Hikmat Tuhan Memberi Ketenangan Hidup (Ams. 3:21-26)

Photo by Colton Sturgeon on Unsplash

Print Friendly, PDF & Email

Di dunia yang kompleks ini, orang berusaha keras untuk memperoleh ketenangan hidup. Lalu, tumbuh bisnis asuransi. Orang punya mobil belum tenang kalau belum diasuransikan. Muncul teknologi CCTV. Rumah ditinggal mudik, tenang karena bisa dipantau dari kampung. Banyak pula buku, akun sosmed, bahkan rohaniwan yang mengajarkan bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan tenang.

Tetapi apa masalahnya? Semuanya itu tidak ada yang 100% bisa diandalkan. Tidak sedikit perusahaan asuransi yang gagal bayar karena mismanajemen. CCTV bisa dimatikan, apalagi kalau pelaku kejahatannya orang yang tahu betul rumah kita. Kemudian, selalu saja ada orang atau situasi yang bisa mengacaukan suasana hati kita. Mungkin kita masih ingat seorang apologet Kristen ternama, yang seminar-seminar dan buku-bukunya sangat laris, tetapi setelah meninggal, terkuak kejahatan seksual yang selama ini tertutup rapat.

Orang yang mencari ketenangan di dalam dunia, atau berusaha mendapatkannya dari dirinya sendiri, maka dia tidak akan pernah mendapatkannya. Mengapa? Dunia ini sudah jatuh dalam dosa sehingga penderitaan dan kejahatanlah yang cenderung muncul. Hati kita pun tercemar oleh dosa (Yer. 17:9) dan kita masih ada dalam daging yang lemah (Mrk. 14:38), bagaimana mungkin kita mengandalkan diri yang seperti ini?

Tetapi Tuhan, Pencipta dunia ini dan yang juga pernah mengalami penderitaan duniawi, tidak membiarkan anak-anak-Nya untuk hidup tanpa pegangan dan begitu saja dikalahkan oleh dunia. Di dalam bagian ini, kita diajar untuk berpegang pada hikmat dan pertimbangan. Jangan sekali-kali melepaskannya. Artinya, pikiran dan hati kita harus senantiasa melekat padanya. Bukan malah melekat pada hal-hal yang semakin membuat kita rapuh.

Kitab Amsal digolongkan dalam kitab-kitab Hikmat dalam Alkitab. Hikmat memang umum di dunia Timur Dekat Kuno masa kitab ini ditulis. Ajaran-ajarannya pun banyak kemiripan, intinya tentang bagaimana seseorang bisa berkata-kata, berperilaku, dan memutuskan segala sesuatu dengan baik supaya hidupnya pun baik.

Tetapi, hikmat yang dipahami oleh bangsa Israel berbeda karena berasal dan berpusat pada Allah (Ams. 2:6). Jika ingin menjalani hidup yang baik, maka manusia harus menyelaraskan diri dengan Allah, karena segala sesuatu, termasuk juga berkat dalam kehidupan, berasal dari-Nya. Dengan hikmat Allah, kita bisa memiliki pertimbangan yang matang untuk memutuskan segala sesuatu (ay. 21).

Jadi, untuk memiliki hikmat, kita harus mendekat kepada Allah. Dia bukan pribadi yang jauh dengan kita. Kristus, Hikmat Allah yang menjadi manusia (1Kor. 1:24b), membuat kita bisa memahami hikmat Allah dan memiliki relasi yang nyata dengan Allah. Melalui hidup dan ajaran-Nya, maka kita akan tahu di dunia yang jahat ini hidup seperti apa yang diinginkan oleh Allah, yang telah menebus kita dengan harga yang sangat mahal. Kita tidak hanya tahu segala tipu muslihat dunia ini, tetapi juga tahu seberapa berkuasa Allah itu, yang ditunjukkan dengan kebangkitan dan penghakiman yang akan Kristus jalankan kelak. Hikmat Kristus akan membuat kita lebih bijak dibanding orang-orang dunia manapun (Mzm. 119:98-100).

Jika kita hidup melekat dengan hikmat dan pertimbangan seperti ini, niscaya kita akan memiliki ketenangan hidup. Apa yang membuat orang lain tersandung (ay. 23), tidak bisa  tidur (ay. 24), dan terkejut (ay. 25), tidak akan menggoyahkan kita karena kita bersandar pada sandaran yang jauh lebih berkuasa dibanding itu semua. Hidup yang bagi orang lain terlihat penuh liku dan membingungkan, bagi kita adalah hidup yang penuh dengan pimpinan dan berkat Tuhan. Amin.

REFLEKSI

Kita lebih aman di dalam badai yang Tuhan kirimkan dibanding ketika kita berada dalam ketenangan karena berteman dengan dunia. (Jeremy Taylor)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Pernahkah anda mendengar hikmat/nasihat dunia yang terlihat baik, namun sebenarnya bertentangan dengan hikmat Tuhan? Jelaskan dan bagaimana Alkitab menjawabnya?
  2. Ada orang yang bisa merasa tenang walaupun dia tidak mendekat kepada Tuhan. Bagaimana tanggapan Anda tentang fenomena ini?

REFERENSI AYAT ALKITAB

21 Sebab itu, berpeganglah pada hikmat dan pada pertimbangan yang matang, anakku! Jangan sekali-kali melepaskannya, 22 maka hidupmu akan terpelihara — indah dan menyenangkan. 23 Engkau akan berjalan dengan aman, dan tidak akan tersandung. 24 Engkau akan pergi tidur tanpa merasa takut, dan engkau tidur nyenyak sepanjang malam. 25 Tak perlu engkau takut akan bencana yang datang tiba-tiba seperti badai, dan melanda orang-orang jahat. 26 TUHAN akan menjaga engkau. Ia tidak akan membiarkan engkau terperosok ke dalam perangkap. (Ams. 3:21-26)

Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? (Yer. 17:9)

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah. (Mrk. 14:38)

  Karena TUHANlah yang memberikan hikmat,

                dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. (Ams. 2:6)

Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. (1Kor. 1:24b)

  98      Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku,

                sebab selama-lamanya itu ada padaku.

        99      Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku,

                sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.

        100      Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua,

                sebab aku memegang titah-titah-Mu. (Mzm. 119:98-100)

Related Post

Leave a Reply