Tafsiran Amsal 7

Photo by monica di loxley on Unsplash

Print Friendly, PDF & Email

TES PEMAHAMAN PRAKTIS

Setujukah Anda dengan pernyataan-pernyataan berikut? Jawablah sekarang juga dan periksalah kembali apakah ada cara pandang yang diubahkan setelah mempelajari bagian Alkitab ini.

PernyataanSetuju/Tidak Setuju
1. Karena seks sejatinya adalah hal yang kotor, maka diperlukan norma-norma masyarakat untuk membatasinya.
2. Tanggung jawab terbesar kita sebagai orang tua adalah mendidik anak-anak untuk berperilaku baik.
3. Masa muda adalah masa ketika seseorang sebaiknya mengeksplorasi dunia sebebas mungkin.
4. Hikmat Tuhan akan membuat hidup kita bebas dari masalah.
5. Mengekang diri adalah cara terbaik untuk melepaskan diri dari godaan dosa.

PENGANTAR

Alkitab mengajarkan bahwa seks (dan pernikahan) adalah hal yang kudus karena diinisiasi oleh Allah. Manusia tidak boleh sembarangan melakukannya. Hanya orang-orang dewasa yang berbeda gender dan telah diikat dalam pernikahan boleh melakukannya (Kej. 1:28; Kej. 2:24).

Zina merupakan salah satu dosa yang dilarang dalam Sepuluh Hukum (Kel. 20:14; Ul. 5:18). Bahkan, orang yang melakukannya harus dihukum mati: “Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu” (Im. 20:10).

Di dalam Perjanjian Baru, Paulus juga menjelaskan bahwa karena tubuh kita adalah bait Roh Kudus, maka kita harus menjauhkan diri dari percabulan (1Kor. 6:15-20). Dengan demikian, jika kita berzina, maka kita sedang mencemarkan bait Roh Kudus. Betapa seriusnya dosa ini!

Oleh sebab itu, wajar jika menjauhkan diri dari zina juga merupakan salah satu nasihat yang sangat ditekankan dalam kitab Amsal. Misalnya, apa yang tertulis dalam Amsal 7 ini. Sebagaimana umumnya pada masa kini, para orang tua pada masa Israel kuno pun menginginkan anak-anak mereka menikmati kehidupan pernikahan yang penuh berkat.

STRUKTUR

Amsal 7 dapat dibagi menjadi:

  1. Ayat 1-5: Seruan dari seorang ayah kepada anaknya untuk mendengarkan nasihatnya.
  2. Ayat 6-23: Isi nasihat.
  3. Ayat 24-27: Seruan dari seorang ayah kepada anaknya untuk menjauhi percabulan.

Isi dari Amsal 7 sepadan dengan apa yang dipaparkan dalam bagian sebelumnya, yaitu Amsal 5:1-4 dan 6:20-24.

PENGGALIAN AYAT

I. Ayat 1-5: Seruan dari orang tua kepada anaknya untuk mendengarkan nasihatnya

1 Hai anakku, berpeganglah pada perkataanku,

  dan simpanlah perintahku dalam hatimu.

2 Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup;

  simpanlah ajaranku seperti biji matamu.

3 Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu,

  dan tulislah itu pada loh hatimu.

4 Katakanlah kepada hikmat: ”Engkaulah saudaraku”

  dan sebutkanlah pengertian itu sanakmu,

5 supaya engkau dilindunginya terhadap perempuan jalang,

  terhadap perempuan asing, yang licin perkataannya.

