Mengatasi Kekhawatiran tentang Uang (Ibr. 13:5-6)

Photo by Towfiqu barbhuiya on Unsplash

Print Friendly, PDF & Email

Tidak terasa, pandemi sudah berlangsung hampir dua tahun. Selama itu, banyak orang dihadapkan pada kenyataan hidup yang pahit. Covid-19 telah merenggut 144 ribu orang di Indonesia (6/11/2021). Tetapi, yang bertahan pun hidupnya kembang kempis. Situasi ekonomi teramat sulit. Tidak hanya usaha kecil, bahkan perusahaan sekelas Garuda pun terancam bangkrut. Kekhawatiran soal uang membayangi benak banyak orang.

Bagaimana bisa tenang jika tiba-tiba di-PHK sementara anak-anak masih membutuhkan biaya sekolah? Atau, pusing memikirkan cicilan ini-itu sementara pendapatan berkurang jauh.

Kekhawatiran tentang uang merupakan hal yang manusiawi. Sebagai orang percaya, keadaan ini juga merupakan ujian bagi iman kita.  Jika tidak ditangani dengan baik, kekhawatiran tentang uang bisa memicu kita untuk mengambil langkah yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Padahal, Tuhan tidak menutup mata terhadap persoalan keuangan yang dihadapi anak-anak-Nya. Salah satu buktinya, Roh Kudus mendorong penulis surat Ibrani untuk membahas persoalan ini pada para pembaca suratnya.

Pembaca surat Ibrani adalah orang-orang Yahudi yang telah percaya kepada Kristus. Keputusan itu memiliki konsekuensi yang berat. Mereka mengalami berbagai tekanan dan penganiayaan. Bahkan, sampai harta benda mereka ludes dirampas.

Oleh sebab itu, setelah menerangkan berbagai hal teologis untuk menguatkan iman mereka, penulis surat Ibrani menutup suratnya dengan berbagai nasihat praktis. Bagi penulis surat Ibrani, iman yang kokoh harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Termasuk juga bagaimana menghadapi kekhawatiran soal materi atau uang.

Ada tiga panduan yang saya dapatkan dari bagian ini untuk mengatasi kekhawatiran soal uang.

Pertama, jangan diperbudak oleh uang. Penulis surat Ibrani mengatakan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang” (ay. 5). Nasihat ini mengajak kita untuk menempatkan uang dalam cara pandang yang tepat. Uang memang penting. “Segalanya butuh uang,” kata orang. Tetapi, jangan memandang uang segalanya dan diperbudak olehnya (1Tim. 6:10).

Karena terpengaruh oleh budaya masa kini, kita pun bisa latah untuk mengukur berbagai hal dengan uang. Merasa bangga jika memiliki gaji yang besar. Menghormati orang berdasarkan status sosial mereka. Bahkan, cinta pun sering diukur dengan uang.

Akibatnya, uang menjadi faktor utama dalam melakukan sesuatu. Misalnya, ada segelintir guru yang berlomba-lomba membuka les privat. Bahkan, mereka sengaja tidak mengeluarkan ilmunya di depan kelas supaya banyak siswa yang ikut les. Kepuasan yang mereka kejar bukan seberapa banyak menghasilkan murid yang mumpuni, tetapi seberapa banyak uang yang bisa didapat. Di semua bidang panggilan, ada saja “lubang jebakan” semacam ini. Gaya hidup seperti inilah yang menjadikan kita mudah kehilangan sukacita ketika tidak menghasilkan uang sebanyak yang kita harapkan.

Jadi, banyak orang khawatir tentang uang bukan karena pendapatan mereka yang kurang. Tetapi, mereka menjadikan uang segalanya dan diperbudak olehnya.

Inilah yang ditentang oleh penulis surat Ibrani. Jadikanlah uang sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan memuliakan Tuhan. Jangan menukarnya sebagai tujuan hidup atau pembentuk identitas kita. Jika berpandangan seperti ini, kita tidak akan mudah khawatir soal uang.

“Lapar mata” merupakan hal yang menjebak kita, terutama di era digital yang semakin memudahkan kita untuk belanja dan pamer (Photo by freestocks on Unsplash)

Kedua, merasa puaslah dengan berkat materi yang Tuhan beri. “Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” (ay. 5), nasihat penulis surat Ibrani. Jangan pernah hidup dengan cara “besar pasak daripada tiang.” Gaji dua juta tetapi hidup seperti orang yang bergaji lima juta. Pasti, suatu saat kita akan terbelit masalah keuangan.

Ketika keadaan keuangan kita terpuruk, ingatlah bahwa selalu saja ada orang yang jauh lebih sulit keadaannya dibanding kita, tetapi mereka bisa berhasil melewatinya.

