Bagaimana Tuhan Memandang Pengangguran (2Tes. 3:6-12)

Photo by Adrian Swancar on Unsplash

Print Friendly, PDF & Email

Pengangguran merupakan masalah yang terus menghantui Indonesia. Menurut laporan BPS, ada sekitar 7,9 juta orang yang menganggur di awal tahun ini. Memang di antara mereka ada yang masih mencari kerja atau baru di-PHK. Tetapi berdasarkan pengamatan sehari-hari, tidak sedikit juga yang menganggur karena memang malas. Mereka ingin pekerjaan yang gengsinya tinggi atau gajinya besar, tanpa menyadari skill yang mereka miliki.  

Bagaimana Alkitab menyikapi fenomena ini?

WAWASAN DUNIA ALKITAB

Di dalam suratnya yang pertama kepada jemaat Tesalonika, Paulus sempat menegur orang-orang yang menganggur (1Tes. 5:14a). Paulus menggunakan kata ataktos, yang menggambarkan seorang prajurit yang meninggalkan barisannya ataupun seseorang yang meninggalkan kewajibannya. Jadi, Paulus bukannya menegur orang yang tidak bisa bekerja. Baik itu karena keadaan sedang susah ataupun orang tersebut memiliki kondisi yang membuatnya tidak bisa bekerja. Tetapi, orang yang tidak mau bekerja. Dengan kata lain, orang yang bermalas-malasan.

Inilah yang terjadi kepada sebagian jemaat Tesalonika yang ditegur oleh Paulus dalam bacaan kita. Mereka menganggur bukan karena pekerjaan sedang sulit atau karena ada penindasan. Kemungkinan besar, mereka tidak bekerja karena berpikir bahwa sebentar lagi Tuhan Yesus datang. Jika demikian, apa gunanya lagi bekerja? Bukankah persiapan spiritual lebih penting?

Bagi Paulus, orang-orang seperti itu tidak menghargai iman mereka. Bukankah Kristus telah mati bagi kita? Mengapa kita kemudian menyia-nyiakan anugerah tersebut. Bukannya menjadi berkat, malahan menjadi beban. Ingatlah bahwa Kristus menebus kita bukan untuk hal yang sia-sia, melainkan supaya kita bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang telah dirancang sejak kekekalan (Ef. 2:10).

Jadi, kemalasan berlawanan dengan iman Kristen. Paulus dan rekan-rekan pelayanannya pun memberikan teladan. Walaupun sebagai pelayan Tuhan mereka berhak mendapat dukungan dari jemaat, tetapi mereka lebih memilih untuk menafkahi keperluan mereka sendiri (ay. 8-9). Mereka melakukan itu supaya tidak menjadi batu sandungan sehingga Injil dapat tersebar. Seperti inilah sikap yang tepat menghadapi kedatangan Kristus yang kedua kali.

APLIKASI MASA KINI

Bagaimana aplikasinya bagi hidup kita? Ikutilah prinsip Paulus yang keras, “kalau tidak mau bekerja, jangan makan” (ay. 10). Buang perasaan malas dan gengsi, karena sebenarnya itulah penghambat terbesar kita untuk mencari nafkah. Tuhan pasti akan membuka jalan ketika kita berusaha. Jadilah teladan hidup yang baik. Syukur-syukur, bisa menjadi penyalur berkat.

Kemudian, nasihat ini juga tidak terkait dengan pekerjaan formal saja. Bagi kita yang masih bermalas-malasan dalam melayani Tuhan, bertobatlah. Ingatlah bahwa seluruh talenta kita harus dipersembahkan kepada Tuhan (Mat. 25:20-23). Melakukan hal-hal baik di dunia ini juga merupakan salah satu bentuk sikap berjaga-jaga menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua. Jangan mengulang kesalahan orang-orang di Tesalonika. Amin.

REFLEKSI

Aktiflah, rajinlah, dan hindari segala bentuk kemalasan. Menjauhlah darinya, karena dengan memiliki kemalasan, Anda hanyalah “setengah Kristen” (John Wesley)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Jika Alkitab memerintahkan kita bekerja, apakah berlibur dan menikmati jerih lelah adalah hal yang keliru? Jelaskan jawaban Anda dan berikan dasar Alkitabnya.
  2. Bagaimana caranya kita dapat menghindari kemalasan?

REFERENSI AYAT ALKITAB

6  Saudara-saudara, atas kuasa Tuhan Yesus Kristus, kami perintahkan supaya kalian menjauhi semua saudara, yang hidup bermalas-malasan, dan yang tidak menuruti ajaran-ajaran yang kami berikan kepada mereka. 7  Kalian sendiri tahu bahwa kalian harus meniru contoh kami. Kami tidak bermalas-malas ketika kami berada di tengah-tengah kalian. 8  Kami tidak makan makanan orang dengan tidak membayarnya. Sebaliknya siang malam kami bekerja membanting tulang supaya kami tidak menyusahkan siapapun juga dari antaramu. 9  Kami melakukan itu bukan karena kami tidak berhak menuntut supaya kalian menolong kami, tetapi karena kami mau menjadi teladan bagimu. 10  Pada waktu kami masih berada di tengah-tengah kalian, kami memberi peraturan ini, “Orang yang tidak mau bekerja, tidak boleh makan.” 11  Kami mengatakan ini sebab kami mendengar bahwa ada orang-orang di antaramu yang hidup bermalas-malas. Mereka tidak melakukan sesuatu pun, kecuali sibuk mencampuri urusan orang lain. 12  Atas kuasa Tuhan Yesus Kristus kami perintahkan orang-orang itu dan memberi peringatan, supaya mereka bekerja dengan tentram dan mencari nafkah mereka sendiri. (2Tes. 3:6-12 BIMK)

Kami minta juga, Saudara-saudara, tegurlah dengan rukun orang yang tidak mau bekerja; (1Tes. 5:14a BIMK)

Kita adalah ciptaan Allah, dan melalui Kristus Yesus, Allah membentuk kita supaya kita melakukan hal-hal yang baik yang sudah dipersiapkan-Nya untuk kita. (Ef. 2:10 BIMK)

20  Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. 21  Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. 22  Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. 23  Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Mat. 25:20-23)

Related Post

Leave a Reply