Tafsiran Matius 6:25-34: Hal Kekhawatiran

Photo by Elijah Hiett on Unsplash

Print Friendly, PDF & Email

Hal kekhawatiran umum dialami oleh manusia di muka bumi ini. Sebagai orang Kristen, bagaimana kita harus mengatasinya? Belajarlah dari apa yang dikhotbahkan oleh Tuhan Yesus tentang kekhawatiran dalam Matius 6:25-34 ini.

TES PEMAHAMAN PRAKTIS

Setujukah Anda dengan pernyataan-pernyataan berikut? Jawablah sekarang juga dan periksalah kembali apakah ada cara pandang yang diubahkan setelah mempelajari bagian Alkitab ini.

PernyataanSetuju/Tidak Setuju
1. Pada kasus-kasus tertentu dan dalam batas-batas yang tepat, perasaan khawatir dapat menimbulkan hasil yang baik.
2. Kita akan bebas dari kekhawatiran jika kita mendapat apa yang kita inginkan.
3. Perencanaan atas masa depan sangat perlu untuk dilakukan.
4. Fokus pada kekuatan diri, bukan pada kelemahan, akan membantu kita mengatasi kekhawatiran.
5. Terkadang Allah melepaskan penyertaan-Nya dalam rangka mendidik kita untuk berusaha semaksimal mungkin.

PENGANTAR

Khawatir merupakan salah satu perasaan yang umum menghinggapi orang-orang. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari khawatir tentang pekerjaan hingga pasangan.

Namun tahukah Anda bahwa berdasarkan sebuah studi, mayoritas kekhawatiran yang kita miliki itu tidak terjadi.

STRUKTUR

Matius 6:25-34 bisa dibagi menjadi:

  1. Prinsip mengenai kekhawatiran (ay. 25).
  2. Contoh dari hidup dan makanan (ay. 26-27).
  3. Contoh dari pakaian (ay. 28-30).
  4. Tuhan memperhatikan segalanya (ay. 31-32).
  5. Prioritas yang tepat (ay. 33).
  6. Melenyapkan kekhawatiran (ay. 34).

Bagian ini merupakan kelanjutan dari bagian sebelumnya yang mengajarkan tentang ketamakan akan kekayaan. Selain tidak boleh diperbudak oleh kekayaan (Mamon), kita juga tidak boleh khawatir akan berkekurangan.

PENGGALIAN AYAT

I. Prinsip mengenai kekhawatiran (ay. 25)

25 ”Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

  • kuatir (baku: khawatir; Yun. merimnao).
    • Dalam bahasa Yunaninya, kata ini bisa digunakan dalam dua makna:
      • Perhatian atau kepedulian yang sungguh-sungguh terhadap suatu hal. Misalnya, terhadap pekerjaan Tuhan (1Kor. 7:32) atau kesejahteraan sesama (Flp. 2:20).
      • Kecemasan akan kehidupan ini. Makna yang kedua inilah yang Tuhan Yesus maksudkan dalam bagian ini.
    • Bolehkah kita merasa khawatir? Jika itu terjadi dalam batas wajar dan menuntun kita untuk melakukan suatu tindakan dengan tepat, maka itu adalah kekhawatiran yang sehat. Namun jika berlebihan dan malah membuat kita kurang percaya pada Tuhan, maka itu kekhawatiran yang keliru.
  • Akibat dari kekhawatiran yang berlebihan:
    • Hilang semangat. “Rasa khawatir mematahkan semangat (TB: membungkukkan orang), tetapi kata-kata ramah membesarkan hati” (Ams. 12:25 BIMK).
    • Hidup tidak akan bisa maksimal. “Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah” (Mat. 13:22).
  • Hidup vs. makanan, tubuh vs. pakaian.
    • Siapakah yang membuat kita memiliki tubuh? Siapakah yang menghidupkan kita? Bukankah Allah? Jika demikian, Dia pasti akan memberikan kecukupan bagi kita.

II. Contoh dari hidup dan makanan (ay. 26-27)

26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

  • “Burung-burung” (ay. 26)
    • Seperti biasanya, Tuhan Yesus menggunakan fenomena sehari-hari untuk mengajarkan kebenaran Kerajaan Allah. Di daerah Palestina waktu itu, burung banyak beterbangan di alam liar. Pemazmur menyatakan bahwa seluruh isi alam semesta ini dipelihara oleh Tuhan (Mzm. 104:10-16).
  • “Menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya” (ay. 27)
    • Hasta (TB) adalah ukuran panjang kira-kira dari siku sampai ujung jari tengah. Artinya, kita tidak mampu memperpanjang umur kita. Sependek apapun.
  • Apakah ayat ini mengajarkan kita boleh bermalas-malasan/berpangku tangan karena Allah pasti akan mencukupi? Sama sekali tidak. Allah mengaruniakan burung-burung dengan insting dan merancang alam sedemikian rupa sehingga mereka bisa hidup. Namun demikian, burung-burung tetap harus aktif dengan bekerja keras mencari makan, membuat sarang, dan membesarkan anak-anak mereka. Jika binatang saja tetap berusaha, terlebih lagi manusia yang diberi akal budi dengan luar biasa limpahnya!

