Tanpa Kasih, Semua akan Percuma (1Kor. 12:31-13:7)

Photo by Jon Tyson on Unsplash

Print Friendly, PDF & Email

Selepas Pemilu tahun 2024 ini, ada beberapa berita unik yang muncul. Misalnya, tentang caleg yang menarik bantuan yang sudah diberikan karena gagal mendapatkan kursi. Saya bayangkan, ketika memberikan bantuan tersebut, mereka melakukannnya dengan wajah berseri. Mungkin tidak lupa juga foto sana-sini dan dipajang di medsos. Tetapi ketika kalah, mereka balik mengecam warga. Bahkan tidak malu-malu berbuat onar dan menarik bantuan yang terlanjur diberikan (baca di sini).

Peristiwa semacam ini adalah cerita klasik tentang kasih yang tidak duniawi. Kalau ada yang duniawi, seperti apakah kasih yang sesuai dengan Alkitab? Mari kita pelajari dari tulisan Paulus ini.

Kasih Melebihi Semua Karunia Rohani

Paulus menuliskan surat ini kepada jemaat Korintus, yang dimulai oleh pelayanannya. Tetapi mungkin karena sekian lama ditinggalkan Paulus, satu demi satu persoalan muncul di antara mereka. Misalnya, mereka saling bertikai karena menonjolkan karunia-karunia rohani tertentu. Padahal, kalau kita melihat daftarnya, maka kita pasti setuju jemaat di Korintus itu luar biasa (lihat daftarnya di 12:8-10). Tetapi ibarat sebuah orkestra, mereka berlomba membunyikan alat musik masing-masing dengan keras tanpa menuruti arahan Sang Dirigen.  Tentu saja, suara yang dihasilkan tidak enak didengar.

Itulah sebabnya Paulus menekankan bahwa mengharapkan karunia itu boleh, tetapi ada cara yang lebih baik lagi. Yaitu, semua penggunaan karunia tersebut harus dilandasi dengan kasih (ay. 31). Tanpa kasih, semuanya akan percuma (ay. 1-3), seperti para caleg yang saya singgung di awal tulisan ini.

Seperti Apakah Kasih Kristen Itu?

Lalu, seperti apakah kasih yang seharusnya kita nyatakan sebagai seorang Kristen? Di dalam ayat 4-7, Paulus menjelaskan beberapa natur kasih yang diinginkan Tuhan. Intinya, kasih bukan kasih yang berpusat pada diri sendiri dan penuh hawa nafsu (inward), tetapi berpusat pada kebaikan sesama dan bersifat kudus (outward).

Kasih yang seperti ini akan membuat kita tetap bisa mengasihi di situasi yang sulit (sabar, ay. 4), tidak menjadi tinggi hati (ay. 4, 5), tidak mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu (ay. 5), tidak menjadi sekutu dalam kejahatan (ay. 6), serta tidak mudah berputus asa dengan seseorang atau keadaan yang sulit kita kasihi (ay. 7). Kualitas kasih seperti ini telah berulang kali Alkitab tunjukkan sebagai natur Allah. Juga, merupakan kualitas kasih yang ditunjukkan oleh Kristus dalam pelayanannya di dunia.

Jadi, sebagai orang Kristen kita sebenarnya telah diajar oleh Allah sendiri bagaimana kita harus menyatakan kasih kepada orang lain. Seburuk apapun orang dan sesulit apapun situasinya, Tuhan menghendaki kita untuk menyatakan kasih kepadanya. Memang tidak selamanya mudah. Tetapi marilah kita ingat lagi bahwa kita tidak hanya menerima perintah untuk mengasihi. Tetapi juga, kita telah menerima kasih Allah yang luar biasa besar melalui penebusan Kristus, sehingga membuat kita selalu memiliki daya untuk memancarkan kasih. Amin.

REFLEKSI

Mengasihi adalah menginginkan kebaikan orang lain (Thomas Aquinas)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Berikan contoh kasus sehari-hari di sekitar Anda tentang perbuatan baik yang sebenarnya tidak dilandasi oleh kasih. Apa akibatnya baik bagi si penerima atau si pemberi?
  2. Bagikan pengalaman ketika Anda akhirnya bisa mengasihi orang yang tadinya sangat sulit untuk Anda kasihi.

REFERENSI AYAT ALKITAB

31 Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.

13 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. 2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. 4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. 6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. 7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (1Kor. 12:31-13:7)

Related Post

Leave a Reply