Menjadi Teladan yang Hidup (1Tes. 1:2-10)

Photo by Szilvia Basso on Unsplash

Print Friendly, PDF & Email

Saat ini kita hidup di era perkembangan informasi dan AI yang begitu cepat. Kadang saya berpikir, jika orang bisa mengakses pengetahuan dengan mudah, apa yang diperlukan dari para pengkhotbah, guru Kristen, dan orang tua Kristen? Bagian ini mengajarkan bahwa keteladanan hidup adalah jawabannya. Tahu atau mengajarkan iman adalah hal yang benar. Tetapi bagaimana menghidupi iman di tengah tekanan, itu soal lain.

WAWASAN DUNIA ALKITAB

Dalam bagian ini, Paulus mengucap syukur atas apa yang terjadi pada jemaat di Tesalonika (ay. 2-5, satu kalimat dalam bahasa Yunaninya). Mereka dikatakan memiliki tiga kebajikan Kristen yang utama, yaitu iman, kasih, dan pengharapan (ay. 3). Padahal, mereka mengalami berbagai kesulitan dari orang-orang sekitar akibat menerima Injil yang diberitakan oleh Paulus dan rekan-rekan pelayanannya (ay. 6). Tetapi Roh Kudus bekerja di dalam hati mereka sehingga mereka bisa bersuka cita menghadapi penderitaan yang berat tersebut.

Menderita tetapi bersuka cita? Tentu ini sangat berlawanan dengan natur manusia. Apa yang ditampilkan oleh jemaat di Tesalonika ini kemudian menjadi pembicaraan orang. Tidak hanya di daerah Yunani, tempat banyak gereja bertumbuh saat itu. Tetapi, sampai ke mana-mana (ay. 8). Mereka merasa dikuatkan oleh teladan hidup jemaat di Tesalonika.

Paling tidak ada tiga aspek keteladanan hidup yang Paulus nyatakan (ay. 8-10, satu kalimat dalam bahasa aslinya). Pertama, berbalik kepada Tuhan (iman). Seperti halnya orang-orang di sekitar mereka waktu itu, jemaat di Tesalonika awalnya juga penyembah berhala. Namun setelah mendengar Injil, mereka mau meninggalkan berhala dan menyembah Tuhan. Kedua, melayani Tuhan (kasih). Setelah menjadi orang percaya, mereka mengabdikan hidup sepenuhnya untuk melayani Tuhan. Ketiga, menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali (pengharapan). Sebagai pengikut Kristus, mereka melihat segala sesuatu di dunia ini dalam cara pandang kekekalan. Karena itulah, hidup seperti Kristus, termasuk dalam kesengsaraan seperti yang Dia alami, menjadi prioritas.

APLIKASI MASA KINI

Walaupun mungkin tidak seberat yang dialami oleh jemaat di Tesalonika ini, identitas dan kehidupan kita sebagai orang Kristen juga bisa menimbulkan tekanan. Ingat, respons kita terhadap keadaan ini tidak hanya berdampak pada diri kita. Ada orang-orang di sekitar kita yang mengamati seperti apakah kualitas iman kita jika dihadapkan pada situasi yang berat.

Misalnya, ketika menghadapi sakit. Banyak orang yang ketika sakit berat menjadi tidak sabaran, bahkan kecewa kepada Tuhan. Tetapi beberapa kali saya menjumpai orang-orang yang dalam masa sakitnya pun, mereka masih tetap bisa bersyukur dan melayani Tuhan. Kesaksian hidup seperti ini sangat membekas di dalam benak saya.

Mari bersandarlah pada kuasa Roh Kudus supaya kita memiliki hikmat dalam pikiran, perkataan, dan tindakan kita. Dengan demikian, kita bisa menjadi saksi Kristus yang baik, yang kiranya dapat menuntun banyak orang menerima hidup kekal. Amin.

REFLEKSI

Dari semua tafsiran Alkitab yang ada, teladan yang baik adalah yang paling unggul  (John Donne)

DOA

Tuhan, bentuklah hati kami supaya mau dan mampu untuk mengikuti teladan-Mu, termasuk ketika mengalami penderitaan akibat iman kami. Perbarui hati kami senantiasa sehingga dapat menjadi kesaksian yang baik bagi orang-orang di sekitar kami.

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Ada sebagian orang Kristen yang terlalu menekankan aksi sosial tetapi mengabaikan proklamasi Injil, atau sebaliknya. Bagaimana tanggapan Anda?
  2. Apa yang dapat Anda lakukan secara praktis untuk mewujudkan iman, kasih, dan pengharapan di dalam kehidupan Anda sehari-hari?

REFERENSI

2 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. 3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita. 4 Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu. 5 Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. 6 Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus,  7 sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. 8 Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. 9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, 10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang. (1Tes. 1:2-10)

PENGGALIAN ALKITAB

Rekonstruksi kehidupan iman jemaat di Tesalonika:

1. Mereka awalnya adalah penyembah berhala (ay. 9).

2. Paulus dan rekan-rekan pelayanan datang memberitakan Injil (ay. 5).

3. Jemaat di Tesalonika menjadi orang percaya karena mereka adalah orang pilihan (ay. 4).

4. Karena iman itu, orang-orang di sekitar menindas mereka (ay. 6).

5. Roh Kudus menguatkan sehingga mereka bisa menghadapinya dengan sukacita (ay. 6).

6. Teladan hidup mereka tersebar luas dan menguatkan orang-orang percaya lainnya (ay. 7-9).

Bagaimana dengan kehidupan iman kita? Banyak orang Kristen yang kepercayaannya mulai pudar menghadapi berbagai kesulitan hidup akibat taat pada Tuhan. Contoh tantangan: memutuskan pacar yang beda iman, keluar dari pekerjaan yang tidak mendekatkan diri pada Tuhan, atau bertekun dalam menghadapi kesulitan ekonomi dan kesehatan jangka panjang.

