Apakah Doa Mengubah Keadaan? (Mat. 7:7-11)

Photo by Tima Miroshnichenko from Pexels

Print Friendly, PDF & Email

Seorang biarawan Kristen yang hidup sekitar abad kelima, Benediktus, mempopulerkan sebuah slogan dalam bahasa Latin. Ora et labora. Berdoa dan kerja tangan (bekerja).

Slogan ini mengingatkan orang percaya untuk tidak hanya bekerja tanpa mendasarinya dengan doa. Atau, hanya berdoa tanpa mau melakukan apa-apa. Kedua-duanya harus dilakukan.

Namun ketika dihadapkan pada problem kehidupan sehari-hari, banyak orang Kristen yang kemudian mengabaikan doa. Mengapa? Bekerja lebih kelihatan hasilnya. Sementara, berdoa kelihatan pasif. Apalagi, jika yang didoakan tidak kunjung terjadi. Berdoa atau tidak, sama saja, pikir mereka.

Jika kita tidak memahami kuasa doa, maka kita tidak akan pernah menjadi seorang pendoa. Kita akan terjebak pada pola hidup orang-orang di dunia ini,  yang percaya bahwa nasib mereka ditentukan oleh usaha mereka sendiri.

Di dalam Matius 7:7-11, Tuhan Yesus memerintahkan pengikut-Nya untuk berdoa. Dia menggunakan tiga kata perintah yang nuansanya meningkat.

“Mintalah,” artinya kita harus datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan menyadari kebergantungan kita kepada-Nya. “Carilah,” artinya kita harus berusaha untuk mencari kehendak Allah dalam hidup kita. “Ketuklah,” artinya kita harus konsisten dalam berdoa.

Kemudian Tuhan Yesus melanjutkan bahwa ketika berdoa, maka kita akan menerima jawaban. Tentu saja, sesuai dengan rencana dan waktu Tuhan. Dan yakinlah, jawaban itu pasti yang terbaik, sesuai natur Tuhan yang Mahabaik.

Di sinilah problem muncul. Jika Tuhan memiliki rencana-Nya sendiri, dan itu pasti terjadi, untuk apa berdoa? Bukankah kita tidak bisa mengubah Tuhan?

Betul, kita memang tidak bisa mengubah Tuhan (Mal. 3:6). Tetapi, doa kita tidak akan sia-sia. Tuhan bekerja dan menggenapi rencana-Nya melalui doa orang-orang percaya.

Di sepanjang sejarah kehidupan orang percaya, kita akan banyak menjumpai bagaimana doa mengubah keadaan. Misalnya, karena Tuhan mendengar doa Elia, maka hujan tidak turun selama 3,5 tahun (Yak. 5:17-18; 1Raj. 17:1; 18:1). Kemudian sekitar abad keempat ada seorang pemuda yang sangat pandai namun hidup bergelimang dosa. Namanya Agustinus. Ibunya, Monika, tidak henti-hentinya mendoakannya. Pada akhirnya Agustinus bertobat dan malah menjadi seorang Bapa Gereja. Kita juga sering mendengar banyak rumah tangga yang lolos dari jurang kehancuran karena salah satu pasangan konsisten berdoa.

Apakah keadaan akan berbeda jika mereka tidak berdoa? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari pikirkan sebuah analogi. Akankah kita diam saja ketika kita sakit, hanya karena kita tahu bahwa minum obat atau tidak, kesembuhan berada di tangan Allah. Tentu saja, ketika sakit kita minum obat dengan harapan bahwa Allah akan memberi kesembuhan melaluinya.

Demikian pula dengan doa. Ketika kita memiliki kebutuhan khusus, atau berhadapan dengan situasi sulit, berdoa atau tidak, akan membawa pengaruh yang besar. Situasi sesulit apapun bisa Tuhan ubah karena Dia mendengar doa kita.

Tetapi bagaimana kalau tidak berubah juga?

Perhatikan lanjutan dari bagian ini. Tuhan Yesus kemudian menyatakan bahwa Allah akan memberikan yang baik kepada anak-anak-Nya yang meminta kepada-Nya (ay. 11b). Ketika jawaban doa kita berbeda dengan apa yang kita pikirkan, atau jawaban doa itu tidak kunjung kita dapatkan, maka yakinlah, itu yang terbaik bagi kita (Rm. 8:28).