  1. Ayat 1-3.
    • Ayat 1: Anakku.
      • Amsal 7 merupakan petuah dari orang tua kepada anaknya supaya menikmati kehidupan rumah tangga yang penuh berkat.
    • Ayat 1-2: Perintah (Ibr. miṣwot), ajaran (Ibr. torot).
      • Perintah Tuhan kepada para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka dengan tidak jemu-jemu dinyatakan dalam kitab Taurat (Ul. 6:7, 20; 11:19). “Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;” (Ul. 11:19)
      • Apa saja yang telah kita ajarkan kepada anak-anak kita? Tidak sedikit orang tua yang lebih fokus mengembangkan potensi anak dibanding membimbing mereka di dalam Tuhan.
    • Ayat 1-2: Pegang, simpan (masing-masing muncul pada ayat pertama dan kedua).
      • Paralelisme yang muncul pada ayat pertama dan kedua ini menekankan pentingnya perintah/ajaran yang disampaikan kepada Si Anak. Jika Si Anak mengabaikannya, dia akan menghancurkan hidupnya sendiri, seperti yang akan dinyatakan pada bagian akhir pasal ini.
    • Ayat 2: Hidup (BIMK: “hidup bahagia“).
      • Pilihan antara dua jalan hidup (orang benar dan orang fasik) merupakan hal yang sering ditekankan dalam kitab-kitab hikmat. Di dalam Perjanjian Baru, konsep ini juga masih berlanjut.
        • sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan” (Mzm. 1:6).
        • Di jalan kebenaran terdapat hidup, tetapi jalan kemurtadan menuju maut” (Ams. 12:28).
        • 13 Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; 14 karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat. 7:13-14).
  1. Ayat 2-3:Simpanlah… seperti biji matamu,” “tambatkanlah… pada jarimu,” “tulislah… pada loh hatimu.”
      • Seluruh keberadaan diri harus diikutsertakan dalam menjalankan perintah Tuhan (bnd. Amsal 6:20-22). Hal seperti ini juga diingatkan Tuhan pada bangsa Israel dalam Syema Yisrael (Ul. 6:4-9). “Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu” (Ul. 6:8).
      • Bandingkan juga dengan Yeremia 31:33: “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman Tuhan: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.
      • Pengajaran hikmat harus benar-benar diresapi oleh Si Anak. Bukan sekadar tampak di luar, tetapi harus menjadi bagian dari karakter dan kepribadiannya. Inilah yang dimaksud dengan “lahir baru” dalam Perjanjian Baru. Misalnya, ketika Tuhan Yesus berbincang-bincang dengan Nikodemus dalam Yohanes 3:1-9.
        • Apakah perintah Tuhan sudah melekat dalam karakter kita? Jangan menggumuli firman Tuhan hanya sebatas pengetahuan. Penganiayaan, kekhawatiran, serta tipu daya kenikmatan dunia akan mengalihkan kita (lih. perumpamaan benih yang ditabur di tanah yang berbatu dan di tengah semak duri dalam Mat. 13:20-22).
        • Tuntunlah anak-anak kita untuk mengenal Tuhan secara pribadi, jangan hanya merasa puas ketika mereka berperilaku baik. Apakah Roh Kudus sudah mentransformasi hati mereka?
  2. Ayat 4-5.
    • Ayat 4: Hikmat
      • Lihat pembahasan ayat 1-3.
    • Ayat 4: Saudara, sanak.
      • Si Anak dinasihati untuk lebih intim dengan hikmat dibanding dengan perempuan jalang.
      • Apakah kita lebih menyukai hikmat (Injil) dibanding yang lain? Memang dalam bagian ini, Si Anak dinasihati untuk lebih memilih hikmat dibanding melekat pada perempuan jalang (godaan seksual). Tetapi, nasihat ini juga bisa diterapkan untuk godaan-godaan lainnya. Kita harus lebih memilih hikmat dibanding kekayaan, ketenaran, maupun kenikmatan fana lainnya.
    • Ayat 5: Perempuan jalang, perempuan asing.
      • Perempuan yang tidak bermoral (bukan selalu berarti pekerja seks komersial). BIMK: “perempuan nakal.”

II. Ayat 6-23: Isi nasihat

Menarik untuk dicermati bahwa Sang Orang Tua memberikan nasihatnya secara naratif (dengan menggunakan sebuah cerita). Seorang perempuan jalang menjebak seorang anak muda yang tidak berpengalaman (dan memang ingin menjauh dari hikmat) untuk melakukan perzinahan.

6 Karena ketika suatu waktu aku melihat-lihat,

  dari kisi-kisiku, dari jendela rumahku,

7 kulihat di antara yang tak berpengalaman,

  kudapati di antara anak-anak muda seorang teruna

  yang tidak berakal budi,

8 yang menyeberang dekat sudut jalan,

  lalu melangkah menuju rumah perempuan semacam itu,

9 pada waktu senja, pada petang hari,

  di malam yang gelap.

10 Maka datanglah menyongsong dia seorang perempuan,

  berpakaian sundal dengan hati licik;

11 cerewet dan liat perempuan ini,

  kakinya tak dapat tenang di rumah,

12 sebentar ia di jalan dan sebentar di lapangan,

  dekat setiap tikungan ia menghadang.

13 Lalu dipegangnyalah orang teruna itu dan diciumnya,

  dengan muka tanpa malu berkatalah ia kepadanya:

14 “Aku harus mempersembahkan korban keselamatan,

  dan pada hari ini telah kubayar nazarku itu.

