Meminta Tanda dari Tuhan (Hak. 6:11-24)

Photo by Rosie Steggles on Unsplash

Print Friendly, PDF & Email

“Kak, kemarin ada cewek yang ngasih kode ke aku waktu ibadah. Apakah itu tanda dari Tuhan kalau kita bakal berjodoh?” Pertanyaan ini disampaikan oleh seorang pemuda ketika saya menjalankan praktik pelayanan di sebuah gereja. Walaupun tampak remeh dan menggelikan, pertanyaan ini menyimpan satu permasalahan teologis yang penting. Bolehkah orang Kristen meminta tanda?

WAWASAN DUNIA ALKITAB

Ketika berbicara tentang “meminta tanda,” mungkin nama Gideon langsung terbersit dalam pikiran kita. Gideon adalah seorang hakim, yaitu pemimpin politik dan militer sebelum era kerajaan Israel. Dia dipanggil Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel dari penindasan bangsa Midian.

Mungkin kita membayangkan bahwa Gideon adalah seorang gagah perkasa nan pemberani sehingga Tuhan memilihnya. Kenyataannya, dia adalah seorang penakut. Sampai-sampai, dia mengirik gandum di tempat pemerasan anggur supaya tidak ketahuan orang-orang Midian. Umumnya, orang akan melakukannya di tempat terbuka supaya angin dapat menerbangkan sekam sehingga biji gandumnya mudah dipisahkan.

Tidak hanya penakut, Gideon juga merasa tidak akan bisa menjadi “orang besar” karena terlahir dari suku yang kecil (ay. 15). Itulah sebabnya, Gideon meminta ketika Malaikat Tuhan yang memanggilnya (ay. 17).

APLIKASI MASA KINI

Berkaca dari kisah Gideon ini, bolehkah orang Kristen meminta tanda? Jika kita membaca narasi tersebut baik-baik, kita tidak akan menemukan hardikan Tuhan kepada Gideon atas permintaannya itu. Bahkan, Gideon pun mengulanginya lagi sampai dua kali, sebelum maju berperang melawan orang-orang Midian.

Di semua kejadian tersebut, Tuhan menjawabnya. Artinya, meminta tanda bukanlah dosa. Apalagi, Tuhan sepertinya masih bekerja memberi tanda bagi orang-orang pilihan-Nya (seperti Martin Luther yang menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan setelah hampir tersambar petir).

Namun demikian, ada minimal dua hal yang perlu kita pahami. Pertama, mengenal Tuhan lebih utama dibanding mencari tanda-tanda. Sering orang keliru mengartikan tanda ataupun menganggap semua tanda berasal dari Tuhan. Hal ini terjadi karena dia lebih bersandar pada mata jasmaniah dan pemikirannya sendiri dibanding Tuhan. Akibatnya? Dia keliru melangkah.

Gideon pun mengalaminya. Karena kurang mengenal Tuhan (masa Hakim-Hakim adalah masa kegelapan bangsa Israel), Gideon ragu bahwa Tuhan masih menyertai bangsanya. Gideon bertanya-tanya, “Mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib” (ay. 13). Karena kurang mengenal Tuhan, dia menjadi seorang penakut dan kehilangan daya juang.

Makanya, penting bagi kita untuk menjaga relasi dengan Tuhan setiap hari. Semakin mengenal Tuhan, maka kita akan semakin peka terhadap kehendak Tuhan. Bahkan, ketika Dia tidak memberikan tanda yang jelas.

Kedua, bersandar pada janji penyertaan Tuhan lebih utama dibanding bersandar pada tanda-tanda. Tidak selamanya Tuhan memberi tanda sesuai dengan apa yang kita minta. Namun, Tuhan sudah banyak memberikan janji penyertaan-Nya (misal: Mat. 28:20b). Dan kita bisa percaya, janji Tuhan pasti dipenuhi (Yos. 21:45).

Mungkin kita pernah ada di tengah situasi pelayanan yang sulit. Sepertinya Tuhan tidak menghendaki kita ada di situ. Tetapi, mana ada pelayanan yang selamanya mudah? Bahkan Tuhan Yesus sendiri pun mengalami banyak sekali penderitaan dalam pelayanan-Nya. Maka, penting bagi kita untuk selalu merenungkan ulang janji Tuhan. Ingat, Allah adalah Imanuel, yang selalu menyertai kita. Dia menyertai Gideon (ay. 12) dan para tokoh Alkitab lainnya. Percayalah bahwa Dia pun akan menyertai kita dan beranikan diri untuk melangkah! Amin.

REFLEKSI

Kita tidak selalu dapat melihat tangan Tuhan, namun kita selalu dapat memercayai hati-Nya (Charles Spurgeon)

PERTANYAAN

  1. Apakah orang yang “meminta tanda” berarti kurang mengenal Tuhan (kurang dewasa rohani)? Jelaskan.
  2. Apakah Anda pernah meminta tanda dari Tuhan? Jika pernah, apakah Tuhan memberinya dan mengapa Anda yakin itu berasal dari Tuhan?

REFERENSI

11 Kemudian datanglah Malaikat TUHAN dan duduk di bawah pohon tarbantin di Ofra, kepunyaan Yoas, orang Abiezer itu, sedang Gideon, anaknya, mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur agar tersembunyi bagi orang Midian. 12  Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” 13  Jawab Gideon kepada-Nya: “Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian.” 14  Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!” 15  Tetapi jawabnya kepada-Nya: “Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.” 16  Berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.” 17  Maka jawabnya kepada-Nya: “Jika sekiranya aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, maka berikanlah kepadaku tanda, bahwa Engkau sendirilah yang berfirman kepadaku. 18  Janganlah kiranya pergi dari sini, sampai aku datang kepada-Mu membawa persembahanku dan meletakkannya di hadapan-Mu.” Firman-Nya: “Aku akan tinggal, sampai engkau kembali.” 19  Masuklah Gideon ke dalam, lalu mengolah seekor anak kambing dan roti yang tidak beragi dari seefa tepung; ditaruhnya daging itu ke dalam bakul dan kuahnya ke dalam periuk, dibawanya itu kepada-Nya ke bawah pohon tarbantin, lalu disuguhkannya. 20  Berfirmanlah Malaikat Allah kepadanya: “Ambillah daging dan roti yang tidak beragi itu, letakkanlah ke atas batu ini, dan curahkan kuahnya.” Maka diperbuatnya demikian. 21  Dan Malaikat TUHAN mengulurkan tongkat yang ada di tangan-Nya; dengan ujungnya disinggung-Nya daging dan roti itu; maka timbullah api dari batu itu dan memakan habis daging dan roti itu. Kemudian hilanglah Malaikat TUHAN dari pandangannya. 22  Maka tahulah Gideon, bahwa itulah Malaikat TUHAN, lalu katanya: “Celakalah aku, Tuhanku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka.” 23  Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.” 24  Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu keselamatan. Mezbah itu masih ada sampai sekarang di Ofra, kota orang Abiezer. (Hak. 6:11-24)

Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. (Mat. 28:20b)

Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi. (Yos. 21:45)

BACA JUGA

https://www.gotquestions.org/signs-and-wonders.html

Related Post

Leave a Reply