Apakah Kita Telah Mempersembahkan yang Terbaik? (Mal. 1:6-8)

Print Friendly, PDF & Email

6 Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” 7 Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” Dengan cara menyangka: “Meja TUHAN boleh dihinakan!” 8 Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.

(Mal. 1:6-8)

Suatu kali, saya berdiskusi bersama beberapa saudara seiman mengenai persembahan persepuluhan. Ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Namun, salah seorang berkata, “Daripada persembahan banyak tetapi tidak rela, lebih baik persembahan sedikit tetapi rela.” Kelihatannya masuk akal, bukan?

Setelah saya perhatikan, perdebatan semacam ini lahir bukan karena ingin mencari kebenaran Alkitab, tetapi karena tidak mau rugi. Berapa banyak orang Kristen yang memberikan persembahan dari sisa uang belanja? Berapa banyak juga orang Kristen yang menganggap pelayanan di gereja tidak perlu serius. “Gereja kan bukan perusahaan. Tidak digaji, lagi….”

Benarkah Tuhan akan berkenan pada persembahan yang asal-asalan? Ketika bangsa Israel yang telah kembali dari pembuangan merasa bahwa kehidupan mereka tidak kunjung membaik, mereka mulai bersikap masa bodoh kepada Tuhan. Salah satunya, mereka memberikan binatang yang cacat sebagai kurban. Padahal jika kita membaca kitab Imamat, berulang kali kita akan menemukan syarat “yang tidak bercela” bagi binatang-binatang kurban. Tuhan menghendaki persembahan yang terbaik, bukan asal-asalan.

Di dalam bagian ini, Tuhan menegur sikap bangsa Israel itu melalui nabi Maleakhi. Jika bupati saja tidak berkenan pada hadiah yang cacat, masak Tuhan akan berkenan? Ibaratnya, ketika tiba-tiba Presiden akan berkunjung ke rumah kita, pasti kita akan memberikan yang terbaik. Jika kepada manusia saja kita berbuat demikian, masak kepada Tuhan malah asal-asalan? Bahkan, jika kita memperhatikan ayat ke-8, persembahan yang asal-asalan itu merupakan perbuatan yang jahat di mata Tuhan.

Mengapa kita bisa jatuh pada sikap yang seperti ini? Kitab Maleakhi menjelaskan bahwa itu terjadi karena kita tidak mengenal kasih Tuhan dengan benar. Semakin dalam kita merasakan anugerah Tuhan, maka kita akan semakin terdorong untuk mempersembahkan lebih kepada Tuhan.

Ketika melihat seorang perempuan berdosa meminyaki kaki Tuhan Yesus, seorang Farisi merendahkan perempuan itu dalam hatinya. Tuhan Yesus menggunakan kesempatan itu untuk menceritakan perumpamaan mengenai dua orang yang berutang, yang seorang 500 dinar dan satunya lagi 50 dinar. Setelah keduanya dibebaskan utangnya, siapa yang akan lebih berterima kasih? Tentu yang berutang 500 dinar. Tuhan Yesus lalu menjelaskan bahwa orang yang lebih banyak diampuni, akan lebih banyak mengasihi Tuhan, sementara orang yang lebih sedikit diampuni, akan lebih sedikit mengasihi Tuhan (Luk. 7:47).

Bagaimana dengan kita? Apakah itu berarti kita yang sakit boleh kurang mengasihi Tuhan? Atau kita yang sulit ekonominya, boleh kurang mengasihi Tuhan? Tidak. Jangan mengukur kasih Tuhan dengan berkat-berkat jasmani, karena pasti kita akan gagal seperti bangsa Israel, yang mengabaikan Tuhan karena keadaan hidup mereka kurang baik. Ukurlah kasih Tuhan dengan anugerah-Nya yang terbesar, yaitu anugerah keselamatan karena penebusan Kristus. Jika ukurannya itu, maka kita semua yang percaya pada Kristus pasti akan mengakui bahwa kita telah menerima yang terbaik dari Tuhan.

Jika Tuhan telah memberikan yang terbaik, maka kita pun sudah selayaknya mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan. Bukan dengan terpaksa, tetapi rela hati. Tidak hitung-hitungan, karena apa yang Tuhan berikan jauh lebih bernilai dibanding apapun yang kita persembahkan. Amin.

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Direnungkan:

  1. Apakah orang Kristen yang penuh dedikasi dalam pelayanannya sudah pasti memberikan yang terbaik pada Tuhan? Renungkan jawabannya berdasarkan renungan ini.
  2. Hal-hal apakah yang selama ini belum Anda persembahkan dalam bentuk yang terbaik kepada Tuhan? Ambillah komitmen untuk memperbaikinya.

Leave a Reply