Pengharapan Tidak Hilang, Asal Kita Tidak Salah Mencari (Luk. 24:1-8)

Print Friendly, PDF & Email

1 tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. 2 Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, 3 dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. 4 Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. 5 Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? 6 Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, 7 yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.” 8 Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu. (Luk. 24:1-8)

Pada akhir bulan Maret 2021, seorang mahasiswa STT yang praktik pelayanan di sebuah gereja di Kepulauan Mentawai ditemukan meninggal bunuh diri. Berdasarkan penelusuran, calon pendeta itu malu dengan omongan orang karena orang tuanya tidak pernah datang ke gereja di mana dia sering berkhotbah. Bagaimana mungkin seorang pelayan Tuhan, yang belajar teologi secara formal, bisa putus asa dan melakukan tindakan nekat seperti ini?

            Di tengah himpitan persoalan hidup yang melanda, pengharapan merupakan sebuah kekuatan yang memampukan seseorang untuk tetap bertahan. Ketika seseorang sudah kehilangan pengharapan, maka dia bisa melakukan tindakan yang nekat dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang-orang Kristen sesungguhnya adalah orang-orang yang memiliki pengharapan yang kuat di dalam jaminan Tuhan (Rm. 15:13). Sayangnya, seperti mahasiswa STT tadi, tidak sedikit orang Kristen yang hidup tanpa pengharapan sehingga kalah oleh keadaan.

            Maria Magdalena, Yohana, dan Maria ibu Yakobus adalah perempuan-perempuan yang menyaksikan penyaliban Yesus hingga Dia mati dan dikuburkan. Kasih mereka kepada Yesus tidak perlu diragukan. Itulah sebabnya, tepat setelah hari Sabat lewat, mereka cepat-cepat datang ke kubur dengan membawa rempah-rempah. Mereka ingin membalur jenazah Yesus.

            Alangkah herannya mereka ketika melihat batu penutup kubur itu sudah terguling. Di tengah keheranan mereka, dua malaikat tiba-tiba menampakkan diri dan membuat mereka ketakutan. Namun malaikat itu bertanya, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?” (ay. 5). Pertanyaan ini sekaligus juga menyentak kesadaran mereka, yang melupakan bahwa Yesus berulang kali mengatakan Dia akan disalibkan dan mati, namun akan bangkit pada hari ketiga (9:22, 44; 13:3; 17:25; 18:32–33; 22:37). Baru setelah malaikat itu menemui mereka, para perempuan itu teringat akan janji-Nya itu. Rupanya kesedihan akibat kematian Yesus memupuskan pengharapan mereka.

            Apa yang ditunjukkan oleh para perempuan itu menunjukkan bahwa iman tidak hanya diwujudkan dengan kasih. Iman juga harus didasari dengan pemahaman dan kepercayaan pada doktrin (pengetahuan) yang benar, seperti yang telah difirmankan oleh Tuhan. Tanpa memahami dan memercayai doktrin yang benar, iman bisa luntur oleh beratnya persoalan hidup.

            Kemajuan zaman membuat manusia semakin skeptis (ragu) dengan hal-hal yang bersifat rohani. Manusia semakin mengandalkan rasio dan kekuatan sendiri, sementara Alkitab dianggap kuno dan tidak relevan. Membaca Alkitab dianggap sebagai aktivitas yang membebani karena merasa hanya berhadapan dengan huruf-huruf yang mati. Itulah yang menyebabkan pada titik tertentu, seseorang akan menyerah karena merasa tidak ada lagi pengharapan.

            Paulus berkata, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya” (Flp. 3:10a). Kebangkitan Kristus tidaklah sama dengan peristiwa-peristiwa sejarah biasa. Peristiwa ini memiliki kuasa untuk mengubah arah hidup orang-orang yang mau percaya, yang tadinya menuju kebinasaan, menuju kepada hidup kekal (Yoh. 3:16). Inilah pengharapan kita, yang terbukti mampu menembus gelapnya kubur kematian, sehingga pasti juga akan bertahan di dalam permasalahan hidup segelap apapun. Jangan putus asa. Pengharapan masih ada, asalkan kita mencarinya dalam Tuhan. Amin.

Pertanyaan untuk Direnungkan

  1. Apa bedanya antara pengharapan yang ada dalam Alkitab dengan pengharapan yang lainnya?
  2. Bagaimanakah pengharapan yang ada dalam Alkitab seharusnya memengaruhi cara kita hidup dan menyelesaikan persoalan?

Ayat Alkitab Terkait

1 tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. 2 Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, 3 dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. 4 Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. 5 Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? 6 Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, 7 yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.” 8 Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu. (Luk. 24:1-8)

Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan. (Rm. 15:13)

Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (Rm. 10:2)

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya (Flp. 3:10a)

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh. 3:16)

Leave a Reply