Mengasihi Walaupun Menyakitkan (1Yoh. 3:16-18)

Taken from telegraph.co.uk, credit photo: Rex Features

Print Friendly, PDF & Email

Agnes Gonxha Bojaxhiu, atau yang kita kenal sebagai Bunda Teresa, adalah seorang misionaris yang rela melepaskan semuanya untuk tinggal di wilayah termiskin di Kalkuta, India, dan melayani orang-orang di sana. Ada salah satu perkataannya yang sangat saya ingat, “Love until it hurts.” Artinya, kasihi orang lain sampai di titik itu menyakiti diri kita. Tidak hanya berteori, Bunda Teresa sungguh-sungguh menjalankan perkataannya ini.

Sumber: Internet

Misalnya, saya pernah melihat sebuah foto jari-jari kaki Bunda Teresa yang bengkok dan aneh. Rupanya, itu terjadi karena Bunda Teresa bertahun-tahun memakai sandal yang kekecilan. Setiap kali organisasinya mendapat bantuan sandal untuk orang-orang yang dilayaninya, Bunda Teresa selalu memilih paling akhir sehingga mendapat sandal sisa yang ukurannya tidak pas!

Apa yang dilakukan Bunda Teresa ini bagi sebagian di antara kita mungkin terasa ekstrim. Berat sekali dan mungkin hanya bisa dilakukan oleh mereka yang tarafnya di atas manusia normal. Tetapi sadarkah kita bahwa standar kasih seperti inilah yang Tuhan inginkan? Mari perhatikan bagian ini.  

WAWASAN DUNIA ALKITAB

Sebagian ahli berpendapat bahwa surat 1 Yohanes adalah perpanjangan dari Injil Yohanes. Keduanya ditulis oleh orang yang sama dan isinya pun sama-sama menekankan doktrin Tritunggal. Tetapi, Yohanes memberi satu penekanan praktis dalam surat ini. Salah satu bahwa sebuah gereja benar-benar memiliki relasi dengan Kristus adalah mereka mengasihi sesama.

Kasih yang diperintahkan Tuhan ini berbeda dengan kasih yang dipahami oleh kebanyakan orang di dunia ini. Bukan kasih yang sekadar perasaan, atau transaksi timbal balik. Bukan pula kasih yang kebablasan seperti seorang gadis yang rela memberikan kesuciannya kepada pacarnya sebelum menikah.

Yohanes mengajar jemaat untuk mengasihi dalam standar Allah. Seperti Kristus rela mati bagi mereka, maka mereka pun sudah selayaknya rela mati demi orang lain (ay. 16). Artinya, kasih menuntut pengorbanan atas hak milik kita. Harta (ay. 17), kepandaian, waktu (bahkan nyawa!), semuanya harus rela untuk kita berikan kepada orang-orang yang memerlukannya.

Selain itu, kasih itu harus diwujudkan dalam tindakan dan kebenaran (ay. 18). Kasih merupakan topik yang sering diulas di gereja manapun di dunia ini. Tetapi kalau orang-orang di dalamnya mati rasa dengan penderitaan sesama, itu percuma. Kasih juga harus terwujud di dalam pengenalan akan Kristus, yang adalah kebenaran (Yoh. 14:6). Bukan kasih yang berselimutkan dosa.

APLIKASI MASA KINI

Kualitas kasih seperti apakah yang kita tunjukkan kepada orang lain selama ini? Apakah kasih yang masih dibatasi oleh suasana hati kita atau sikap orang lain kepada kita? Marilah kita terus merenungkan kualitas kasih yang telah kita terima dari Kristus. Sehingga, kita bisa selalu memancarkan kasih kepada orang lain dengan cara yang berkenan kepada Allah. Amin.

REFLEKSI

Kasih adalah ratu dari segala kasih karunia Kristen (A.W. Pink)

PERTANYAAN

  1. Sebutkan beberapa contoh membagikan kasih dengan cara yang keliru. Apa akibatnya?
  2. Perhatikan orang-orang di sekitar kehidupan Anda saat ini. Bagikanlah kasih Anda dalam bentuk apapun kepada orang yang selama ini mungkin Anda abaikan/hindari.

REFERENSI AYAT ALKITAB

16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. 17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? 18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. (Yoh. 3:16-18)

Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh. 14:6)

Related Post

Leave a Reply