Di Luar Tuhan, Hidup Tidak Akan Berarti (Pkh. 1:1-11)

Photo by René Porter on Unsplash

Print Friendly, PDF & Email

Apakah Anda mengenal William Sidis? Terlahir dari ayah yang seorang ilmuwan dan ibu keturunan Yahudi-Rusia, Sidis tumbuh sebagai anak jenius. IQ-nya kira-kira 260. Dinobatkan sebagai seorang yang paling cerdas yang pernah ada. Umur 11 sudah menjadi mahasiswa Harvard. Menguasai kurang lebih 40 bahasa.    Dengan potensi yang demikian besar, Anda tentu mungkin membayangkan Sidis menjadi “orang besar.”

Namun dugaan Anda ini keliru. Seumur hidupnya, Sidis hanya kerja serabutan. Tidak pernah meninggalkan “jejak” yang diingat dunia. Dia juga tertekan dengan pola pendidikan ayahnya, yang menginginkannya menjadi “orang besar.” Tragisnya, dia mati dalam kemiskinan dan kesendirian.

Melihat kisah William Sidis, kita mungkin akan merasa betapa sia-sianya hidupnya. Dia membuang-buang potensinya yang besar. Namun apakah jika seseorang bisa memanfaatkan potensinya dan meraih kesuksesan, hidupnya akan bermakna? Ternyata tidak juga. Dunia penuh dengan kisah orang-orang yang tetap merasa depresi walaupun mereka sedang berada di puncak kejayaan mereka.

Jika demikian, bagaimana kita harus menjalani hidup ini supaya bermakna? Pertanyaan semacam ini pernah dipikirkan oleh orang-orang pada masa lampau. Salah satunya, apa yang dituliskan dalam kitab Pengkhotbah.

Kitab ini dibuka dengan memaparkan sebuah fenomena yang “menakutkan” tentang hidup manusia. Yaitu, hidup manusia sebenarnya fana (sementara dan tidak kekal). Pengkhotbah menggambarkannya dengan istilah hebel (diterjemahkan sebagai “kesia-siaan”).

Secara literal, hebel bisa diartikan sebagai uap atau nafas. Secara metaforis, hebel bisa diartikan sebagai kesia-siaan (meaningless) atau kesementaraan (temporary). Arti yang kedua lebih sesuai dengan konteks kitab ini. Hidup seperti uap, yang mudah hilang dan kita tidak akan menemukan apapun yang sejati di dalamnya.

Apapun yang kita kejar dalam dunia ini semuanya fana. Kita mungkin pernah kenal dengan orang-orang yang merasa sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting. Seolah-olah, nasib dunia ada di genggaman mereka. Tetapi benarkah demikian?

Pada masa pandemi Covid-19 ini kita melihat banyak proyek yang dibatalkan. Banyak “orang penting” yang meninggal dunia. Ternyata, dunia tetap berjalan seperti biasa. Seperti yang dikatakan Pengkhotbah, “matahari tetap terbit dan terbenam, angin tetap berputar, dan air tetap mengalir ke laut” (ay. 5-7). Sementara itu, manusia datang dan pergi (ay. 4). Kebanyakan dari kita tidak akan diingat bahkan oleh orang-orang yang hidup setelah kita (ay. 11).

Panca indra kita pun tidak akan pernah terpuaskan oleh hobi, makanan, tempat-tempat eksotik, dan lainnya (ay. 8). Lalu apapun pencapaian kita, itu juga bukan sesuatu yang baru (ay. 9-10). Selalu saja ada orang-orang di masa lampau yang telah memikirkan cikal bakalnya.

Inilah yang menjadi inti pembicaraan Pengkhotbah dalam bagian ini. Jika hanya fokus pada dunia ini (dan terlepas dari Tuhan), manusia tidak akan menemukan hidup yang bermakna. Oleh sebab itu, untuk dapat menjalani hidup yang bermakna, kita harus memprioritaskan Tuhan (“takut akan Tuhan” dalam Pkh. 12:13 dan “melakukan perintah-Nya” dalam Mat. 6:33 BIMK).

Memprioritaskan Tuhan bukan menjadikan kita sebagai orang Kristen yang “ahli surga” dan mengabaikan urusan sehari-hari. Tetapi, bagaimana Kristus menjadi pusat dari segala yang kita kerjakan. Tetap lakukan kegiatan dan panggilan hidup sehari-hari. Tetapi yakinkanlah bahwa itu semua kita lakukan dalam koridor kehendak Tuhan dan untuk memuliakan Tuhan.

Paulus mengatakan bahwa kita memang tadinya “terpenjara” dalam kesia-siaan. Tetapi, Kristus telah memerdekakan kita (Rm. 8:20-21). Oleh sebab itu, marilah kita memandang bahwa hidup adalah anugerah Tuhan (Pkh. 3:13). Dia tidak hanya menciptakan kita segambar dengan-Nya. Tetapi juga menebus kita dengan darah Anak-Nya. Maka, jalanilah hidup ini selaras dengan agenda Tuhan, yang telah tertulis dalam Alkitab. Amin.

REFLEKSI

Hidup hanya sekali dan itu pun cepat berlalu; hanya apa yang kita lakukan bagi Kristuslah yang akan bertahan (C.T. Studd)

PERTANYAAN RENUNGAN

1. Bagaimana membedakan bahwa kita sedang mengerjakan kehendak Tuhan atau keinginan diri sendiri?

2. Jika Tuhan berkata bahwa Anda hanya memiliki sisa hidup sehari lagi, apa yang akan Anda lakukan? Mengapa?

Ayat-Ayat Alkitab

1 Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem. 2 Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. 3 Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? 4 Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. 5 Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. 6 Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. 7 Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. 8 Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. 9 Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. 10 Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: “Lihatlah, ini baru!”? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada. 11 Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datangpun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya. (Pkh. 1:1-11)

Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah. (Pkh. 3:13)

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. (Pkh. 12:13)

Jadi, usahakanlah dahulu supaya Allah memerintah atas hidupmu dan lakukanlah kehendak-Nya. Maka semua yang lain akan diberikan Allah juga kepadamu. (Mat. 6:33 BIMK)

20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, 21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. (Rm. 8:20-21)

BACA JUGA:

Related Post

Leave a Reply