Tuhan Yesus menerangkannya dengan analogi yang sangat kuat. Jika ayah di dunia saja tidak akan mencelakakan anak-anaknya, mungkinkah Bapa di surga mencelakakan anak-anak-Nya?

Justru ketika kita mendapat jawaban doa yang berbeda dari apa yang kita pikirkan, bersyukurlah. Mungkin saja, apa yang tadinya kita pikir baik itu, di kemudian hari malah mencelakakan kita. Atau, melalui situasi sulit yang Tuhan izinkan tetap terjadi, karakter kita akan dibentuk lebih kuat lagi.

Jalan Tuhan berbeda dengan jalan kita. Bisa saja, ketika seseorang berdoa supaya Tuhan mengubah pasangannya, maka hal itu benar-benar terjadi. Tetapi di lain kasus, ada orang lain yang mendoakan hal yang sama, pasangannya tetap tidak berubah. Namun karena orang itu tekun berdoa, lama kelamaan dia bisa melihat keindahan di balik kelemahan pasangannya itu.

Orang itu baru tahu bahwa selama ini dia minta hal yang salah. Yang dia butuhkan sebenarnya bukan pasangan yang berubah, melainkan cara pandang dia yang berubah.

Kondisi pasangannya bisa berubah-ubah, tetapi kalau cara pandang orang itu sudah sesuai dengan apa yang Tuhan mau, maka dia akan tetap bisa mengasihinya dan merasakan sukacita berelasi dengannya.

Sering kali yang kita butuhkan adalah cara pandang yang berubah, bukan orang lain atau keadaan (Photo by Annushka Ahuja from Pexels)

Inilah kuasa doa. Tuhan yang berjanji untuk mendengarkan doa kita, akan menjawabnya sehingga apa yang kita doakan berjalan seturut dengan kehendak Allah yang baik. Asalkan kita memiliki motivasi yang benar dan mengenal Tuhan dengan benar, maka kita pasti akan melihat karya Tuhan yang terjadi melalui doa-doa kita.

Jika doa sedemikian berkuasa, akankah kita mengabaikannya? Sementara banyak orang di dunia bekerja keras mengejar sesuatu yang fana, Tuhan telah menyediakan hal yang lebih baik lagi bagi kita.

Bukan kebetulan kalau bagian ini terletak di dalam rangkaian Khotbah di Bukit (Matius pasal 5-7). Hal-hal baik yang terdapat dalam Ucapan Bahagia pada awal rangkaian Khotbah di Bukit akan didapat bagi kita yang memintanya kepada Tuhan. Dan apa yang dinyatakan di situ jauh lebih bernilai dibanding apapun juga yang manusia inginkan secara daging.

Jika mau menjadi orang Kristen yang taat, banyak tantangan yang akan kita hadapi. Sulit mengampuni, sulit mengendalikan kemarahan, sulit menjaga integritas, sulit mengatakan kebenaran di tengah konflik, dan sebagainya.

Tetapi syukurlah bahwa apapun yang baik dalam hidup kita, Allah berjanji untuk memberikannya ketika kita mendoakannya. Maka dari itu, jadilah pendoa yang setia, tidak hanya menjadi pekerja yang bersemangat. Amin

REFLEKSI

Jadikan doa bukan sebagai “ban serep”, tetapi “penggerak utama” dalam kehidupan dan pelayanan kita (parafrase dari kutipan Corrie Ten Boom)

PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN

  1. Apa yang biasanya menjadi pokok-pokok doa kita? Apakah itu selaras dengan kehendak Allah atau hanya berdasar pada keinginan daging kita?
  2. Apa saja perubahan yang akan terjadi pada orang yang terbiasa berdoa?

REFERENSI AYAT ALKITAB

7 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan? 11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Mat. 7:7-11)

Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap. (Mal. 3:6)

17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. 18 Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya. (Yak. 5:17-18)

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Rm. 8:28)

Related Post

Leave a Reply