Lebih Manis Dari Madu (Mzm. 119:97-104)

Print Friendly, PDF & Email

Ada sebuah peribahasa yang mengatakan, “Peraturan dibuat untuk dilanggar.” Pernyataan ini menggambarkan natur manusia yang tidak suka untuk diatur. Termasuk juga, diatur oleh Tuhan melalui hukum-hukum-Nya.

Ada tradisi orang-orang Yahudi bagi anak-anak yang pertama kali masuk sekolah dan belajar Taurat. Mereka menjilat madu yang dioles pada abjad Ibrani. Tradisi ini dilakukan untuk mengingatkan mereka bahwa Taurat Tuhan lebih manis dibanding madu (Mzm. 119:103). Mengapa bisa demikian? Bukankah dengan adanya Taurat Tuhan, kehidupan kita malah terkekang?

Pemazmur mengawali bait ini (ay. 97-104, ingat Mazmur 119 tiap baitnya diawali oleh huruf Ibrani yang akrostik, berurutan) dengan menyatakan cintanya kepada Taurat Tuhan. Dia merenungkan Taurat Tuhan sepanjang hari. Apa yang dilakukan Pemazmur ini mengingatkan kita pada Mazmur 1:2, “Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Merenungkan artinya benar-benar berusaha untuk mengerti dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, bukan hanya membaca sekilas dan terburu-buru karena ingin melakukan hal lain.

Apa dampaknya pada diri Pemazmur dengan merenungkan Taurat Tuhan sepanjang hari? Dia mendapat kebijaksanaan adikodrati, yang di luar kemampuan manusia. Pemazmur lebih bijaksana dari pada musuh-musuhnya, lebih berakal budi dari pada semua pengajarnya, dan lebih mengerti dari pada orang-orang tua (ay. 98-100; bnd. 1Kor. 1:25).

Inilah kekuatan dari hikmat Allah, yang sangat berbeda mutunya dibanding dengan hikmat manusia. Hikmat Allah berasal dari Pencipta alam semesta, bersifat kekal, dan tidak mungkin keliru. Sementara itu, hikmat manusia berasal dari pikiran manusia yang terbatas, hanya berlaku di dunia ini (juga dalam situasi terbatas), dan sangat mungkin keliru.

Hikmat Allah inilah yang memampukan Pemazmur untuk menjalani hidup dengan benar (ay. 101-104). Karena tahu bahwa tuntunan Allah itu baik, maka Pemazmur menjalankannya dengan penuh sukacita, bukan dengan terpaksa. Hidup seturut kehendak Allah inilah yang menjadikan hidup kita bermakna, kokoh melewati berbagai godaan dan rintangan. Mazmur 1:3 mengatakan bahwa orang yang berpegang pada Taurat Tuhan “seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

Bagaimana nilai firman Tuhan bagi diri kita? Jika kita masih menganggap firman Tuhan sebagai sesuatu yang mengekang, berarti Roh Kudus belum benar-benar bertakhta dalam hati kita. Pikiran kita yang telah terkelabui natur dosa membuat kita enggan untuk mempelajari firman Tuhan. Jika membacanya, maka akan membaca cepat-cepat seperti pekerjaan yang menjemukan. Berbeda jika kita sedang menonton acara kesukaan kita atau melihat-lihat media sosial. Sampai berjam-jam pun tidak akan bosan.

Mintalah tuntunan dari Roh Kudus supaya Dia mencelikkan mata rohani kita sehingga firman Tuhan akan terasa manis. Jauh lebih manis dibanding apapun. Selain itu, kita pun akan merasa bahwa perintah-perintah Tuhan itu sesuatu yang menyenangkan. Mengapa? Karena itu satu-satunya jalan yang baik bagi hidup kita dan kita akan mampu hidup memuliakan Tuhan. Inilah yang membedakan pengikut Kristus dengan yang lainnya (1Yoh. 5:3-5). Amin.

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Direnungkan

  1. Bagaimana tanggapan Anda jika ada orang yang mengatakan, “Lebih baik nggak usah pelayanan/memberi persembahan daripada terpaksa”?
  2. Bagaimana pendapat Anda terhadap orang-orang yang tidak percaya pada Kristus tetapi terlihat sangat senang untuk menjalankan kewajiban agama mereka?

Ayat-Ayat Alkitab untuk Direnungkan

97 Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. 98 Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. 99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. 100 Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu. 101 Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu. 102 Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku. 103 Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku. 104 Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta. (Mzm. 119:97-104)

Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. (1Kor. 1:25)

3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, 4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. 5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? (1Yoh. 5:3-5)

Leave a Reply