Ingatlah akan Gambar dan Rupa Allah (Kej. 1:26)

Photo by Aurélie Marrier d’Unienville/Caritas

Print Friendly, PDF & Email

Setelah beberapa lama dunia berjalan (relatif) damai, kembali kita disentakkan dengan berita perang. Pada Kamis (24/02), Presiden Rusia Vladimir Putin memutuskan untuk melakukan operasi militer ke Ukraina. Ada berbagai versi yang menganalisis konflik tersebut. Mulai dari yang serius (silakan baca media-media arus utama), serius namun santai (misalnya tulisan Dahlan Iskan di sini), hingga “versi sinetron” (baca di sini, mungkin Anda juga menerimanya dari salah satu grup Whatsapp).

Karena blog ini adalah blog Kristen, maka kita tidak akan membahasnya dari segi politik (biar ahlinya saja yang membahas, hehe). Tetapi, marilah kita berpikir lagi dari sudut pandang Kekristenan dan kemanusiaan.

Perang, apapun alasannya, merupakan sebah tragedi kemanusiaan. Pasti akan timbul banyak korban jiwa. Banyak hati yang akan terluka karena kehilangan anggota keluarga atau orang-orang terkasih. Tetapi di atas itu semua, hati Allah yang paling terluka. Mengapa demikian? Manusia pada dasarnya diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya (Kej. 1:26). Apa maksudnya?

Dengan diciptakan menurut gambar (Ibr. tselem; Ing. image) dan rupa (Ibr. demuth; Ing. likeness) Allah, manusia memiliki kemiripan dengan-Nya (catatan: gambar dan rupa ini bisa dibilang sinonim karena sering dipertukarkan). Memang Allah tetap Allah dan manusia tetap manusia. Tetapi, ada beberapa karakteristik yang membuat manusia memiliki kelebihan dibanding ciptaan lainnya.

Misalnya, manusia memiliki roh yang kekal (ada awal tetapi tidak ada akhir), rasio (sehingga memiliki daya kreasi), ikatan relasi dengan sesama, nilai-nilai moral, dan sebagainya. Allah kemudian memberikan mandat kepada manusia untuk menguasai (dalam arti mengelola) bumi. Bukan menguasai sesamanya.

sumber: cnnindonesia.com

Oleh sebab itulah, manusia memiliki martabat kemanusiaan yang tidak boleh seenaknya dilanggar atau dipermainkan. Manusia masa kini biasa menilai sesamanya berdasarkan apa yang mereka punyai, semenarik apa tampilan fisiknya, apa prestasinya. Juga di zaman medsos, seberapa terkenal atau seberapa banyak follower. Karena pikiran manusia sudah tercemar dosa, maka manusia cenderung bersikap kepada sesamanya berdasarkan kelas-kelas tadi.

Padahal, Alkitab jelas menyatakan bahwa martabat manusia bukan berasal dari apa yang dipunyai atau diraih seseorang. Tetapi, martabat tersebut berasal dari Allah. Seberapapun (maaf) miskinnya seseorang atau memiliki (sekali lagi maaf) cacat tubuh/penyakit yang menjijikkan, martabat manusia sebagai makhluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah tidak berkurang.

Lalu, bagaimana penerapannya? Saya akan membagikan tiga hal praktis.

Pertama, berkaitan dengan bagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Banyak orang tidak puas dengan diri mereka sendiri. Buktinya, banyak orang merasa minder dengan kekurangan fisik mereka. Banyak juga yang merasa tidak ada yang bisa dibanggakan dari diri mereka.

Ingatlah bahwa bagaimanapun diri kita (atau pandangan orang lain), kita adalah gambar dan rupa Allah. Ketika kita merasa minder, maka secara tidak langsung kita merendahkan Allah, yang telah menciptakan kita segambar dan serupa dengan-Nya.

Kemudian, kita juga tidak boleh merendahkan martabat kita. Misalnya, gadis-gadis muda mengumbar keseksian di medsos. Jika ditegur, berdalih, “Ini kan tubuhku sendiri, apa urusanmu?” Renungkan, apakah yang kita tampilkan kepada dunia luar mencerminkan gambar dan rupa Allah? Ini juga terkait bagaimana kita bersikap, berkata-kata, berdandan, dan sebagainya.

Kedua, berkaitan dengan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Kita harus melihat orang lain sebagaimana Allah melihat mereka, yaitu sebagai gambar dan rupa-Nya. Jangan melihat orang lain berdasarkan tampilan fisik, harta, nama besar, dan sebagainya. Kalau kita mampu memahami ini, maka kita akan menjadi orang yang sulit untuk melihat kekurangan orang lain. Sulit juga untuk merendahkan orang lain.

Ketika saya mempelajari Alkitab, saya disadarkan bahwa sebenarnya Alkitab mampu memberi jawaban terhadap semua persoalan di dunia ini. Asalkan kita mau taat kepadanya. Perang, kecemburuan sosial, pelanggaran HAM, eksploitasi manusia, ketimpangan gender (pria/wanita), kekerasan dalam rumah tangga, industri pornografi, semuanya tidak akan terjadi kalau manusia melihat sesamanya sebagai gambar dan rupa Allah.

Kemudian yang juga penting, terutama bagi orang tua, apakah kita melihat anak-anak kita sebagai gambar dan rupa Allah? Sebagai gambar dan rupa Allah, mereka sudah “sempurna.” Ada orang tua yang tega menggugurkan kandungan karena hamil di luar nikah. Atau membuang bayinya karena memiliki cacat. Atau juga, memaksakan anak untuk berprestasi, karena tanpa itu, seolah-olah ada yang kurang dengan anak kita.

Jika melihat rekam jejak pelayanannya, apakah kita berani mengatakan orang seperti Nick Vujicic memiliki kekurangan dibanding kita? (sumber gambar: sindonews.com)

Kasihilah anak-anak kita dan biarkan mereka bertumbuh selayaknya gambar dan rupa Allah yang “sempurna.” Didiklah mereka untuk menikmati dan memanfaatkan gambar dan rupa Allah yang ada dalam diri mereka. Bukan dididik untuk selalu menang dengan gambar dan rupa Allah yang lain. Tetapi, justru menjadi teladan dan berkat bagi gambar dan rupa Allah yang lain.

Terakhir, Bersyukurlah karena kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Karena dengan begitu, kita juga bisa mengenal dan menikmati persekutuan dengan Sang Pencipta. Jika dalam kehidupan sehari-hari kita mengabaikan relasi dengan Allah, apa bedanya kita dengan (maaf) binatang? Amin.

REFLEKSI

Hati, pikiran, tangan, dan kaki Anda dipenuhi cap jejak Sang Pencipta. Tidak heran Iblis ingin Anda malu dengan tubuh Anda sendiri (Joni Eareckson Tada)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Berdasarkan pemahaman ini, bagaimana sikap Anda terhadap:
    • Orang yang melakukan kejahatan yang luar biasa keji.
    • Orang yang menyakiti hati Anda secara luar biasa.
    • Orang yang mengancam hidup Anda/orang-orang di sekitar Anda.
  2. Apakah ada kebiasaan-kebiasaan di sekitar Anda yang tidak mencerminkan sikap menghargai gambar dan rupa Allah? Apa komitmen Anda untuk mengatasinya?

REFERENSI AYAT ALKITAB

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kej. 1:26)

Related Post

Leave a Reply