15 Itulah sebabnya aku keluar menyongsong engkau,

  untuk mencari engkau dan sekarang kudapatkan engkau.

16 Telah kubentangkan permadani di atas tempat tidurku,

  kain lenan beraneka warna dari Mesir.

17 Pembaringanku telah kutaburi

  dengan mur, gaharu dan kayu manis.

18 Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari,

  dan bersama-sama menikmati asmara.

19 Karena suamiku tidak di rumah,

  ia sedang dalam perjalanan jauh,

20 sekantong uang dibawanya,

  ia baru pulang menjelang bulan purnama.”

21 Ia merayu orang muda itu dengan berbagai-bagai bujukan,

  dengan kelicinan bibir ia menggodanya.

22 Maka tiba-tiba orang muda itu mengikuti dia

  seperti lembu yang dibawa ke pejagalan,

dan seperti orang bodoh yang terbelenggu untuk dihukum,

23   sampai anak panah menembus hatinya;

seperti burung dengan cepat menuju perangkap,

  dengan tidak sadar, bahwa hidupnya terancam.

  1. Ayat 6-12.
    • Ayat 6: “Karena ketika suatu waktu aku melihat-lihat, dari kisi-kisiku, dari jendela rumahku.”
      • Perhatikan bagaimana perempuan ini secara sembunyi-sembunyi memerangkap anak muda yang tidak berpengalaman.
    • Ayat 7: tak berpengalaman (Ibr. petî)… teruna yang tak berakal budi.
      • Secara literal berarti “terbuka” (muncul juga dalam Amsal 1:4, 22). Menyiratkan orang yang tidak memiliki ketetapan hati (masih mencari-cari/mencoba-coba). BIMK: “pemuda yang masih hijau“… “seorang yang bodoh“).
      • Berhati-hatilah dengan apa yang kita lakukan dalam tahap pencarian seperti ini. Terutama di era digital. Dunia Internet yang membuka informasi secara luas, termasuk hal-hal yang tidak benar dan cemar, bisa menjerumuskan kita. Berhikmatlah!
  2. Ayat 13-21.
    • Ayat 14, 16-17, 19-20.
      • Perempuan itu menawarkan tiga kenikmatan: 1) makanan lezat (ayat 14); 2) kamar yang nyaman dan menggoda (ayat 16-17); 3) keamanan, suami perempuan itu sedang dalam perjalanan jauh sehingga tidak mungkin memergoki mereka (ayat 19-20).
    • Ayat 21: “Merayu… dengan berbagai-bagai bujukan… dengan kelicinan bibir… menggodanya.”
      • Jika kita dihadapkan pada godaan seksual, apalagi secara berulang-ulang, apakah kita sanggup menolaknya?
      • Alkitab mencatat kisah yang sangat cocok dengan gambaran ini, yaitu ketika Yusuf digoda oleh Potifar. Namun apa yang dilakukan Yusuf? Dia terus menolaknya dan berkata, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej. 39:9). Dengan hikmat Tuhan, Yusuf mampu memandang godaan itu dalam perspektif yang benar. Penolakan itu memang membuat hidup Yusuf menderita, sampai harus dipenjara. Tetapi, Allah menyertainya dan membuat hidupnya penuh berkat.
      • Bandingkan dengan kejatuhan dalam dosa seksual yang dilakukan Er, Onan, serta Yehuda dan Tamar dalam Kejadian 38.
      • Manakah yang kita pilih: kenikmatan sesaat yang ditawarkan dunia atau sukacita sejati yang ditawarkan Allah? Milikilah hikmat Allah supaya kita mampu memandang segala situasi dalam perspektif yang benar.
  3. Ayat 22-23.
    • Ayat 22-23: “Lembu… orang bodoh… burung.”
      • Gambaran dari nafsu kebinatangan yang membutakan mata hati orang muda tersebut sehingga dia masuk ke dalam perangkap.

III. Ayat 24-27: Seruan dari orang tua kepada anaknya untuk menjauhi perzinahan

24 Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku,

  perhatikanlah perkataan mulutku.

25 Janganlah hatimu membelok ke jalan-jalan perempuan itu,

  dan janganlah menyesatkan dirimu di jalan-jalannya.

26 Karena banyaklah orang yang gugur ditewaskannya,

  sangat besarlah jumlah orang yang dibunuhnya.

27 Rumahnya adalah jalan ke dunia orang mati,

  yang menurun ke ruangan-ruangan maut.

