Ketaatan pada Pemerintah (Tit. 3:1)

Sumber: voi.id

Print Friendly, PDF & Email

Menjelang Pemilu 2024 ini, situasi politik sudah mulai menghangat. Kita sudah bisa mengira-ngira siapa saja yang akan berlaga di pemilu nanti, walaupun calon pendampingnya masih belum jelas. Di luar pertanyaan siapa yang Anda jagokan, saya lebih tertarik untuk bertanya, apakah Anda siap mendukung jika jagoan Anda kalah? Bahkan, jika yang menang nanti adalah calon yang saat ini mungkin paling tidak Anda sukai.

Banyak orang Kristen yang terlalu memerhatikan kehidupan rohani mereka dibanding kehidupan bermasyarakat. Seolah-olah, Alkitab hanya berkutat tentang iman, keselamatan, dan surga. Padahal, seperti apa yang Paulus nyatakan di dalam Surat Titus, iman terwujud dalam perubahan perilaku sehari-hari. Itulah sebabnya, Paulus menasihati berbagai hal kehidupan praktis bagi semua kalangan. Baik itu laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, hamba maupun tuan (baca pasal kedua). Termasuk juga, bagaimana iman tersebut terwujud melalui sikap terhadap pemerintah (3:1).

Seperti yang diperintahkannya dalam Surat Roma (13:1-7; bnd. 1Ptr. 2:13-17), Paulus menasihati jemaat supaya tunduk pada pemerintah. Apakah pemerintah yang baik saja? Tidak. Pada waktu itu jemaat Kreta, konteks penulisan surat ini, hidup di tengah-tengah orang yang terkenal malas, rakus, pembohong, dan jahat. Paulus mau supaya kesaksian hidup orang Kristen menjadi teladan, bukannya mengundang kecurigaan pemerintah. Menjadi mitra pemerintah dalam mengerjakan kebaikan, bukannya menjelekkan.

Dengan kata lain, orang Kristen haruslah menjadi warga negara yang baik. Mengapa demikian? Karena kita sebenarnya adalah warga Kerajaan Allah, yang diperintah oleh Raja yang mulia (Kristus) dan memiliki panduan kehidupan yang suci (Alkitab). Dengan status ini, maka seharusnya mudah saja bagi kita untuk taat dan menjadi warga negara teladan di muka bumi ini.

Sebagaimana yang dinasihatkan Paulus, kita seharusnya siap untuk melakukan setiap perbuatan baik. Jangan hanya menyalahkan pemerintah. Apalagi, luntur semangat kewarganegaraannya hanya karena jagoan yang kita dukung kalah. Bertanyalah kepada diri sendiri apa yang mampu kita lakukan untuk mendukung kekurangan yang pasti ada di setiap pemerintahan.

Tidak usah muluk-muluk untuk melakukan hal yang besar. Mulailah dari aktivitas-aktivitas dan lingkungan sehari-hari. Jika tiba saatnya membayar pajak, bayarlah tepat waktu dengan jumlah yang sesuai dengan peraturan. Saat lampu merah mulai menyala, berhentilah, jangan malah tancap gas. Kemudian, alih-alih menyalahkan pemerintah yang tidak mampu mengentaskan kemiskinan, berpikirlah apa yang bisa Anda lakukan untuk orang-orang di sekitar Anda yang lemah ekonominya.

Beberapa waktu belakangan ini, saya mengamati banyak postingan media sosial yang viral dan berdampak positif. Jalan yang rusak diperbaiki. Orang kesusahan mendapat bantuan. Hanya bermodal jari dan smartphone, mereka bisa melakukan perubahan. Gampang, bukan? Jadi, marilah kita berlomba-lomba untuk menjadi mitra pemerintah. Tentu saja, selama tidak melanggar perintah Allah (Kis. 5:29), penguasa kita yang utama. Amin.

REFLEKSI

Alasan bahwa Kekristenan merupakan teman baik pemerintah adalah Kekristenan itu satu-satunya agama yang mengubah hati (Thomas Jefferson)

PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN

  1. Bagaimana pandangan Anda terhadap orang-orang Kristen yang maju menjadi calon legislatif atau kepala daerah? Apakah gereja sebaiknya mendukungnya?
  2. Apa yang bisa Anda lakukan untuk menjadi mitra pemerintah di dalam keseharian Anda?

REFERENSI AYAT ALKITAB

Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. (Tit. 3:1)

1  Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. 2  Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. 3  Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. 4  Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. 5  Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. 6  Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 7  Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. (Rm. 13:1-7)

13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14  maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15  Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16  Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17  Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja! (1Ptr. 2:13-17)

Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. (Kis. 5:29)

BACA JUGA

https://www.gotquestions.org/Indonesia/Kristen-taat-hukum-negara.html

Related Post

Leave a Reply