Ingatlah ada kuasa Roh Kudus di dalam hidup kita. Allah yang mau memilih kita pasti akan menguatkan kita di dalam setiap pencobaan iman. Bersandarlah padanya sehingga kita dapat menjadi teladan iman bagi banyak orang.

  • Iman, kasih, dan pengharapan (ay. 3). Iman adalah respons terhadap apa yang telah Allah lakukan melalui pengurbanan Kristus. Dengan iman, kita bersandar pada Allah. Kasih adalah respons terhadap apa yang sedang Allah lakukan melalui penyertaan-Nya. Dengan kasih, kita mengungkapkan syukur atas pulihnya relasi dengan Allah. Pengharapan adalah respons terhadap apa yang akan Allah lakukan dengan kedatangan Kristus kedua kalinya. Dengan pengharapan, kita terus bertahan untuk hidup menurut kehendak Allah karena akan ada Penghakiman akhir ketika Kristus datang kedua kalinya.

Ketiga aspek ini diperjelas lagi pada ayat 9. “Berbalik dari berhala-berhala kepada Allah.” Artinya, ada pembalikan total (180 derajat) dengan menolak menyembah berhala untuk menjadi penyembah Tuhan. “Melayani Allah yang hidup dan yang benar.” Artinya, taat dan menyembah Allah yang sungguh ada dan memberi kehidupan. “Menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga.” Kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya dituliskan pada bagian akhir dari surat ini (4:13-5:11).

Apakah orang-orang di sekitar kita tahu dengan jelas:

1. Perbedaan cara hidup kita setelah menjadi orang Kristen? Sukacita kita ketika menjadi orang Kristen? Mungkin orang mengenal kita sebagai orang Kristen dari kecil. Tetapi, tetap saja harus ada pertumbuhan karakter/kematangan iman hari demi hari yang terlihat.

2. Kualitas kasih kita sebagai orang Kristen? Pengampunan yang besar dari Allah seharusnya menjadikan orang Kristen mengasihi dengan kadar yang jauh lebih unggul dibanding orang dunia.

3. Pengharapan kita sebagai orang Kristen? Orang perlu dicelikkan mata hatinya bahwa dunia ini sementara, ada kehidupan kekal yang menanti orang-orang percaya. Itulah yang menyebabkan orang percaya bisa hidup benar dan sabar menanggung penderitaan.

Penurut (ay. 6). Dalam bahasa Yunaninya menyatakan hubungan antara seorang murid dengan gurunya. Dalam budaya waktu itu belum dikenal model belajar seperti sekolah masa kini yang terbatas waktunya. Seorang guru pada waktu itu berbagi cara hidup dengan murid-murid-Nya (sharing a way of life). Jadi, jemaat di Tesalonika hidup sebagaimana Paulus dan Tuhan Yesus hidup. Secara khusus, meneladani penderitaan yang Tuhan Yesus dan para rasul alami (penderitaan merupakan salah satu aspek pemuridan, mis. Mat. 8:18–22; 10:22–25; Mrk. 8:34; Yoh. 15:18–21; 16:33; Acts 9:15–16; 14:21–22).

Marilah kita juga tidak belajar firman Tuhan sebatas pengetahuan, tetapi juga menghidupi firman Tuhan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Mintalah kekuatan Roh Kudus karena tanpa-Nya, kita tidak akan mampu melakukannya.

  • Teladan (ay. 7). Teladan/model (typos)bisa berarti contoh yang akan menjadi pola pembuatan perkakas selanjutnya, atau pahatan/lukisan yang menggambarkan orangnya (termasuk karakternya). Keteguhaniman jemaatTesalonika tidak hanya menyelamatkan diri mereka, tetapi juga menjadi teladan bagi orang lain. Makedonia dan Akhaya (ay. 8) adalah dua provinsi yang membentuk Yunani. Di daerah situ banyak gereja baru yang bertumbuh dan Paulus juga merintis beberapa di antaranya. Rupanya, reputasi jemaat Tesalonika tersebar luas. Tidak hanya di daerah Yunani, tetapi juga sampai ke mana-mana (ay. 8).

Ketika menghadapi pergumulan iman, ingatlah bahwa respons kita akan dilihat dan berpengaruh kepada orang lain juga. Hal ini harus menjadi perhatian juga bagi para orang tua Kristen. Ada sebuah kutipan yang mengatakan, “Anak-anak bisa gagal mengikuti nasihat kita, tetapi tidak akan gagal menuruti teladan kita.”Teladan, apalagi hal-hal buruk, mudah menular. Mintalah kekuatan pada Roh Kudus supaya kita dimampukan untuk menjadi saksi Kristus yang setia.

Apakah Gereja kita juga menjadi saksi di tengah dunia ini? Injil jangan berhenti hanya di dalam tembok gereja, tetapi harus memancar keluar seperti perintah Tuhan bagi kita untuk menjadi saksi-Nya sampai ke ujung dunia.

Related Post

Leave a Reply