Waspadalah Terhadap Kepalsuan Rohani (Mat. 27:3-10)

Ada pepatah yang mengatakan “to err is human.” Artinya, berbuat salah adalah manusiawi. Ada kesalahan yang konsekuensinya ringan, ada pula yang konsekuensinya berat. Tetapi ada satu kesalahan yang tidak ada obatnya, yaitu menolak Kristus, karena dampaknya kekal. Oleh sebab itu, sangat penting untuk menguji apakah kita adalah benar-benar pengikut Kristus. Kita akan belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh Yudas Iskariot.

Apa Maksud Tuhan Melakukan Mukjizat? (Kis. 3:1-10)

Mukjizat, kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh akal manusia, merupakan sebuah fenomena yang sangat sering muncul di dalam Alkitab. Sampai sekarang pun, masih banyak orang Kristen yang mengharapkan atau mengagung-agungkan mukjizat. Bahkan banyak pengkhotbah yang menjadikan mukjizat sebagai daya tarik utama ketika melakukan KKR. Apa sebenarnya maksud Tuhan dengan melakukan mukjizat?

Lebih Manis Dari Madu (Mzm. 119:97-104)

Ada tradisi orang-orang Yahudi bagi anak-anak yang pertama kali masuk sekolah dan belajar Taurat. Mereka menjilat madu yang dioles pada abjad Ibrani. Tradisi ini dilakukan untuk mengingatkan mereka bahwa Taurat Tuhan lebih manis dibanding madu (Mzm. 119:103). Mengapa bisa demikian? Bukankah dengan adanya Taurat Tuhan, kehidupan kita malah terkekang?

Kekudusan dalam Beribadah (Mzm. 15)

Sudah setahun lebih pandemi Covid-19 terjadi. Fenomena yang paling menonjol dalam dunia Kekristenan, yaitu ibadah online,menyingkapkan banyak hal. Misalnya, ketika ibadah normal, kita tentu terbiasa mempersiapkan diri sebelum pergi ke gereja (termasuk dalam hal berpakaian). Apakah persiapan yang sama juga kita lakukan ketika beribadah secara online? Apakah kita masih merasakan kekudusan Tuhan atau tidak, akan menentukan apa yang kita lakukan selama beribadah online (yang hanya diikuti keluarga inti saja)

Hidup yang Mengandalkan Tuhan (Yer. 17:5-8)

Kesombongan merupakan awal kehancuran. Inilah yang dialami oleh bangsa Yehuda. Mereka merasa aman karena berkoalisi dengan sekutu-sekutunya dan menyembah allah-allah asing. Akibatnya, mereka mengalami masa yang berat dengan dibuang ke Babel. Hukuman itu diberikan oleh Tuhan untuk menghancurkan kepercayaan diri bangsa Yehuda yang terlalu tinggi dan membuat mereka bertobat (29:11-13). Hidup susah di pembuangan menyadarkan mereka untuk kembali mengandalkan Tuhan, satu-satunya Allah yang berdaulat.

Pengharapan Tidak Hilang, Asal Kita Tidak Salah Mencari (Luk. 24:1-8)

Di tengah himpitan persoalan hidup yang melanda, pengharapan merupakan sebuah kekuatan yang memampukan seseorang untuk tetap bertahan. Ketika seseorang sudah kehilangan pengharapan, maka dia bisa melakukan tindakan yang nekat dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang-orang Kristen sesungguhnya adalah orang-orang yang memiliki pengharapan yang kuat di dalam jaminan Tuhan (Rm. 15:13). Sayangnya, tidak sedikit orang Kristen yang hidup tanpa pengharapan sehingga kalah oleh keadaan.