Saya teringat dengan teman sekelas saya waktu SMA. Keluarganya begitu kekurangan sehingga untuk membelikannya buku catatan saja tidak mampu. Sering, teman saya itu menggunakan kertas buram untuk mencatat pelajaran. Tetapi, teman saya ini berhasil meraih nilai tertinggi se-kabupaten waktu kelulusan.

Ada juga teman saya waktu kuliah yang berasal dari luar pulau. Boro-boro ganti hape atau beli laptop keren seperti mahasiswa sekarang, bahkan karena saking ngepresnya uang kiriman dari kampung, dia terpaksa “ngekos” di ruang himpunan mahasiswa. Toh, dia berhasil lulus juga.

Dari sini saya belajar bahwa uang cukup atau tidak, sebenarnya bergantung pada pola pikir kita, bukan nominalnya. Ketika kita merasa tak berdaya dan sangat kekurangan, berkat Tuhan pasti selalu cukup (asal kita tidak terjebak keinginan). Buktinya, selalu saja ada orang yang lebih sulit keadaannya dibanding kita, namun mereka dapat melewatinya.

Jadi, jangan buru-buru putus asa, terjebak pinjaman online, atau melakukan hal-hal lain yang tidak diperkenan Tuhan.

Ketiga, bersandarlah pada janji penyertaan Tuhan. Kekhawatiran soal uang sebenarnya bukan berpusat pada hal-hal jasmani. Tetapi, ada permasalahan teologis mendasar yang sedang terjadi. Jika kita khawatir tentang uang, maka sebenarnya kita sedang tidak percaya bahwa Tuhan akan memenuhi segala keperluan kita.

Kepada jemaat di Filipi, yang telah mempersembahkan harta benda mereka untuk pekerjaan Tuhan, Paulus berkata, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:19). Kita tahu bahwa melalui salib, Kristus telah memberikan anugerah-Nya yang tak terbatas bagi hidup kita. Logikanya, mustahil bagi Dia untuk gagal mencukupi keperluan (bukan keinginan) kita.

Tuhan Yesus pernah mengajarkan bahwa kita tidak perlu berdoa bertele-tele kepada Allah. Mengapa? Karena sebelum kita mendoakannya pun, Allah tahu apa yang menjadi keperluan kita (Mat. 6:7-8). Jangan pernah mengira bahwa kita bisa luput dari perhatian Allah.

Penulis Ibrani mengutip dari Perjanjian Lama, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (ay. 5; dikutip dari Ul. 31:6, 8). Dalam bahasa Yunaninya, penulis surat Ibrani menggunakan bentuk negasi yang sangat kuat di sini. Menegaskan bahwa Tuhan akan terus menyertai kita. Dia tidak pernah, tidak akan pernah, meninggalkan kita.

Bentuk negasi ganda οὐ μή yang digunakan dalam ayat 5 (gambar diambil dari interlinear biblehub.com)

Janji Tuhan ini diharapkan dapat menguatkan iman para pembaca surat Ibrani. Mereka boleh diancam berbagai penganiayaan, sampai dimiskinkan. Tetapi jika Tuhan yang menolong, apa lagi yang mereka takutkan? (ay. 6). Jika janji Tuhan ini telah menguatkan para pembaca surat Ibrani, hendaknya kita juga dikuatkan olehnya.

Oleh sebab itu, daripada khawatir tentang uang, marilah kita berusaha terus hidup menjalankan rencana Tuhan dalam hidup kita. Alih-alih khawatir dengan kelangsungan usaha kita, fokuslah supaya melalui usaha kita, pekerjaan Tuhan dinyatakan di dalamnya. Alih-alih khawatir dengan pembiayaan studi anak-anak kita, fokuslah untuk menyiapkan mereka menjadi anak yang takut akan Tuhan. Jerih lelah yang selaras dengan kehendak Tuhan tidak akan mungkin gagal. Dia pasti akan mencukupkan semuanya untuk menggenapi rencana-Nya. Amin.

REFLEKSI

Jika seseorang mampu memandang uang dengan cara yang benar, maka itu akan menguatkan dia dalam hampir setiap segi kehidupan (Billy Graham)

PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN

  1. Jelaskan beberapa perbedaan antara hikmat Alkitab dan hikmat dunia dalam mengatasi persoalan keuangan? Apakah itu berarti kita tidak boleh menggunakan hikmat dunia dalam persoalan ini? Jelaskan!
  2. Apa yang akan menjadi kerugian kita jika mengatasi persoalan keuangan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

AYAT-AYAT ALKITAB PENDUKUNG

5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” 6 Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Ibr. 13:5-6)

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Mat. 6:24)

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1Tim. 6:10)

6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” 8 Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ul. 31:6, 8)

7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. 8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. (Mat. 6:7-8)

Related Post

Leave a Reply