Hana dan Pengharapan Adven (Luk. 2:36-38)

Print Friendly, PDF & Email

Sebagian gereja di kalangan Kristen Protestan mengenal empat Minggu menjelang Natal sebagai Minggu Adven (dari bahasa Latin adventus, yang artinya “datang”). Tradisi ini baik karena mengingatkan kita untuk tidak terlalu larut dalam pesta pora di akhir tahun, atau juga terlalu terpuruk karena hari-hari yang kelam di tahun ini. Mari belajar dari Hana dalam Injil Lukas.

WAWASAN DUNIA ALKITAB

Kisah seorang nabi perempuan bernama Hana ini dituliskan di awal Injil Lukas dalam rangkaian masa kelahiran dan kanak-kanak Yesus. Setelah disunat pada hari ke delapan, bayi Yesus diserahkan ke Bait Suci, seperti umumnya orang Israel. Lukas menceritakan ada dua saksi yang melihat peristiwa yang menggembirakan ini, yaitu Simeon dan Hana. Keduanya sudah berusia lanjut, tetapi memiliki pengharapan yang kokoh terhadap Mesias. Dan ketika yang dinantikan itu lahir, mereka sangat bergembira.

Apalagi Hana, yang sudah berumur 84 tahun dan hanya tujuh tahun menikmati hidup berumah tangga. Tetapi, kehidupannya yang pahit ini tidak membuatnya meninggalkan Tuhan. Sebaliknya, dia mendedikasikan seluruh sisa hidupnya untuk berbakti kepada Tuhan, berdoa, dan berpuasa.

Ketika pada akhirnya dia berkesempatan melihat Mesias, hatinya  meluap dengan ucapan syukur. Tidak hanya itu, dia juga menceritakan tentang Anak itu kepada semua orang. Inilah sukacita sejati, yang ditawarkan Allah kepada seisi dunia melalui Natal. Apakah kita memiliki sukacita semacam ini?

Ketika seseorang terlalu fokus pada hal-hal duniawi, maka kehadiran Tuhan  tidak lagi mendatangkan suka cita. Di dalam Injil Matius diceritakan Raja Herodes yang berusaha membunuh bayi Yesus. Lalu di kitab Kejadian, diceritakan bagaimana takutnya Adam dan Hawa ketika mendengar suara Tuhan. Kabar Baik tidak akan terasa baik ketika kita memiliki sikap hati dan pola hidup yang berlawanan dengan Kristus, sumber dari Kabar Baik itu.

APLIKASI MASA KINI

Mari kita renungkan, apa yang menjadi porsi terbesar pikiran kita di masa adven ini? Jangan-jangan, target perusahaan tahunan, rencana karir tahun depan, liburan akhir tahun, atau juga persiapan perayaan Natal di gereja, menggeser Kristus yang seharusnya menjadi pusat hidup kita. Jika pikiran kita terlalu fokus pada kenyamanan duniawi atau kepahitan hidup, jangan heran sukacita ilahi kurang kita rasakan.

Mari belajar seni menunggu dari Hana, yang mendedikasikan seluruh hidupnya menantikan kelahiran Mesias. Memang saat ini Mesias telah lahir. Tetapi, seperti makna kedua yang terkandung dalam kata ‘adven,’ kita masih menantikan Kristus yang pasti datang kembali. Mari persiapkan dengan memberi pujian kepada Tuhan, seperti yang dilakukan Hana.

Kita bisa mewujudkannya dengan mengucap syukur atas berkat-berkat yang Tuhan berikan setiap hari, jangan fokus pada masalah tetapi fokuslah pada anugerah Tuhan, nikmati waktu teduh bersama Tuhan, dan arahkan hidup kita kepada Tuhan (makin tua makin berhikmat). Niscaya, kita akan merasakan sukacita Natal yang adikodrati, jauh melampaui sukacita dunia ini. Amin.

REFLEKSI

Merayakan adven berarti mampu menunggu. Menunggu adalah sebuah seni yang terlupakan di era yang serba terburu-buru ini (Dietrich Bonhoeffer)

PERTANYAAN DISKUSI

1. Apa yang terjadi ketika seseorang tidak lagi memiliki pengharapan?

2. Daftarkan lagi harapan-harapan Anda di awal tahun. Apakah ada yang tidak terpenuhi? Periksalah kembali apakah semua harapan tersebut semakin mendekatkan diri Anda kepada Tuhan.

REFERENSI AYAT ALKITAB

36 Ada pula seorang nabi wanita yang sudah tua sekali. Namanya Hana, anak Fanuel, dari suku Asyer. Sesudah tujuh tahun kawin, 37 Hana menjadi janda, dan sekarang berumur delapan puluh empat tahun. Tidak pernah ia meninggalkan Rumah Tuhan. Siang malam ia berbakti di situ kepada Allah dengan berdoa dan berpuasa. 38 Tepat pada waktu itu juga ia datang, lalu memuji Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan saatnya Allah memerdekakan Yerusalem. (Luk. 2:36-38 BIMK)

BACA JUGA:

Adven: Pengharapan yang Hidup | Kekristenan Hari Ini (christianitytoday.com)

Related Post

Leave a Reply