Kekudusan dalam Beribadah (Mzm. 15)

Print Friendly, PDF & Email

1 Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? 2 Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, 3 yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; 4 yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; 5 yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya. (Mzm. 15)

Sudah setahun lebih pandemi Covid-19 terjadi. Fenomena yang paling menonjol dalam dunia Kekristenan, yaitu ibadah online, menyingkapkan banyak hal. Misalnya, ketika ibadah normal, kita tentu terbiasa mempersiapkan diri sebelum pergi ke gereja (termasuk dalam hal berpakaian). Apakah persiapan yang sama juga kita lakukan ketika beribadah secara online? Apakah kita masih merasakan kekudusan Tuhan atau tidak, akan menentukan apa yang kita lakukan selama beribadah online (yang hanya diikuti keluarga inti saja).

Mazmur 15 merupakan salah satu mazmur yang dinyanyikan oleh bangsa Israel ketika memasuki umat Tuhan. Isinya mengingatkan untuk melihat diri sendiri, sudah layakkah saya masuk ke rumah Tuhan? (ay. 1). Di dalam mazmur ini, ada sepuluh kriteria dalam bentuk paralelisme (ay. 2-5a) yang dapat membantu umat Tuhan untuk introspeksi diri sebelum masuk ke Bait Allah. Bukan berarti hanya sepuluh kriteria ini yang diinginkan oleh Tuhan. Tetapi intinya, sebagaimana Tuhan adalah kudus, maka umat Tuhan juga harus hidup kudus (Im. 19:2). Tidak boleh sembarangan di hadapan Tuhan.

Di dalam Perjanjian Lama, Allah sangat menekankan kekudusan-Nya ketika berhubungan dengan umat-Nya. Perhatikan ketika Allah menampakkan diri kepada Musa melalui nyala api yang keluar dari semak duri, Musa diminta untuk menanggalkan kasutnya karena tempat itu kudus (Kel. 3:5). Kemudian, Anda tentu ingat ketika Uza tewas setelah memegang tabut Allah yang tergelincir sewaktu akan dipindahkan ke Yerusalem (2Sam. 6:7). Jadi, manusia yang berdosa sama sekali tidak akan tahan dengan kekudusan Allah.

Sayangnya, konsep kekudusan Allah ini semakin pudar pada masa sekarang. Buktinya, semakin banyak gereja yang mengedepankan keinginan hati dan budaya populer dalam ibadah mereka. Kemudian, jika mengikuti perkembangan dunia rohani di media sosial, semakin banyak pengkhotbah yang menekankan bahwa menjadi anak Tuhan berarti bebas menampilkan diri sekehendak hati. Tuhan tidak akan marah.

Memang kita tidak lagi akan langsung mendapatkan hukuman ketika bermain-main dengan kekudusan Allah, sebagaimana banyak orang binasa di Perjanjian Lama. Kita juga sudah mengenal Yesus Kristus, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Tetapi, kita harus menyadari bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang sebenarnya tidak layak berhadapan dengan Allah yang kudus. Hanya karena penebusan Kristus, maka kita dipandang memenuhi kriteria untuk berhadapan dengan Allah.

Oleh sebab itu, anugerah Allah di dalam Kristus ini jangan disepelekan. Justru karena kita telah mengenal bahwa Allah yang Mahakudus itu juga sangat mengasihi kita, maka kita harus hidup lebih hormat kepada Allah dibanding orang-orang di masa Perjanjian Lama.

Biarlah melalui Mazmur ini, kita diingatkan ketika beribadah, kita menghadap Allah yang Mahakudus. Koreksi apakah ada pelanggaran yang masih kita lakukan. Jika ada, akuilah itu dan bertobatlah. Namun bukan berarti kita bisa hidup munafik, apa yang ditampilkan pada hari Minggu berbeda dengan hari Senin-Sabtu. Seharusnya, apa yang menjadi komitmen kita ketika menghadap Tuhan di hari Minggu hendaknya menjadi dasar juga bagi kita untuk menerapkan kekudusan yang sama di hari-hari selanjutnya. Amin.

Pertanyaan untuk Direnungkan

  1. Menurut Anda, apakah kekudusan Tuhan itu adalah suatu hal yang menyenangkan atau justru menakutkan? Mengapa?
  2. Apakah ada kebiasaan dan sikap hati yang tidak kudus yang masih Anda lakukan selama ini? Bertobatlah dan minta ampun pada Tuhan.

Ayat Alkitab Terkait

Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus. (Im. 19:2)

Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” (Kel. 3:5)

Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu. (2Sam. 6:7)

Leave a Reply