, hanya Kristus yang berhak untuk mengarahkan gereja mau seperti apa. Kita tidak berhak untuk membuat gereja kita lebih menarik banyak orang, lebih megah gedungnya, atau lebih punya nama jika itu tidak sesuai dengan apa yang Kristus inginkan di dalam Alkitab. Tugas kita adalah bagaimana membuat gereja kita menyenangkan hati Tuhan dengan berfungsi sebagaimana mestinya. Kristus harus diutamakan di dalam gereja.

Bagaimana caranya untuk menjadi gereja yang mengutamakan Kristus? Pertama, Kristus harus menjadi dasar ajaran gereja (1:27-28). Jangan khawatir “kalah saing” dengan ajaran-ajaran dunia, karena Injil Kristus adalah Kabar Baik yang tidak bisa ditawarkan oleh dunia (2:3). Yohanes Calvin mengatakan bahwa di mana firman Tuhan diberitakan dan diperhatikan dengan benar, maka di situ ada gereja yang benar, walaupun penuh kekurangan.

Kedua, Kristus harus menjadi dasar pelayanan gereja (1:9-10). Apa dan bagaimana pelayanan yang dilakukan oleh Kristus selama hidup di dunia, itulah yang harus dilakukan oleh gereja (kecuali menebus dosa). Jangan mengatur pelayanan gereja sesuai selera “orang kuat” di gereja, suara mayoritas, atau tekanan lingkungan kalau tidak sesuai dengan firman Tuhan. Jangan merasa telah memberi banyak untuk gereja, jangan merasa pintar, atau merasa paling rohani. Di dalam gerja, kita berhadapan dengan Kristus, pribadi yang Mahamemiliki, Mahamengetahui, dan Mahakudus.

Ketiga, Kristus harus menjadi dasar persekutuan gereja (3:11). Di dalam gereja, tidak ada pembedaan ras, status sosial, tingkat pendidikan karena semuanya telah dipersatukan oleh Kristus. Persekutuan di gereja harus mendekatkan orang kepada Kristus, sehingga ada damai sejahtera (3:15).

Ada sebuah pujian menggambarkan gereja bagaikan bahtera yang menempuh badai (“Gereja Bagai Bahtera” NKB 111). Jika Kristus yang menjadi nakhoda, dan para awak kapal bekerja sama berdasarkan arahan Sang Nakhoda, maka bahtera tersebut akan sampai di tujuan. Tetapi jika tidak, maka bahtera tersebut pasti akan karam di tengah jalan. Amin.

Relakah gereja kita kandas di tengah badai? (Photo by Stephen Leonardi on Unsplash)

NKB. 111 – Gereja Bagai Bahtera

1. Gereja bagai bahtera di laut yang seram

mengarahkan haluannya ke pantai seberang.

Mengamuklah samudera dan badai menderu;

gelombang zaman menghempas, yang sulit ditempuh.

Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih:

Betapa jauh, dimanakah labuhan abadi?

Reff.

Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah!

Tanpa Dikau semua binasa kelak.

Ya Tuhan tolonglah!

2. Gereja bagai bahtera pun suka berhenti,

tak menempuh samudera, tak ingin berjerih

dan hanya masa jayanya selalu dikenang,

tak ingat akan dunia yang hampir tenggelam!

Gereja yang tak bertekun di dalam tugasnya,

tentunya oleh Tuhan pun tak diberi berkah.

3. Gereja bagai bahtera diatur awaknya,

setiap orang bekerja menurut tugasnya.

Semua satu padulah, setia bertekun,

demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh.

Roh Allah yang menyatukan, membina, membentuk

di dalam kasih dan iman dan harap yang teguh.

4. Gereja bagai bahtera muatannya penuh,

beraneka manusia yang suka mengeluh,

yang hanya ikut maunya, mengritik dan sok tahu

sehingga bandar tujuan menjadi makin jauh.

Tetapi bila umatNya sedia mendengar,

tentulah Tuhan memberi petunjuk yang benar.

5. Gereja bagai bahtera di laut yang seram,

mengarahkan haluannya ke pantai seberang.

Hai ‘kau yang takut dan resah, ‘kau tak sendirian;

teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan!

Bersama-sama majulah, bertahan berteguh;

tujuan akhir adalah labuhan Tuhanmu!

Pertanyaan untuk Direnungkan

1.         Bagaimana tanggapan Anda dengan adanya gereja maupun pengkhotbah yang tidak mengutamakan Kristus namun terlihat maju pelayanannya?

2.         Apa saja hal-hal yang perlu dikoreksi dalam gereja maupun pelayanan kita masing-masing untuk lebih mengutamakan Kristus?

Leave a Reply