Kekudusan dalam Beribadah (Mzm. 15)

Sudah setahun lebih pandemi Covid-19 terjadi. Fenomena yang paling menonjol dalam dunia Kekristenan, yaitu ibadah online,menyingkapkan banyak hal. Misalnya, ketika ibadah normal, kita tentu terbiasa mempersiapkan diri sebelum pergi ke gereja (termasuk dalam hal berpakaian). Apakah persiapan yang sama juga kita lakukan ketika beribadah secara online? Apakah kita masih merasakan kekudusan Tuhan atau tidak, akan menentukan apa yang kita lakukan selama beribadah online (yang hanya diikuti keluarga inti saja)

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Mazmur 77?

Mazmur 77 mewakili orang-orang percaya yang berada dalam bibir jurang keputusasaan, ketika mereka mempertanyakan kasih Tuhan ketika mengalami penderitaan yang berat. Mazmur-mazmur ratapan (jumlahnya sekitar sepertiga dari kitab Mazmur) menunjukkan bahwa Allah tidak menolak umat-Nya ketika mereka menangis dan mempertanyakan kasih-Nya. Itu tidak selalu menunjukkan kelemahan iman.

Hidup yang Mengandalkan Tuhan (Yer. 17:5-8)

Kesombongan merupakan awal kehancuran. Inilah yang dialami oleh bangsa Yehuda. Mereka merasa aman karena berkoalisi dengan sekutu-sekutunya dan menyembah allah-allah asing. Akibatnya, mereka mengalami masa yang berat dengan dibuang ke Babel. Hukuman itu diberikan oleh Tuhan untuk menghancurkan kepercayaan diri bangsa Yehuda yang terlalu tinggi dan membuat mereka bertobat (29:11-13). Hidup susah di pembuangan menyadarkan mereka untuk kembali mengandalkan Tuhan, satu-satunya Allah yang berdaulat.

Apakah Yoh. 6:53-58 Mengacu pada Perjamuan Terakhir?

Memang ada penafsiran yang mengaitkan Yoh. 6:53-58 dengan Perjamuan Terakhir Yesus (The Lor’s supper). Namun, argumen ini lemah. Perhatikan bahwa Injil-Injil Sinoptik dan Paulus menggunakan istilah tubuh (Yun. soma) ketika menyatakan Perjamuan Terakhir: “Inilah tubuh-Ku” (Mat. 26:26; Mrk. 14:22; Luk. 22:19; 1Kor. 11:24). Tetapi, Yohanes menggunakan istilah daging (Yun. sarx) dalam Yoh. 6:53-58 sehingga menyiratkan bahwa dia tidak sedang mengacu pada Perjamuan Terakhir.

Pengharapan Tidak Hilang, Asal Kita Tidak Salah Mencari (Luk. 24:1-8)

Di tengah himpitan persoalan hidup yang melanda, pengharapan merupakan sebuah kekuatan yang memampukan seseorang untuk tetap bertahan. Ketika seseorang sudah kehilangan pengharapan, maka dia bisa melakukan tindakan yang nekat dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang-orang Kristen sesungguhnya adalah orang-orang yang memiliki pengharapan yang kuat di dalam jaminan Tuhan (Rm. 15:13). Sayangnya, tidak sedikit orang Kristen yang hidup tanpa pengharapan sehingga kalah oleh keadaan.

Mau Seperti Yudas atau Maria? (Yoh. 12:1-8)

Tahukah Anda bahwa pekan terakhir dalam kehidupan Tuhan Yesus menempati porsi yang besar dalam kitab-kitab Injil? Narasi tersebut diceritakan dalam Matius 21-28 (33% dari Injil Matius), Markus 11-16 (40% dari Injil Markus), Lukas 19-24 (25% dari Injil Lukas), dan Yohanes 12-21 (50% dari Injil Yohanes). Besarnya porsi narasi hari-hari menjelang penyaliban-Nya ini menyiratkan bahwa hidup-Nya memang dijalani untuk menggenapi kasih Allah dalam menyelamatkan orang-orang berdosa. Sayangnya, kasih Allah yang luar biasa besar ini sering dipandang rendah oleh manusia, seperti apa yang tertulis dalam Yoh. 12:1-8 ini.