Apa yang Menjadi Kerinduan Terdalam Kita? (Mzm. 84)

Print Friendly, PDF & Email

Pejamkan mata Anda selama 20-30 detik dan bayangkan apa yang paling Anda sukai dan inginkan dalam hidup Anda? Boleh hal yang muluk-muluk. Sudah? Apa jawaban Anda? Jawaban Anda menyiratkan hasrat terdalam hati Anda. Mungkin ada yang memikirkan anak-anak, pasangan hidup, hobi, kesehatan, dan sebagainya. Tetapi, adakah yang memikirkan Allah dan menikmati relasi dengan-Nya? Inilah hasrat terdalam penulis Mazmur 84.

Mazmur ini termasuk Nyanyian Sion, yang fokusnya pada Bait Allah di Yerusalem. Pemazmur menyatakan hasratnya yang besar untuk berdiam di Bait Allah dengan cara yang puitis. Jika burung pipit dan burung layang-layang saja menaruh anak-anaknya di mezbah Tuhan (ay. 4), masa manusia kalah? Pemazmur bukan tertarik dengan kemegahan gedung Bait Allah, melainkan pada Allah sendiri yang berdiam di dalamnya.

Kemudian dia juga membayangkan orang-orang Israel yang melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem. Pada masa itu, mereka harus menempuh medan yang berat dan penuh mara bahaya sehingga pemazmur menggambarkannya sebagai lembah Baka (artinya “air mata”). Namun, mereka akan mendapatkan kekuatan dan kesegaran dari Tuhan (ay. 7-8). Inilah gambaran perjalanan iman orang-orang percaya di sepanjang zaman.

Tuhan adalah penguasa semesta alam (ay. 2), Allah yang hidup (ay. 3), Raja (ay. 4), matahari dan perisai (memberi terang dan perlindungan, ay. 12), yang tidak menahan kebaikan bagi umat-Nya (ay. 12). Pengenalan akan Tuhan seperti inilah yang menimbulkan hasrat dalam diri pemazmur untuk bersekutu dengan Tuhan. Bahkan, menghabiskan waktu bersama Tuhan itu jauh lebih nikmat dibanding apapun yang lainnya (ay. 11).

Seperti apakah posisi Tuhan dalam hidup Anda? Skye Jethani menulis buku “With: Reimagining the Way You Relate to God.” Di dalamnya, dipaparkan beberapa kemungkinan seseorang memandang Tuhan dalam hidupnya: 1) hidup dari Tuhan (life from God), menggunakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan materi; 2) hidup di atas Tuhan (life over God), menggunakan Tuhan sebagai sumber prinsip dan aturan dalam menjalani hidup; 3) hidup di bawah Tuhan (life under God), memanipulasi Tuhan supaya mendapat berkat; 4) hidup untuk Tuhan (life for God), menggunakan Tuhan sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup. Tetapi relasi yang paling tepat adalah hidup bersama Tuhan (life with God), yaitu menempatkan Tuhan sendiri sebagai hasrat hidup.

Seperti para peziarah Israel, orang yang memiliki hasrat untuk bersekutu dengan-Nya akan terus mendapatkan kekuatan dari Tuhan. Walaupun masih tetap harus menapaki perjalanan yang berat, dia akan mampu menjalaninya hingga akhir. Apalagi, kita telah menerima kuasa kemenangan Kristus atas maut. Dengan demikian, tidak ada satupun hal dalam dunia ini yang sanggup mengalahkan kita. Belajarlah seperti Paulus, yang menjadikan pengenalan akan Kristus dan persekutuan dengan-Nya sebagai hasrat hidupnya (Flp. 3:10). Itulah kunci hidupnya sehingga mampu menjalani panggilan pelayanannya yang berat hingga akhir.

Hasrat pada Tuhan inilah yang harus diajarkan dan ditularkan dalam gereja dan keluarga. Apakah ibadah yang dilakukan di dalam gereja kita mencerminkan hasrat pada Tuhan atau hasrat untuk mendapatkan kesenangan duniawi? Apakah kehidupan keluarga kita mencerminkan adanya Kristus atau larut dengan dunia? Jangan sampai salah fokus karena hanya Tuhanlah yang bisa memberi kebahagiaan yang sejati pada hidup kita. Berusahalah untuk mengenal Tuhan, maka hasrat kita kepada-Nya akan terus bertumbuh. Amin.

Pertanyaan untuk Direnungkan

  1. Mengapa seseorang bisa kehilangan hasrat kepada Tuhan?
  2. Bagaimana kita bisa menjalani hidup di dunia ini dengan maksimal namun dengan tetap memprioritaskan Tuhan?

Ayat Alkitab Terkait

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah. 2  Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! 3 Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. 4 Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! 5 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela 6 Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! 7 Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. 8 Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion. 9 Ya TUHAN, Allah semesta alam, dengarkanlah doaku, pasanglah telinga, ya Allah Yakub. Sela 10 Lihatlah perisai kami, ya Allah, pandanglah wajah orang yang Kauurapi! 11 Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik. 12 Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. 13 Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu! (Mzm. 84)

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, (Flp. 3:10)

Leave a Reply