  1. Ayat 24-27.
    • Ayat 25: Hatimu membelok, menyesatkan dirimu.
      • Ingat kembali akan adanya dua pilihan jalan hidup (lih. pembahasan ayat 2).
    • Ayat 26: Banyaklah orang yang gugur ditewaskannya, sangat besarlah jumlah orang yang dibunuhnya.
      • Gambaran dari dunia kemiliteran ini menyatakan betapa mengerikannya kerusakan yang diakibatkan oleh perempuan itu.
      • Dunia tidak kekurangan orang-orang yang jatuh karena perzinaan. Dampak yang diakibatkannya pun bisa begitu besar. Tidak hanya bagi diri atau keluarga sendiri saja, namun juga bisa berdampak bagi banyak orang.
        • Dari Alkitab, kita mengenal betapa mengerikannya akibat yang ditimbulkan oleh dosa seksual. Misalnya, bacalah Hakim-Hakim 19-20.
        • Dari dunia masa kini, berulang kali tersiar kejatuhan seorang pelayan Tuhan dalam hal seksual. Hal ini menyebabkan semakin banyak orang yang antipati terhadap kekristenan.
        • Bagaimana dengan pornografi? Bukankah ini tidak merugikan orang lain? Ingat, di balik industri pornografi, ada wanita-wanita, termasuk juga pria, yang dieksploitasi. Ini merusak martabat manusia yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah. Selain itu, tidak sedikit orang yang melakukan dosa-dosa lain yang bermula dari kecanduan pornografi. Misalnya, perkosaan dan pembunuhan (ingat bagaimana Daud merancang strategi untuk membunuh Uria, suami Batsyeba).
    • Ayat 27: Dunia orang mati (Ibr. sheol), ruangan-ruangan maut.
      • Sheol (muncul 65 kali dalam Perjanjian Lama) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan apa yang dialami oleh semua orang setelah kehidupan di dunia ini berakhir. Orang-orang Israel pada masa Perjanjian Lama belum mengenal konsep surga dan neraka sejelas pada masa Perjanjian Baru.
        • Kengerian karena terpisah dari semua yang dikasihi, termasuk Tuhan. “Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?” (Mzm. 6:6).
        • Hanya Allah yang bisa membebaskan manusia dari situ: “Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku” (Mzm. 49:16).
      • Gambaran yang mengerikan dalam ayat 26-27 ini seharusnya membuat Si Anak benar-benar memperhatikannya. Selaras dengan apa yang ditawarkan oleh Perempuan Bebal: “Mereka yang menjadi mangsanya tidak tahu bahwa orang yang mengunjungi dia menemui ajalnya di situ; dan mereka yang telah masuk ke dalam rumahnya, sekarang berada di dalam dunia orang mati” (Ams. 9:18 BIMK).
      • Ingat apa yang dipaparkan dalam Roma 6:23: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Berhati-hatilah dengan apa yang ada di depan kita. Pilihlah dengan bijak (berhikmat) sehingga kita mendapatkan hidup dan bukannya maut.
      • Ada pepatah “Ibarat nasi telah menjadi bubur.” Sebelum godaan dosa menghancurkan kita, menjauhlah cepat-cepat!
        • Tetapi, seringkali hal ini sulit untuk dilakukan. Mengekang diri bukanlah solusi untuk lepas dari dosa. Natur dosa/kedagingan justru akan membuat dosa tampak semakin menarik.
        • Oleh sebab itu, melekatlah pada Kristus sehingga kenikmatan berelasi dengan-Nya mampu mengalahkan godaan untuk menikmati apa yang dilarang Tuhan. “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi” (Mzm. 73:25). Cara pandang seperti ini hanya bisa dimiliki oleh orang yang telah lahir baru.
PernyataanSetuju/Tidak Setuju
1. Karena seks sejatinya adalah hal yang kotor, maka diperlukan norma-norma masyarakat untuk membatasinya.Tidak Setuju
2. Tanggung jawab terbesar kita sebagai orang tua adalah mendidik anak-anak untuk berperilaku baik. Tidak Setuju
3. Masa muda adalah masa ketika seseorang sebaiknya mengeksplorasi dunia sebebas mungkin. Tidak Setuju
4. Hikmat Tuhan akan membuat hidup kita bebas dari masalah. Tidak Setuju
5. Mengekang diri adalah cara terbaik untuk melepaskan diri dari godaan dosa. Tidak Setuju

Catatan: tafsiran ini diolah dari berbagai sumber.

Related Post

Leave a Reply