Hidup Sesudah Mati (Mrk. 12:18-27)

Photo by Einar Storsul on Unsplash

Print Friendly, PDF & Email

Seperti apa bayangan Anda tentang kehidupan setelah kematian? Di dunia ini, beragam sekali ajaran tentang kehidupan setelah kematian. Ada yang mengajarkan bahwa setelah mati, manusia akan hidup lagi di dunia dengan keadaan yang lain sesuai karma kita di kehidupan setelahnya. Ada juga yang mengajarkan bahwa setelah mati, manusia akan berubah menjadi malaikat di surga. Ada lagi, orang-orang yang tidak percaya adanya kebangkitan.

WAWASAN DUNIA ALKITAB

Orang-orang Saduki, salah satu golongan Yahudi pada masa Tuhan Yesus, ada di kelompok terakhir. Karena mereka hanya memercayai kitab-kitab Musa (Taurat), yang tidak terlalu jelas mengajarkan adanya kebangkitan, maka mereka menolak ajaran tentang kebangkitan. Itulah sebabnya, mereka berusaha menjebak Tuhan Yesus dengan menggunakan ajaran Musa. Di dalam kitab Taurat ada hukum perkawinan anggan/levirat (Ul. 25:5-6). Seorang janda yang tidak memiliki anak laki-laki wajib dinikahi oleh saudara iparnya demi mempertahankan garis keturunan. Setelah di surga (kalau itu ada), siapa yang menjadi suaminya?

Tuhan Yesus tidak termakan oleh umpan itu. Dia malah menggunakan pertanyaan ini untuk mengajarkan bahwa hidup di surga tidak sama seperti hidup di dunia yang fana. Di sana, kita akan hidup seperti malaikat (bukan menjadi malaikat), yang tidak perlu lagi kawin-mengawini dan pusing memikirkan anak.

Lebih jauh lagi, Tuhan Yesus juga menegaskan bahwa konsep kebangkitan pun sebenarnya ada dalam kitab-kitab Musa. Misalnya, ketika Allah mengenalkan diri-Nya sebagai Allahnya Abraham, Ishak, dan Yakub kepada Musa (Kel. 3:6). Padahal, peristiwa itu terjadi jauh setelah ketiganya mati.

Jadi, kebangkitan itu nyata. Hal ini akan dibuktikan sendiri oleh Kristus setelah kematian-Nya. Kebangkitan itu juga menjadi dasar bagi dasar iman para pengikut-Nya dan pemberitaan Injil yang dilakukan mereka.

APLIKASI MASA KINI

Konfusianisme mengajarkan bahwa kita tidak perlu fokus pada hidup setelah kematian, karena kita hanya tahu sedikit saja tentang itu. Maka, kita harus fokus pada hidup sehari-hari. Berlawanan dengan itu, Paulus mengajarkan bahwa jika tidak ada kebangkitan, maka sia-sialah seluruh iman kita (1Kor. 15:14). Jadi, kebangkitan merupakan hal yang sangat mendasar dalam iman Kristen. Justru dengan percaya pada kebangkitan, maka kita akan bertanggung jawab pada kehidupan sehari-hari (Pkh. 11:9).

Kita memang tidak tahu secara detail seperti apa hidup setelah kematian. Namun percayalah bahwa akan ada kehidupan luar biasa yang menanti mereka yang dibangkitkan bersama Kristus (baca: Why. 21:1-22:5). Amin.

REFLEKSI

Transformasi hidup yang dialami oleh para murid mungkin merupakan bukti yang paling kuat tentang adanya kebangkitan (John Stott)

PERTANYAAN

1. Sebutkan pemahaman tentang kehidupan setelah kematian yang keliru, baik dari berbagai media, mitos, ataupun ajaran-ajaran di luar Alkitab. Apa sanggahan Anda tentang hal itu? Jelaskan pula dasar Alkitabnya.

2. Apa perbedaan yang Anda alami ketika hidup dengan pengharapan atas adanya kebangkitan?

REFERENSI

18 Datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: 19  “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. 20  Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. 21  Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. 22  Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. 23  Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.” 24  Jawab Yesus kepada mereka: “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. 25  Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. 26  Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? 27  Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!” (Mrk. 12:18-27)

5 “Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar. 6  Maka anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel. (Ul. 25:5-6)

Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. (Kel. 3:6)

Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. (1Kor. 15:14)

Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! (Pkh. 11:9)

Baca juga:

Masihkah Kita Percaya pada Kebangkitan Kristus? (Yoh. 20:1-10) | STUDIBIBLIKA.ID

Vanessa Angel dan Pelajaran tentang Kematian | STUDIBIBLIKA.ID

Apa yang terjadi setelah kematian? (gotquestions.org)

Related Post

Leave a Reply