Bijak Menghitung Hari (Mzm. 90)

Print Friendly, PDF & Email

Pada tanggal 8 September 2022, Ratu Elizabeth II meninggal dunia dalam usia 96 tahun. Bertakhta selama sekitar 70 tahun, beliau dikenal sebagai penguasa Kerajaan Inggris terlama sepanjang sejarah. Di balik segala keanggunannya sebagai seorang Ratu yang penuh welas asih, Elizabeth II dikenal pula sebagai seorang Kristen yang taat. Bahkan Almarhum Billy Graham, yang berteman dengan beliau, menyaksikan bahwa Ratu Elizabeth II sangat tertarik dengan Alkitab dan pesan-pesan di dalamnya.

Mangkatnya Ratu Elizabeth II mengingatkan kepada kita pelajaran yang sangat penting dalam hidup ini. Seberapa lamapun kita hidup, dan seberapa berkuasapun kita di dunia ini, pada akhirnya kita pasti akan menghadap Raja di atas segala raja. Oleh sebab itu, selama masih ada waktu, marilah kita berhikmat dalam menghabiskan sisa hidup kita. Inilah yang diajarkan dalam Mazmur 90, yang kemungkinan ditulis oleh Musa.

Di dalam bagian pertama (ay. 1-2), Musa menyatakan Allah adalah kekal. Dia tidak memiliki awal maupun akhir. Itulah yang membuat Allah layak untuk dijadikan “tempat perteduhan” (“tempat berlindung”; ay. 1 BIMK) bagi bangsa Israel turun temurun. Kekekalan Allah tersebut kemudian dikontraskan Musa dengan kefanaan manusia (ay. 3-6). Seberapa lamapun manusia hidup, sebenarnya itu adalah jangka waktu yang sangat singkat. Pepatah Jawa mengatakan, “Urip iku mung mampir ngombe” (hidup itu hanyalah mampir minum, sangat singkat). Bagi kita yang telah memiliki anak yang sudah besar-besar, pasti sangat memahami singkatnya hidup ini.

Selanjutnya, Musa menyatakan bahwa Allah mengetahui dosa-dosa yang diperbuat manusia (ay. 7-11). Ketidaksetiaan manusia sendirilah yang menyebabkan hidup di dunia ini penuh dengan kesukaran dan penderitaan. Juga, murka Allah akan menimpa atas kebejatan manusia.

Musa kemudian menutup doanya dengan permohonan untuk memiliki kebijaksanaan dalam memandang sisa hidup ini (ay. 12-17). Memang hidup bisa dipenuhi dengan dosa, kesukaran, serta penderitaan. Tetapi belas kasihan Allah akan membuat manusia mampu memiliki cara pandang dan respons yang positif terhadap hidup ini.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam merespons mazmur ini. Pertama, ingatlah selalu bahwa hidup itu ada batasnya. Oleh sebab itu, marilah kita bijak dalam menjalani kehidupan ini. Jangan menggunakannya untuk hal-hal yang membangkitkan murka Allah (ay. 7). Tetapi, gunakanlah untuk hal-hal yang selaras dengan kemurahan Allah (ay. 17). Mumpung masih ada kesempatan, jadilah diri kita sebagai saluran berkat bagi orang-orang yang ada di sekitar kita.

Kedua, jangan sekali-kali melepaskan diri dari Allah. Dunia penuh dengan kerapuhan dan ketidakpastian. Jangan fokuskan hidup kita di dalamnya, karena pada akhirnya yang kita dapatkan hanyalah kekecewaan.

Kita tidak tahu berapa lama lagi akan hidup di dunia ini. Juga, tidak tahu hidup seperti apakah yang akan kita jalani di masa depan. Namun yang pasti, selama Allah masih memberikan waktu, itu berarti ada rencana-Nya yang masih harus kita lakukan di dunia ini (Flp. 1:22). Amin.

REFLEKSI

Hidup hanya sekali, dan itu pun cepat berlalu. Hanya apa yang kita lakukan bagi Kristuslah yang akan bertahan (C.T. Studd)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Bagaimana Anda mengaitkan singkatnya hidup ini (dan bisa berlalu secara tiba-tiba) dengan perencanaan untuk masa depan diri Anda, keluarga, maupun pelayanan?
  2. Seandainya Anda meninggal pada saat ini juga, apakah ada penyesalan yang akan Anda alami? Mumpung masih ada waktu, bagaimana Anda akan mengantisipasi penyesalan tersebut di masa mendatang?

REFERENSI AYAT ALKITAB

1 Doa Musa, abdi Allah.

Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami

turun-temurun.

2  Sebelum gunung-gunung dilahirkan,

dan bumi dan dunia diperanakkan,

bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya

Engkaulah Allah.

3  Engkau mengembalikan manusia kepada debu,

dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”

4  Sebab di mata-Mu seribu tahun

sama seperti hari kemarin, apabila berlalu,

atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.

5  Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi,

seperti rumput yang bertumbuh,

6  di waktu pagi berkembang dan bertumbuh,

di waktu petang lisut dan layu.

7   Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu,

dan karena kehangatan amarah-Mu kami terkejut.

8  Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu,

dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu.

9  Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemas-Mu,

kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh.

10  Masa hidup kami tujuh puluh tahun

dan jika kami kuat, delapan puluh tahun,

dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan;

sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.

11  Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu

dan takut kepada gemas-Mu?

12  Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian,

hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

13  Kembalilah, ya TUHAN  —  berapa lama lagi?  — 

dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

14  Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu,

supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa

hari-hari kami.

15  Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami,

seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.

16  Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu,

dan semarak-Mu kepada anak-anak mereka.

17  Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami,

dan teguhkanlah perbuatan tangan kami,

ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.

(Mzm. 90)

Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. (Flp. 1:22)

Baca juga:

Makna Hidup | STUDIBIBLIKA.ID

Di Luar Tuhan, Hidup Tidak Akan Berarti (Pkh. 1:1-11) | STUDIBIBLIKA.ID

Nikmatilah Hidup! (Pkh. 9:7-10) | STUDIBIBLIKA.ID

Died: Queen Elizabeth II, British Monarch Who Put Her Trus…… | News & Reporting | Christianity Today

Related Post

Leave a Reply