Nikmatilah Hidup! (Pkh. 9:7-10)

Photo by Jimmy Dean on Unsplash

Print Friendly, PDF & Email

Beberapa hari yang lalu ada sebuah berita viral yang cukup menggelitik. Niat hati ingin curhat, seorang buruh pabrik memperlihatkan nasi bungkus jatah makan lembur dari pabrik tempatnya bekerja. Dia mengeluh, kerja 12 jam sehari kok cuma dapat nasi bungkus. Namun apa jawaban warganet? Alih-alih berempati kepada buruh pabrik tersebut, mereka malah mengkritiknya. Berbagai komentar mengatakan bahwa buruh pabrik tersebut harusnya bersyukur karena masih dapat jatah makan lembur. Banyak buruh pabrik lainnya yang tidak dapat apa-apa.

Jatah makan lembur yang diterima Si Buruh Pabrik (sumber: indozone.id)

Manusia memang pada dasarnya susah bersyukur. Kombinasi dari akal budi yang cemerlang dengan natur keberdosaan membuat manusia cenderung menginginkan hal yang lebih baik. Demikian pula yang dialami oleh sebagian orang Kristen. Banyak di antara mereka yang “susah bersyukur” akibat keadaan hidupnya belum seperti apa yang diharapkan.

Sebagian orang Kristen lainnya berpikir lain lagi. Mereka berpendapat bahwa kenikmatan hidup itu urusan nanti di surga. Ketika berada di dunia, menikmati hidup adalah tabu. Bukankah itu yang diteladankan oleh para pengikut Kristus, misalnya Paulus? Namun kalau kita menggali Alkitab, sebenarnya anak-anak Tuhan pun diajar untuk menikmati hidup. Salah satunya apa yang dipaparkan dalam Pengkhotbah 9:7-10 ini.

Jika dibaca sepenggal, apalagi dilepaskan dari konteks kitab Pengkhotbah, maka bagian ini bisa terlihat sebagai ajakan untuk mengikuti gaya hidup hedonisme. Artinya, “pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup” (KBBI). Tetapi marilah kita mencermati apa yang menjadi maksud Pengkhotbah di sini.

Di dalam ayat 1-6, Pengkhotbah menyatakan satu fenomena yang sulit untuk diterima secara rohani. Yaitu, “nasib semua orang sama” (ay. 2-3). Baik tukang becak maupun direktur bank, pada akhirnya akan mati. Kemudian dalam ayat 11 Pengkhotbah memaparkan bahwa dunia sering terlihat tidak adil. Ada orang yang ikut Tuhan sungguh-sungguh hidupnya sengsara, tetapi ada orang yang melanggar firman Tuhan malah hidup makmur. Lebih jauh lagi, kematian bisa tiba-tiba menghampiri manusia “seperti ikan yang tertangkap dalam jala” atau “seperti burung yang tertangkap dalam jerat” (ay. 12). Ketika Indonesia mengalami gelombang kedua pandemi Covid-19, beberapa kali saya dikejutkan dengan berita kematian dari orang-orang yang saya pikir kecil kemungkinan akan menjadi korban keganasan virus tersebut.

Ketidakpastian semacam ini tentu bisa membuat kita menjadi cemas. Dalam konteks seperti inilah Pengkhotbah memberikan anjuran supaya kita menikmati apapun yang ada dalam hidup kita. Semuanya berasal dari Allah dan tidak ada apapun yang terjadi dalam hidup ini tanpa membawa kebaikan bagi anak-anak-Nya (Rm. 8:28). Baik itu makanan (ay. 7), pergaulan (ay. 8), isteri (ay. 9), pekerjaan (ay. 10), dan sebagainya merupakan pemberian Allah. Maka, nikmatilah itu selagi masih diberi kesempatan untuk menikmatinya.

Salah satu hikmat dari Pengkhotbah adalah kita diajar untuk seimbang. Memang fokus kita ada pada kekekalan dan hidup di dalam Kristus. Tetapi, jangan lupa untuk menikmati kehidupan di dunia ini. Justru jika kita telah merasa puas di dalam Kristus, maka kita pasti juga akan mudah untuk menikmati kehidupan ini. Yang salah adalah mengejar kenikmatan hidup sebagai tujuan utama sehingga menomorduakan Kristus.

Bukankah Paulus bisa bersukacita di tengah penganiayaan? Bahkan Yesus sendiri pun tetap menikmati hal-hal kecil seperti makan dan minum, walaupun sedang menjalankan misi yang sangat berat? Sampai-sampai para penentang-Nya salah mencap Dia sebagai “pelahap dan peminum” (Luk. 7:34). Maka dari itu, mari nikmatilah hidup, karena itu yang berkenan bagi Tuhan. Amin.

Refleksi

Bagaimanapun berombaknya lautan, hati orang percaya tetap mengapung di atas pujian dan rasa syukur (John McArthur)

Pertanyaan untuk Direnungkan

  1. Apakah ada batas-batas dalam menikmati hidup? Jelaskan dengan menggunakan contoh sehari-hari.
  2. Apa saja kenikmatan hidup yang selama ini terluput dari perhatian Anda? Daftarkan dan cobalah menikmatinya di dalam Tuhan, dan bersyukurlah!

Ayat Alkitab Terkait

7 Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu. 8 Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu. 9 Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari. 10 Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. (Pkh. 9:7-10)

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Rm. 8:28)

Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. (Luk. 7:34)

BACA JUGA:

Related Post

Leave a Reply