III. Contoh dari pakaian (ay. 28-30)

28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 

  • “Bunga bakung” (Ing. lily; ay. 28). Bunga yang sangat indah ini masih bisa ditemukan di perbukitan sekitar danau Galilea hingga masa kini. Ratu Syeba pernah dibuat takjub ketika mengunjungi istana Salomo (1Raj. 10:1-29; 2Taw. 9:1-28). Namun demikian, tidak bisa mengalahkan keindahan yang dibuat Tuhan pada bunga bakung.
  • “Rumput” (ay. 30). Kita tahu rumput adalah tanaman yang sering tidak bertahan lama karena dicabut, dibakar, dijadikan makanan binantang, dan sebagainya. Tetapi Tuhan tetap memperhatikannya.
  • “Orang yang kurang percaya” (Yun. oligopistos; ay. 30). Bukan orang yang sama sekali tidak beriman, namun orang yang imannya kecil.

IV. Tuhan memperhatikan segalanya (ay. 31-32)

31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

  • “Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” (Yun. ethne; ay. 32). Biasa digunakan untuk mengacu pada orang-orang non-Yahudi.
  • Cara pandang seperti ini menyasar semua kalangan. Bagi orang-orang yang merasa sukses, mereka diajar untuk tidak meninggikan kesuksesannya itu. Bagi orang-orang yang berkekurangan, mereka diajar untuk tidak fokus pada penderitaan (Morris). Intinya, pendengar diajar untuk fokus pada Allah.
  • Nyatakan kekhawatiran kita kepada Allah, yang akan menggantikannya dengan damai sejahtera. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:6).

V. Prioritas yang tepat (ay. 33)

33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (TB).

33 Jadi, usahakanlah dahulu supaya Allah memerintah atas hidupmu dan lakukanlah kehendak-Nya. Maka semua yang lain akan diberikan Allah juga kepadamu (BIMK).

  • Pusatkanlah seluruh kehidupan kita pada Kerajaan Allah. Jika ini kita lakukan, pasti Allah akan memberikan penyertaan-Nya pada urusan sehari-hari.
  • Apakah kita masih meragukan penyertaan Allah? Renungkan ayat ini: “Anak-Nya sendiri tidak disayangkan-Nya, melainkan diserahkan-Nya untuk kepentingan kita semua; masakan Ia tidak akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang lainnya?” (Rm. 8:32 BIMK).

VI. Melenyapkan kekhawatiran (ay. 34)

34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

  • Tuhan Yesus mengajar pada kita untuk bersandar pada Allah hari demi hari. “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11). Lagipula, kita tidak tahu akan hari esok, mengapa susahnya dibawa pada hari ini? 13  Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ”Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, 14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. 15 Sebenarnya kamu harus berkata: ”Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yak. 4:13-15)

JAWABAN TES PEMAHAMAN PRAKTIS

  1. Setuju. Perasaan khawatir dalam porsi dan perspektif yang tepat sesungguhnya baik. Seorang pelajar yang “khawatir” tidak lulus ujian, akan belajar habis-habisan. Seorang kepala rumah tangga yang “khawatir” dengan masa depannya, akan menabung dan berinvestasi untuk pendidikan anak-anaknya. Yang keliru adalah kekhawatiran yang berlebihan seolah-olah tidak ada penyertaan Tuhan.
  2. Tidak Setuju. Banyak orang yang justru merasa lebih khawatir setelah mendapat lebih banyak. Misalnya, semakin banyak uang semakin cemas di mana harus disimpan/diinvestasikan. Hanya dengan menyerahkannya pada Tuhan, kita bisa terlepas dari kekhawatiran.
  3. Setuju. Bersandar pada Tuhan bukan berarti bersikap masa bodoh dengan masa depan. Tuhan memberi kita akal budi untuk menjalani hidup dengan baik. Akal budi yang telah diperbarui oleh Roh Kudus akan menuntun kita untuk merencanakan masa depan dengan baik di dalam Tuhan. Tentu saja, dengan berpedoman bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas apa yang akan terjadi.
  4. Tidak Setuju. Sekali lagi, hanya dengan berfokus pada Tuhan maka kita dapat terlepas dari kekhawatiran. Kekuatan manusia terbatas. Jika bersandar padanya, maka suatu saat kita akan berhadapan dengan jalan buntu.
  5. Tidak Setuju. Allah tidak akan sekali-kali melepaskan penyertaan-Nya bagi kita (Ibr. 13:5), entah kita merasa mampu atau tidak dalam menghadapi persoalan.

Baca juga:

https://www.gotquestions.org/Indonesia/kekuatiran-menurut-Alkitab.html

Related Post

Leave a Reply